Riset LinkedIn: Gen Z dan Milenial Kuasai Pekerjaan AI Bergaji Tinggi

- Riset LinkedIn menunjukkan Gen Z menyumbang lebih dari dua pertiga perekrutan forward deployed engineer dan AI engineer, dengan median gaji tahunan sekitar US$199.000 dan US$166.000.
- Milenial mengisi sekitar 60% perekrutan baru head of AI, bergaji median US$236.000 per tahun; secara umum, median gaji pekerjaan AI US$177.000, lebih dari dua kali pekerjaan non-AI.
- Peluang AI belum merata: perempuan hanya mencakup 26% perekrutan AI pada 2025. Pendidikan teknis, kemampuan mengolah data, serta portofolio proyek menjadi modal penting memasuki bidang ini.
Kalau selama ini kamu sering mendengar bahwa Gen Z sedang kesulitan mendapatkan pekerjaan, riset terbaru LinkedIn menunjukkan ada sisi lain yang cukup menarik. Di tengah pasar kerja yang penuh tantangan, anak muda justru terlihat cukup kuat di sejumlah pekerjaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI.
Bahkan, beberapa posisi AI menawarkan gaji tahunan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pekerjaan non-AI. Kondisi ini membuat bidang AI menjadi salah satu peluang karier yang patut diperhatikan oleh generasi muda. Lantas, seperti apa sebenarnya temuan LinkedIn mengenai Gen Z dan milenial di dunia kerja AI?
1. Gen Z mendominasi sejumlah pekerjaan AI

ilustrasi AI, teamwork, meeting, suasana kantor, rekan kerja (vecteezy.com/Erwin Pieloor) Dalam risetnya, LinkedIn menganalisis data di platform mereka untuk menemukan 12 pekerjaan AI yang pertumbuhannya paling cepat. Pekerjaan yang dimaksud berfokus pada peran engineering AI dan posisi yang berkaitan dengan pembangunan teknologi AI. Hasilnya cukup menarik karena Gen Z menjadi kelompok yang sangat menonjol dalam sejumlah posisi tersebut. Ini menunjukkan bahwa usia muda ternyata bukan selalu menjadi hambatan ketika kamu masuk ke bidang yang sedang berkembang pesat.
Gen Z menyumbang lebih dari dua pertiga perekrutan untuk posisi forward deployed engineer dan AI engineer. Menurut data LinkedIn, kedua posisi tersebut memiliki median gaji tahunan masing-masing sekitar US$199.000 dan US$166.000. Jika dikonversikan secara kasar dengan kurs Rp16.000 per dolar AS, nominal tersebut setara sekitar Rp3,18 miliar dan Rp2,66 miliar per tahun. Angka ini tentu menunjukkan bahwa keahlian AI bisa membuka peluang penghasilan yang sangat besar sejak usia relatif muda.
2. Milenial banyak mengisi posisi AI senior

ilustrasi pengguna AI, pebisnis, entrepreneur (magnific.com/wavebreakmedia_micro) Bukan hanya Gen Z yang mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan pekerjaan AI, lho. Milenial juga terlihat kuat, terutama ketika masuk ke posisi yang lebih senior dan memiliki tanggung jawab besar dalam perusahaan. LinkedIn menemukan bahwa milenial menyumbang sekitar 60 persen dari perekrutan baru untuk posisi head of AI. Posisi tersebut memiliki median gaji tahunan sekitar 236 ribu atau sekitar Rp3,78 miliar.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa peluang di bidang AI gak hanya terbuka untuk kamu yang baru memulai karier. Kalau sudah memiliki pengalaman dan kemampuan yang relevan, bidang ini juga bisa menjadi jalan menuju posisi kepemimpinan. Kory Kantenga, Head of Economics, Americas di LinkedIn, menilai sebagian pekerja muda berhasil memanfaatkan momentum pertumbuhan AI untuk mendapatkan gaji tinggi sekaligus bergerak menuju posisi leadership. Karena itu, peluang yang sedang terbuka saat ini bisa menjadi kesempatan untuk membangun karier jangka panjang.
3. Pekerjaan AI menawarkan gaji jauh lebih tinggi

