Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kurs Rupiah Diprediksi Sentuh Rp18 Ribu per Dolar AS Hari Ini
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah terus melemah hingga Rp17.845 per dolar AS dan diprediksi bisa tembus Rp18.000 akibat tekanan eksternal dan internal.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan AS ke Iran dan ancaman konflik lanjutan, mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.
  • Konflik Rusia-Ukraina yang makin panas memperkuat posisi dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan hingga Kamis (28/5/2026). Kurs rupiah parkir pada level Rp17.845 pada penutupan perdagangan kemarin dan diproyeksi kembali melemah pada perdagangan Jumat (29/5/2026).

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, bahkan menyebut kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini bisa mencapai Rp18.000.

"Ada kemungkinan ya pembukaan pasar di Jumat, rupiah ini akan mendekati level Rp18.000. Kemungkinan besar, apa yang mempengaruhi baik dari eksternal maupun internal ini sangat mendukung sekali pelemahan mata uang rupiah," kata Ibrahim.

1. Peningkatan tensi geopolitik

Kapal perang Amerika Serikat sedang berlayar di Selat Hormuz. (flickr.com/Official U.S. Navy via commons.wikimedia.org/Official U.S. Navy)

Peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur jadi penyebab eksternal pelemahan rupiah. Ibrahim menilai konflik yang makin memanas membuat pelaku pasar beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Menurut Ibrahim, situasi di Timur Tengah kini semakin mengkhawatirkan setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap instalasi militer di Iran Selatan. Kondisi itu diperparah dengan ancaman balasan dari Iran yang berpotensi memperluas konflik di kawasan.

"Geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, dengan Amerika melakukan penyerangan terhadap instalasi yang ada di Iran Selatan. Kemungkinan besar akan mendapat balasan setimpal dari pasukan Iran," ujar Ibrahim.

2. Konflik Timur Tengah bikin pasar global waswas

ilustrasi konflik di Timur Tengah (pexels.com/Ahmed akacha)

Ibrahim juga menyoroti pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang disebut mengancam Oman. Padahal, Oman selama ini dikenal sebagai negara mediator perdamaian antara Iran dan AS.

Menurut Ibrahim, AS juga disebut sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran. Bahkan, kapal-kapal perang AS dilaporkan sudah berada di Israel untuk memperkuat posisi menghadapi potensi konflik lanjutan.

"Artinya, kemungkinan besar jeda waktu gencatan senjata ini akan digunakan Amerika dan Israel untuk memperkuat posisinya untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran," kata dia.

3. Ketegangan Rusia-Ukraina ikut dorong dolar AS

Warga sedang melakukan demonstrasi untuk mendesak Rusia berhenti menyerang Ukraina. (pexels.com/Sima Ghaffarzadeh)

Bukan hanya Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga dinilai memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Ibrahim menyebut serangan besar Rusia ke Kiev membuat tensi geopolitik Eropa Timur meningkat tajam.

"Kiev sudah hancur lebur oleh serangan Rusia. Ukraina meminta bantuan Amerika untuk misil Patriot dan NATO untuk misil-misil canggih guna melawan Rusia," ujar Ibrahim.

Situasi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke dolar AS yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global. Dampaknya, mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah.

Ibrahim menilai kombinasi konflik Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi faktor utama meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Editorial Team

Related Article