Laporan OECD: Kesenjangan Gaji Eropa Masih Sangat Mengkhawatirkan

- Laporan OECD 2026 menyoroti kesenjangan besar gaji di Eropa, dengan selisih pendapatan tahunan antarnegara mencapai lebih dari 88 ribu euro atau sekitar Rp1,5 miliar.
- Swiss mencatat rata-rata gaji tertinggi di Eropa sebesar 107.487 euro per tahun, sementara negara-negara Eropa Timur dan Selatan masih berada di bawah 30 ribu euro.
- Perbedaan produktivitas, struktur ekonomi, kekuatan serikat pekerja, serta biaya hidup menjadi faktor utama yang membentuk ketimpangan upah antarnegara di kawasan Eropa.
Banyak orang memandang Eropa sebagai kawasan dengan tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi. Namun, di balik citra tersebut masih terdapat kesenjangan pendapatan yang cukup lebar antarnegara.
Data terbaru dari OECD dalam laporan Taxing Wages 2026 menunjukkan bahwa rata-rata gaji pekerja di berbagai negara Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Bahkan, selisih pendapatan tahunan antara negara dengan gaji tertinggi dan terendah mencapai lebih dari 88 ribu euro. Jika dikonversikan ke rupiah, perbedaannya bisa mencapai lebih dari Rp1,5 miliar per tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesempatan ekonomi dan daya beli pekerja di Eropa belum merata meskipun berada dalam satu kawasan yang sama. Karena itu, memahami perbedaan tingkat gaji dan biaya hidup di setiap negara menjadi hal penting sebelum kamu memutuskan untuk bekerja atau membangun karier di Eropa.
1. Swiss masih menjadi juara gaji tertinggi di Eropa

Berdasarkan data OECD, Swiss menjadi negara dengan rata-rata gaji bruto tahunan tertinggi di Eropa pada 2025, yaitu 107.487 euro atau sekitar Rp1,9 miliar per tahun. Angka tersebut menjadikan Swiss sebagai satu-satunya negara Eropa yang mampu menembus batas 100 ribu euro per tahun. Posisi berikutnya ditempati Islandia dengan 85.950 euro atau sekitar Rp1,5 miliar, disusul Luksemburg dengan 77.844 euro atau sekitar Rp1,4 miliar per tahun.
Negara-negara Eropa Utara dan Barat mendominasi kelompok teratas dalam daftar tersebut. Denmark mencatat rata-rata gaji 71.961 euro atau sekitar Rp1,28 miliar per tahun, sedangkan Belanda mencapai 69.028 euro atau sekitar Rp1,23 miliar. Tingginya pendapatan di negara-negara tersebut umumnya didorong oleh sektor ekonomi bernilai tambah tinggi seperti teknologi, jasa keuangan, dan layanan bisnis profesional yang menghasilkan produktivitas besar.
2. Banyak negara Eropa masih berada di bawah Rp550 juta per tahun

Di sisi lain, masih banyak negara Eropa yang memiliki tingkat upah jauh lebih rendah. Slovakia menjadi negara anggota Uni Eropa dengan rata-rata gaji tahunan terendah, yakni 19.590 euro atau sekitar Rp349 juta per tahun. Hungaria, Latvia, Ceko, Portugal, dan Polandia juga mencatat rata-rata gaji di bawah 25 ribu euro atau kurang dari sekitar Rp445 juta per tahun.
Secara keseluruhan, sembilan dari 22 negara Uni Eropa yang masuk dalam laporan OECD memiliki rata-rata gaji di bawah 30 ribu euro atau sekitar Rp534 juta per tahun. Estonia, Yunani, dan Lithuania memang berada sedikit di atas angka 25 ribu euro, tapi masih belum mampu menembus batas 30 ribu euro. Fakta ini memperlihatkan bahwa pekerja di sejumlah negara Eropa Timur dan Selatan masih menghadapi tingkat pendapatan yang jauh tertinggal dibandingkan rekan-rekan mereka di Eropa Barat dan Utara.
3. Ekonomi besar Eropa ternyata gak memiliki standar gaji yang sama

Perbedaan gaji juga terlihat jelas di antara negara-negara dengan ekonomi terbesar di Eropa. Jerman mencatat rata-rata gaji 66.700 euro atau sekitar Rp1,19 miliar per tahun. Inggris berada gak jauh di belakang dengan 65.340 euro atau sekitar Rp1,16 miliar per tahun.
Sementara itu, Prancis hanya mencapai 45.964 euro atau sekitar Rp818 juta per tahun. Italia berada di angka 36.594 euro atau sekitar Rp651 juta, sedangkan Spanyol mencatat 32.678 euro atau sekitar Rp582 juta per tahun. Dengan kata lain, rata-rata pendapatan pekerja di Jerman dan Inggris lebih dari dua kali lipat dibandingkan Spanyol. Kondisi ini menunjukkan bahwa ukuran ekonomi yang besar tidak otomatis menghasilkan tingkat upah yang setara di seluruh negara Eropa.
4. Produktivitas dan struktur ekonomi menjadi penentu utama

Menurut para ahli dari International Labour Organization (ILO) yang diwawancarai Euronews Business, perbedaan gaji di Eropa dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu produktivitas, struktur ekonomi, dan institusi pasar tenaga kerja. Negara yang memiliki sektor teknologi maju, industri bernilai tambah tinggi, atau pusat keuangan internasional biasanya mampu membayar pekerja dengan upah lebih besar.
Keberadaan serikat pekerja yang kuat dan sistem perundingan upah kolektif juga berperan penting dalam menentukan besaran pendapatan pekerja. Selain itu, biaya hidup yang tinggi sering kali mendorong perusahaan menawarkan gaji lebih besar agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Kombinasi berbagai faktor tersebut akhirnya menciptakan perbedaan tingkat pendapatan yang cukup besar antarnegara.
5. Daya beli membuat kesenjangan terlihat sedikit lebih kecil

Jika hanya melihat nominal gaji, kesenjangan antarnegara Eropa tampak sangat ekstrem. Namun, ketika dihitung menggunakan Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli, jarak tersebut menjadi sedikit lebih sempit. Metode ini memperhitungkan perbedaan harga barang dan jasa sehingga kemampuan membeli masyarakat dapat dibandingkan dengan lebih adil.
Dalam perhitungan PPP, Swiss tetap berada di posisi pertama dengan skor 106.532. Jerman naik menjadi salah satu negara dengan daya beli upah tertinggi, sementara Turki mengalami lonjakan peringkat paling besar karena biaya hidup yang relatif lebih rendah dibandingkan nilai nominal gajinya. Sebaliknya, Islandia dan Estonia mengalami penurunan posisi karena tingginya harga barang dan jasa mengurangi nilai riil pendapatan yang diterima pekerja.
Laporan OECD menunjukkan bahwa kesenjangan gaji di Eropa masih menjadi tantangan besar meskipun kawasan tersebut dikenal memiliki standar hidup yang tinggi. Sebagian negara mampu menawarkan pendapatan hingga miliaran rupiah per tahun, sementara negara lain masih berada di bawah setengah miliar rupiah. Produktivitas ekonomi, struktur industri, kekuatan pasar tenaga kerja, dan biaya hidup menjadi faktor utama yang membentuk perbedaan tersebut.
Bagi kamu yang berencana bekerja atau berkarier di Eropa, memahami tingkat gaji sekaligus daya beli di masing-masing negara bisa menjadi pertimbangan penting sebelum mengambil keputusan.



















