Luhut Sebut Tak Ada Gunanya RI Ikut Musuhi Iran, Ini Alasannya

- Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan Indonesia tak perlu ikut memusuhi Iran dan harus menjaga posisi non-blok dalam menghadapi konflik Timur Tengah yang semakin panas.
- Ia mengingatkan potensi dampak ekonomi besar jika Selat Hormuz tertutup, sehingga pemerintah diminta menyiapkan rencana kontingensi energi secara matang.
- Luhut juga menyerukan masyarakat tetap kompak, menjauhi pemikiran ekstrem, serta memahami karakter kuat bangsa Iran sebagai pertimbangan kebijakan luar negeri Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan pemerintah agar tetap berhati-hati dalam menyusun strategi luar negeri di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Luhut menegaskan Indonesia tidak perlu ikut memusuhi Iran karena tindakan tersebut tidak akan memberikan keuntungan apa pun bagi negara. Dia menilai posisi non-blok atau non-alignment Indonesia harus tetap dijaga dengan baik.
"Kita jangan jadi ikut musuhan sama dia, ya nggak ada gunanya kan. Jadi sebagai non-alignment itu, non-blok itu memang Indonesia harus hati-hati menyusun strategi luar negerinya," kata Luhut dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, Indonesia tidak bisa sekadar berpihak pada Amerika Serikat (AS), apalagi jika harus berhadapan dengan negara Islam seperti Iran. Dia meyakini prinsip politik luar negeri bebas aktif masih sangat relevan dengan kondisi geopolitik saat ini.
"Saya kira masih sangat relevan. Kalau menurut saya sih tidak bisa kita mau berpihak ke Amerika. Kita masa mau musuhan dengan negara Islam? Ya kan juga nggak bener juga," ujarnya.
1. Waspada penutupan Selat Hormuz yang mengancam ekonomi

Luhut menjelaskan sikap hati-hati bagi Indonesia sangat krusial karena dampaknya langsung menyentuh sektor ekonomi, terutama ketahanan energi. Dia menyoroti posisi vital Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pasokan gas dan minyak dunia.
Jika jalur tersebut tertutup akibat konflik, Luhut mempertanyakan sejauh mana cadangan strategis energi Indonesia mampu bertahan. Jadi, dia meminta agar rencana kontingensi segera disusun dengan matang untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan.
"Itu kan Hormuz kan berpengaruh, bagaimana besar pengaruhnya. Berapa hari cadangan strategis minyak kita, energi kita? Kalau tertutup Hormuz ini, berapa? Jadi kontingensi-kontingensi harus disusun," tegas Luhut.
2. Masyarakat diminta kompak dan tidak berpikir ekstrem

Luhut mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap solid dan tidak terpecah belah oleh pemikiran ekstrem. Menurutnya, kekompakan warga negara adalah kunci agar pemerintah bisa fokus mengambil kebijakan proaktif.
Dukungan publik diperlukan agar pemerintah dapat bergerak cepat dalam menjaga ketahanan pangan, energi, hingga stabilitas keamanan dalam negeri di tengah tekanan dunia.
"Kita masyarakat Indonesia harus kompak untuk menghadapi ini semua. Jadi jangan ada yang berpikiran ekstrem ke sana ke sini. Kita harus bagaimana mendukung pemerintah," paparnya.
3. Iran adalah bangsa petarung yang sulit ditaklukkan

Lebih lanjut, Luhut meminta semua pihak mencermati sejarah Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat dan Israel. Dia menyebut Iran sebagai bangsa petarung (fighters) yang memiliki rekam jejak tidak pernah dijajah selama ribuan tahun.
Karakter kuat bangsa Iran itulah yang menurut Luhut harus menjadi pertimbangan besar dalam memetakan kebijakan luar negeri. Dengan kekuatan mental dan sejarah tersebut, Indonesia dianggap perlu tetap berada di posisi yang netral.
"Kita harus kenal bangsa Iran ini. Bangsa Iran ini bangsa yang tidak pernah dijajah ribuan tahun dan kalau kita lihat sejarahnya ini bangsa ini fighters," katanya.

















