Wacana Merger PTPP-ADHI Berlanjut, Siapa yang Jadi Induk?

- Wacana merger PTPP dan ADHI dalam konsolidasi BUMN karya dari tujuh menjadi tiga perusahaan masih berjalan, tetapi konsepnya disebut masih dapat berubah.
- Belum ada keputusan mengenai perusahaan induk atau surviving entity. PTPP kini memprioritaskan restrukturisasi bersama Himbara yang telah mencapai sekitar 70-80 persen.
- PTPP akan menggelar RUPSLB pada 15 September 2026 untuk persetujuan restrukturisasi dan pinjaman. Semester I-2026, laba naik 196,51 persen menjadi Rp193,47 miliar, sementara pendapatan turun 11,2 persen.
Jakarta, IDN Times - Proses merger BUMN sektor karya untuk memangkas tujuh perusahaan menjadi tiga perusahaan masih berlanjut.
Salah satu skema awal yang diwacanakan adalah merger PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).
Direktur Utama PTPP, Novel Arsyad mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan dari wacana tersebut.
“Ya, kalau saat ini kan ini rencana jadikan tiga. Sampai dengan saat ini konsepnya adalah PP dengan ADHI. Tapi itu bisa saja di perjalanan berubah kan mungkin-mungkin saja. Kalau ditanya sampai dengan saat ini, ya itu,” kata Novel saat ditemui di Danantara Housing Expo 2026, yang dikutip pada Jumat, (28/8/2026).
1. Belum ditetapkan siapa yang jadi induk

Kantor Pusat PT PP (ptpp.co.id) Novel mengatakan, tahapan lebih lanjutnya belum diputuskan, terutama terkait siapa yang akan menjadi induk atau siapa yang bertindak sebagai surviving entity.
“Itu proses yang berjalan. Yang tujuan ke sananya yang itu yang diharapkan bisa selesai,” ujar Novel.
2. Masih fokus restrukturisasi untuk penyehatan perusahaan

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria memanggil Direksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) untuk membahas proses merger. (dok. BP BUMN) Novel mengatakan, saat ini PTPP masih fokus menyelesaikan proses restrukturisasi untuk penyehatan kinerja perseroan. Hal ini juga yang menjadi fokus pembahasan saat rapat terakhir dengan Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria pekan lalu.
Novel mengatakan, restrukturisasi dilakukan dengan Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara). Saat ini, perkembangannya sudah mencapai 70-80 persen.
“Mungkin sudah sekitar 70-80 persen. Insyaallah dalam waktu dekat (selesai restrukturisasinya),” tutur Novel.
3. PTPP gelar RUPSLB buat persetujuan restrukturisasi

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria memanggil Direksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) untuk membahas proses merger. (dok. BP BUMN) Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PTPP akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 September 2026 mendatang.
Mata acara yang dibahas adalah persetujuan atas usulan restrukturisasi dalam rangka penyehatan Perseroan.
Kemudian juga persetujuan atas penerimaan pinjaman bank dan/atau non-bank jangka menengah/panjang sebagai salah satu upaya restrukturisasi dalam rangka penyehatan Perseroan.
4. Laba PTPP naik drastis, tapi pendapatan turun

Portofolio proyek yang dikerjakan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP). (dok. PTPP) Pada semester I-2026, PTPP mencatatkan laba Rp193,47 miliar, naik 196,51 persen jika dibandingkan dengan capaian pada semester I-2025 yang tercatat sebesar Rp65,25 miliar.
Meski laba meningkat, pendapatan usaha PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp5,96 triliun, turun sebesar 11,2 persen dari periode semester I-2025 yang mencapai Rp6,71 triliun.
Padahal, beban pokok pendapatan perseroan melandai sebesar 10,2 persen menjadi Rp5,2 triliun pada semester I-2026, dibandingkan posisi semester I-2025 yang berada di angka Rp5,79 triliun.
Total liabilitas PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp38,99 triliun, naik tipis 0,79 persen dari semester II-2025 yang sebesar Rp38,68 triliun.
Kenaikan liabilitas itu didorong oleh liabilitas jangka panjang yang terkerek 9,97 persen dari Rp19,23 triliun pada 31 Desember 2025, menjadi Rp21,15 triliun per 30 Juni 2026. Sementara itu, liabilitas jangka pendek perseroan justru turun sebesar 8,28 persen dari Rp19,45 triliun pada akhir 2025, menjadi Rp17,84 triliun pada semester I-2026.
Di sisi lain, ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp43,36 triliun pada semester I-2026, tumbuh 0,87 persen dibandingkan 31 Desember 2025 yang senilai Rp42,98 triliun.
Posisi kas dan setara kas perseroan mengalami penurunan sebesar 59,55 persen dari Rp2,89 triliun pada semester II-2025 menjadi Rp1,17 triliun pada semester I-2026.
Adapun total aset PTPP pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp43,36 triliun, mengalami peningkatan sebesar 0,87 persen dari pencapaian akhir 2025 yang sebesar Rp42,98 triliun.

















