Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Orang Kaya Australia Bertambah, tapi Kekayaan Mayoritas Warga Turun

Orang Kaya Australia Bertambah, tapi Kekayaan Mayoritas Warga Turun
ilustrasi penduduk Australia (pexels.com/Valentin)
Intinya Sih
  • UBS mencatat Australia menambah lebih dari 25.000 jutawan dalam setahun terakhir, tetapi manfaat pertumbuhan kekayaan terutama dinikmati pemilik aset besar sehingga kesenjangan melebar.
  • Sepanjang 2020-2025, rata-rata kekayaan pribadi Australia naik 19 persen setelah inflasi, sedangkan median kekayaan orang dewasa turun hampir 7 persen.
  • Kenaikan harga rumah dan dana pensiun wajib mendorong ketimpangan kekayaan; ekonom Saul Eslake menilai ketimpangan berlebihan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya banyak orang kaya di sebuah negara sering dianggap sebagai tanda ekonomi yang sehat. Namun, kenyataannya kondisi tersebut belum tentu dirasakan oleh mayoritas masyarakat.

Laporan terbaru dari UBS menunjukkan bahwa Australia mengalami fenomena menarik, yaitu jumlah orang kaya terus bertambah, sementara kondisi kekayaan warga pada tingkat menengah justru mengalami penurunan. Artinya, pertumbuhan kekayaan gak tersebar secara merata ke seluruh lapisan masyarakat.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa melihat angka rata-rata saja belum cukup untuk memahami kondisi ekonomi sebuah negara. Kalau kamu hanya melihat angka pertumbuhan kekayaan nasional, gambaran sebenarnya bisa saja sangat berbeda.

1. Jumlah orang kaya terus bertambah

ilustrasi Sydney, New South Wales, Australia
ilustrasi Sydney, New South Wales, Australia (pexels.com/Pat Saengcharoen)

UBS mencatat bahwa tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi pertumbuhan kekayaan global. Hampir satu juta jutawan baru lahir di seluruh dunia dalam satu tahun, sekaligus menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat. Australia ikut menyumbang tren tersebut dengan bertambahnya lebih dari 25.000 jutawan baru selama setahun terakhir.

Di sisi lain, bertambahnya jumlah jutawan ternyata gak otomatis membuat kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan ikut membaik. UBS menilai keuntungan dari pertumbuhan kekayaan tersebut lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat yang sudah memiliki aset dalam jumlah besar. Akibatnya, jarak kekayaan antara kelompok paling kaya dan mayoritas penduduk menjadi semakin lebar.

2. Kekayaan rata-rata naik, tapi warga biasa justru mengalami penurunan

ilustrasi pekerja kantoran di Melbourne, Australia, pejalan kaki
ilustrasi pekerja kantoran di Melbourne, Australia, pejalan kaki (pexels.com/Harry Tucker)

Sekilas, data Australia terlihat sangat positif karena rata-rata kekayaan pribadi meningkat sekitar 19 persen sepanjang periode 2020 hingga 2025. Angka tersebut bahkan sudah memperhitungkan dampak inflasi yang cukup tinggi selama beberapa tahun terakhir. Jika hanya melihat rata-rata, kamu mungkin akan mengira hampir semua orang mengalami peningkatan kekayaan.

Padahal, gambaran sebenarnya berbeda ketika menggunakan ukuran median. UBS menemukan bahwa median kekayaan orang dewasa Australia justru turun hampir 7 persen selama periode yang sama. Median dianggap lebih mampu menggambarkan kondisi masyarakat pada umumnya karena gak mudah dipengaruhi oleh segelintir orang yang memiliki kekayaan sangat besar.

3. Australia bukan satu-satunya negara yang mengalami kesenjangan

ilustrasi New York City, Amerika Serikat
ilustrasi New York City, Amerika Serikat (pexels.com/Matthis Volquardsen)

Fenomena ini ternyata juga terjadi di banyak negara lain, lho. UBS melaporkan bahwa dalam enam tahun terakhir, median kekayaan menurun di 18 dari 29 negara yang dianalisis. Penurunan bahkan mencapai sekitar 20 persen di Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris.

Meski begitu, gak semua negara mengalami kondisi serupa. Jepang mencatat kenaikan median kekayaan sekitar 50 persen sepanjang dekade 2020-an, sementara India meningkat sekitar 20 persen dan Korea Selatan bertambah lebih dari 10 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kekayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kebijakan masing-masing negara.

4. Harga rumah menjadi salah satu penyebab utama

ilustrasi Australia
ilustrasi Australia (pexels.com/M G)

Ekonom independen Saul Eslake menjelaskan bahwa Australia memang gak mengalami lonjakan ketimpangan pendapatan sebesar beberapa negara lain. Namun, menurutnya ketimpangan kekayaan justru meningkat cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai kepemilikan rumah menjadi faktor terbesar yang mendorong perbedaan tersebut.

Nilai properti yang terus naik membuat orang yang sudah memiliki rumah memperoleh kenaikan kekayaan jauh lebih cepat dibandingkan mereka yang belum mampu membeli properti. Di sisi lain, sistem dana pensiun wajib atau superannuation juga ikut membantu meningkatkan kekayaan sebagian masyarakat. Kombinasi keduanya membuat Australia tetap memiliki median kekayaan bersih tertinggi ketiga di dunia setelah Luksemburg dan Belgia, meski distribusinya semakin gak merata.

5. Ketimpangan yang terus melebar bisa berdampak pada ekonomi

ilustrasi pejalan kaki di Australia
ilustrasi pejalan kaki di Australia (pexels.com/Reymundo Tadena)

Saul Eslake menjelaskan bahwa masih ada perdebatan mengenai seberapa besar dampak ketimpangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, ia menyampaikan bahwa semakin banyak lembaga internasional seperti IMF dan OECD yang berpendapat bahwa ketimpangan yang terlalu besar pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Artinya, menjaga pertumbuhan ekonomi saja gak cukup apabila hasilnya gak bisa dinikmati secara lebih merata oleh masyarakat.

Menurut penjelasannya, kelompok masyarakat yang sangat kaya cenderung menyimpan lebih banyak aset sehingga gak seluruh kekayaannya berputar di perekonomian. Selain itu, ketimpangan yang semakin lebar juga dinilai dapat memicu munculnya kebijakan populis yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Eslake termasuk salah satu ekonom yang mendukung adanya pajak warisan untuk kekayaan dalam jumlah sangat besar, sekaligus mendorong reformasi pajak properti agar distribusi kekayaan menjadi lebih seimbang.

Laporan UBS memperlihatkan bahwa pertumbuhan kekayaan nasional gak selalu berarti seluruh masyarakat ikut menikmati hasilnya. Di Australia, jumlah jutawan memang terus bertambah, tapi kondisi kekayaan warga pada tingkat menengah justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya melihat distribusi kekayaan, bukan sekadar angka rata-rata yang terlihat mengesankan. Bagi kamu, data seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan ekonomi sebuah negara bukan hanya diukur dari banyaknya orang kaya, tapi juga dari seberapa merata kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More