Luhut Buka-bukaan 3 Skenario Harga Minyak Dunia, Bisa Tembus 150 Dolar

- Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan tiga skenario harga minyak dunia dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
- Skenario pertama memprediksi lonjakan harga hingga 150 dolar AS per barel jika konflik AS-Israel-Iran meningkat dan Selat Hormuz tertutup lebih dari tujuh hari.
- Skenario deeskalasi memperkirakan harga turun ke 65–80 dolar AS per barel bila tercapai gencatan senjata dan jalur perdagangan minyak kembali normal.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan berbagai skenario ekonomi guna mengantisipasi dinamika global dalam satu hingga dua minggu ke depan, dalam hal ini eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Luhut memaparkan skenario pertama, yakni eskalasi konflik yang diprediksi bisa memicu harga minyak dunia melonjak ke angka 110 hingga 150 dolar AS per barel.
Hal itu dapat terjadi jika Iran melakukan serangan langsung terhadap aset AS di Teluk dan aksi penutupan Selat Hormuz selama lebih dari tujuh hari yang memicu lonjakan signifikan pada premi asuransi serta biaya pengapalan.
Situasi tersebut dapat diperparah oleh serangan besar dari kelompok proksi serta kegagalan total dewan transisi yang mengakibatkan instabilitas internal dan memicu respons keras.
"Kalau kita lihat juga eskalasi ini, kegagalan total dewan transisi karena mereka berharap akan terjadi transisi di Iran, tapi kalau itu sampai gagal terus Pak, ya itu juga ndak mudah untuk mengatasinya," kata Luhut dalam paparannya, Jumat (13/3/2026).
Skenario kedua adalah kondisi prolong atau konflik berkepanjangan dengan estimasi harga minyak di kisaran 80 hingga 110 dolar AS per barel. Kondisi itu ditandai dengan akses Selat Hormuz yang terbatas akibat ancaman berulang serta berlanjutnya serangan presisi dalam skala kecil.
Di sisi lain, proses negosiasi berjalan lambat dan diiringi pengetatan sanksi, sementara Iran mulai memulihkan sebagian kapasitas rudal serta pesawat nirawaknya.
Sebaliknya, skenario deeskalasi memproyeksikan harga minyak turun ke level 65 hingga 80 dolar AS per barel berkat adanya gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional. Pada tahap tersebut, jalur perdagangan di Selat Hormuz dipastikan tidak mengalami gangguan sehingga produksi dan ekspor minyak Iran kembali berjalan normal. Selain itu, stabilitas dewan transisi memungkinkan terjadinya suksesi kepemimpinan yang lebih terkendali.
"Oleh karena itu, kami datang dengan berbagai skenario dan kita lihat perkembangan dalam 1-2 minggu ke depan, dan saya kira selama Lebaran saya kira akan semua baik-baik," kata Luhut.

















