Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Limbah Elektronik Tantangan Baru Industri Gadget, Ini Langkah Erajaya
ilustrasi limbah elektronik (pexels.com/Francesco Paggiaro)
  • Industri gadget menghadapi tantangan baru berupa limbah elektronik, mendorong penerapan ekonomi sirkular seperti program trade-in untuk memperpanjang siklus hidup perangkat.
  • Erajaya menempatkan pengelolaan e-waste sebagai fokus utama dengan mendaur ulang 3.911 unit perangkat, mengurangi emisi hingga 437 ton CO2e dan menghemat energi lebih dari 301 ribu kWh.
  • Pendekatan ekonomi sirkular dinilai semakin relevan dalam penilaian ESG dan menarik perhatian investor, terutama di tengah meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Siklus pergantian perangkat elektronik yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi industri gadget, yakni pengelolaan limbah elektronik (electronic waste atau e-waste). Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik sekaligus mengurangi potensi limbah.

Salah satu implementasinya adalah melalui program trade-in, yang memungkinkan perangkat lama kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga mulai mendapat perhatian investor seiring berkembangnya praktik investasi berkelanjutan.

Analis capital market dan Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai ekonomi sirkular adalah sebuah pendekatan yang penting. meski belum menjadi kewajiban dalam penilaian investasi, ekonomi sirkular mulai memiliki relevansi dalam pembahasan ESG.

"Regulator terus mendorong investasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, di mana ESG menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Memang saat ini belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi, namun ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai," ujar Wawan.

1. Erajaya kelola limbah elektronik

Logo Erajaya. (Website Erajaya)

Kesadaran terhadap pengelolaan limbah elektronik juga mulai tercermin dalam berbagai inisiatif yang dijalankan pelaku industri. Salah satunya PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang dalam laporan keberlanjutan terbarunya menempatkan pengelolaan limbah elektronik sebagai salah satu fokus perusahaan.

Sepanjang 2025, Erajaya berhasil mengumpulkan dan mendaur ulang 3.911 unit limbah elektronik yang berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 437 ton CO2e per tahun serta penghematan energi sebesar 301.261 kWh. Perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, termasuk penanaman dan perawatan 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektar di Bogor dan Bandung.

2. Program keberlanjutan juga punya nilai bisnis bagi investor

ilustrasi limbah elektronik (pexels.com/soundon)

Menurut Wawan, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut.

"Sosialisasi program-program keberlanjutan akan semakin membuka wawasan investor. Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya akan semakin didorong melalui regulasi. Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular," jelasnya.

Wawan menilai program trade-in tidak hanya relevan dari sisi keberlanjutan, tetapi juga memiliki nilai bisnis yang nyata.

"Saya pribadi sangat mengapresiasi program trade-in dan secara reguler memanfaatkannya. Program seperti ini dapat menjadi loyalty program sekaligus membantu mengurangi limbah elektronik," katanya. 

 

3. Win-win solution bagi konsumen yang sadar isu keberlanjutan

Ilustrasi ekonomi sirkular (Shutterstock/MG_vectors)

"Bagi saya ini merupakan win-win solution. Konsumen merasa dihargai karena sudah menggunakan perangkatnya dan dapat menukarkannya tanpa perlu pusing dengan perangkat lama. Di sisi lain, bagi emiten, program seperti ini dapat menciptakan captive market sepanjang value yang diberikan tetap menarik," lanjutnya.

Menurut Wawan, tren ini akan semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.

"Konsumen akan terus berkembang dan generasi muda akan semakin melek terhadap isu-isu ESG. Meskipun investor tetap akan berfokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi menjadi salah satu faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya. Success story dari program seperti ini dapat menjadi katalis positif bagi investor," tutup Wawan.

Logo Erajaya. (Website Erajaya)

Menurut Wawan, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut.

"Sosialisasi program-program keberlanjutan akan semakin membuka wawasan investor. Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya akan semakin didorong melalui regulasi. Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular," jelasnya.

Editorial Team

Related Article