ilustrasi senang punya banyak uang (pexels.com/Kaboompics.com) Salah satu alasan pekerjaan AI begitu menarik tentu saja karena bayarannya yang relatif tinggi. Berdasarkan analisis LinkedIn terhadap data gaji dalam lowongan pekerjaan, median gaji untuk pekerjaan AI mencapai sekitar US$177.000 atau kurang lebih Rp2,83 miliar per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan median gaji pekerjaan non-AI yang berada di sekitar US$80.000 atau sekitar Rp1,28 miliar per tahun. Perbedaannya cukup besar sehingga wajar jika semakin banyak orang tertarik mengejar karier di bidang ini.
Kantenga menjelaskan bahwa banyak perusahaan mengeluarkan dana besar untuk pengembangan AI sehingga mereka perlu menawarkan kompensasi tinggi demi menarik tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan. Namun, gaji tinggi tersebut juga berkaitan dengan tuntutan pendidikan dan keahlian yang lebih tinggi. LinkedIn mencatat sekitar 91% pekerja di pekerjaan AI memiliki gelar sarjana atau pendidikan yang lebih tinggi. Pada posisi head of AI, hampir setengah pekerja yang direkrut memiliki gelar pascasarjana dan sekitar 20% memiliki gelar doktor.
4. Pertumbuhan AI belum dirasakan semua orang

ilustrasi AI (vecteezy.com/Kantima Pakdee) Walaupun peluangnya besar, perkembangan pekerjaan AI ternyata belum memberikan manfaat yang sama bagi semua kelompok. Salah satu kesenjangan yang terlihat adalah dari sisi gender karena perempuan masih jauh lebih sedikit dalam perekrutan pekerjaan AI. Data LinkedIn menunjukkan perempuan hanya mencakup 26% perekrutan untuk pekerjaan AI pada 2025. Sebagai perbandingan, perempuan menyumbang sekitar 50% perekrutan di pekerjaan non-AI.
Kesenjangan tersebut semakin terlihat pada posisi dengan bayaran tinggi dan tingkat senioritas lebih besar. Perempuan hanya mencakup sekitar 20% perekrutan untuk head of AI, 26% untuk director of AI, dan 18% untuk member of technical staff atau MOTS. Menurut Kantenga, perempuan masih kurang terwakili di setiap jenjang senioritas dalam perusahaan AI. Jadi, pertumbuhan industri AI memang membuka peluang besar, tapi masih ada pekerjaan rumah agar manfaatnya bisa dirasakan secara lebih merata.
5. Skill dan pengalaman bisa jadi modal masuk dunia AI

ilustrasi pria sedang bekerja (pexels.com/cottonbro studio) Kalau kamu tertarik mengejar karier di bidang AI, pendidikan dan kemampuan teknis menjadi salah satu modal penting. Kantenga merekomendasikan ilmu komputer sebagai salah satu jalur pendidikan yang dapat membantumu mendapatkan pekerjaan AI di level awal. Meski lulusan ilmu komputer juga menghadapi tantangan di pasar kerja, bidang tersebut tetap dinilai relevan untuk memasuki pekerjaan AI. Jadi, punya dasar teknis yang kuat masih menjadi nilai tambah ketika perusahaan mencari kandidat.
Namun, gelar saja belum tentu cukup untuk membuatmu menonjol di antara pelamar lainnya. Kantenga juga menyarankan agar kamu memiliki pengalaman bekerja dengan data dan memahami cara menyiapkan serta menggunakannya secara efektif. Kalau belum punya pengalaman kerja, proyek AI yang dikerjakan secara mandiri bisa digunakan untuk membangun portofolio. Dengan begitu, kamu gak cuma menunjukkan bahwa memahami teori, tapi juga bisa memperlihatkan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam sebuah proyek nyata.
Riset LinkedIn menunjukkan bahwa perkembangan AI sedang menciptakan peluang menarik bagi Gen Z dan milenial. Di satu sisi, Gen Z berhasil mendominasi sejumlah pekerjaan AI dengan bayaran tinggi, sementara milenial cukup kuat di posisi AI yang lebih senior. Di sisi lain, pertumbuhan ini juga memperlihatkan adanya kesenjangan pendidikan dan gender yang masih perlu diperhatikan.
Kalau kamu ingin masuk ke bidang ini, peluangnya memang cukup menjanjikan, tapi tetap membutuhkan persiapan. Menguasai teknologi, memahami data, membangun pengalaman, dan memiliki portofolio bisa menjadi langkah awal yang masuk akal. Dunia kerja AI masih terus berkembang, sehingga kemampuan untuk terus belajar juga penting agar kamu gak hanya ikut tren, tapi mampu bertahan ketika kebutuhan industri berubah.




















