Maskapai Murah Spirit Airlines Terjerat Pailit Lagi Tahun Ini

- Spirit Airlines mengajukan perlindungan pailit bab 11 setelah keluar dari kebangkrutan pada Maret lalu.
- Rencana restrukturisasi untuk mengurangi jaringan penerbangan dan jumlah pesawat guna menghemat biaya hingga ratusan juta dolar per tahun.
- Maskapai berbiaya rendah ini hadapi kerugian besar, tekanan kredit, dan dampak kebangkrutan pada pekerja serta pesaing.
Jakarta, IDN Times – Spirit Airlines, maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat (AS) yang dikenal dengan pesawat kuningnya, kembali mengajukan perlindungan pailit bab 11 pada Jumat (29/8/2025). Langkah ini terjadi hanya beberapa bulan setelah perusahaan keluar dari kebangkrutan sebelumnya pada Maret lalu.
Spirit, yang awalnya berdiri pada 1964 sebagai perusahaan truk jarak jauh sebelum beralih ke penerbangan pada 1980-an, masih terus berjuang menjaga operasional tetap stabil.
Dalam dokumen terbarunya, Spirit melaporkan aset dan kewajiban yang berada di kisaran 1-10 miliar dolar AS (setara Rp16,4-164 triliun). Maskapai itu menegaskan seluruh penerbangan, pembelian tiket, reservasi, dan layanan lainnya tetap berjalan normal.
“Hampir setiap maskapai besar AS telah menggunakan alat-alat ini untuk meningkatkan bisnis mereka dan memposisikan diri untuk kesuksesan jangka panjang,” tulis perusahaan, dikutip dari CNBC.
1. Rencana restrukturisasi Spirit Airlines setelah pailit

Upaya kebangkrutan sebelumnya pada November 2024 berfokus mengubah utang 795 juta dolar AS (setara Rp13,1 triliun) menjadi ekuitas tanpa memangkas besar-besaran armada maupun rute. Kini, Spirit berencana mengurangi jaringan penerbangan serta jumlah pesawat untuk menghemat biaya hingga ratusan juta dolar per tahun. Perubahan ini menjadi titik penting dalam strategi perbaikan finansial maskapai tersebut.
CEO Spirit, Dave Davis, menjelaskan alasan langkah itu dalam siaran pers pada Jumat (29/8/2025).
“Sejak keluar dari restrukturisasi sebelumnya, yang hanya bertujuan untuk mengurangi utang yang didanai Spirit dan mengumpulkan modal ekuitas, telah menjadi jelas bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan banyak alat yang tersedia untuk memposisikan Spirit terbaik untuk masa depan,” ujarnya, dikutip dari The Guardian.
Ketua dewan direksi Spirit, John Milton, menekankan perlunya perombakan total.
“Hal yang tepat untuk dilakukan adalah melanjutkan dengan restrukturisasi yang tepat, perombakan total rencana bisnis, rencana jaringan. Kami hanya perlu melanjutkan untuk memperbaiki maskapai ini dengan benar dan menyeluruh,” katanya kepada The Wall Street Journal, dikutip dari Newsweek.
Dalam email awal tahun ini, Davis juga menyoroti peran penting Spirit di dunia penerbangan. Ia mengatakan Spirit telah menghemat ratusan juta dolar AS bagi konsumen, baik mereka yang terbang bersama maskapai itu maupun tidak, serta menegaskan komitmen perusahaan untuk melindungi karyawan, mitra bisnis, dan penumpang setianya.
2. Spirit Airlines hadapi kerugian besar dan tekanan kredit

Sejumlah masalah memperberat Spirit, mulai dari kelebihan kapasitas penerbangan domestik, penarikan mesin Pratt & Whitney yang membuat beberapa Airbus-nya tak bisa terbang, hingga kegagalan merger senilai 3,8 miliar dolar AS (setara Rp62,6 triliun) dengan JetBlue Airways yang diblokir pengadilan. Semua itu memperburuk kondisi finansial, terutama setelah perusahaan mencatat kerugian bersih 1,2 miliar dolar AS (setara Rp19,7 triliun) pada 2024.
Awal bulan ini, Spirit menyampaikan keraguan substansial mengenai kemampuan perusahaan untuk terus beroperasi dalam 12 bulan dalam dokumen ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Meski sempat memproyeksikan laba bersih 252 juta dolar AS (setara Rp4,1 triliun) pada 2025, Spirit justru mengalami kerugian 257 juta dolar AS (setara Rp4,2 triliun) sejak 13 Maret hingga akhir Juni 2025 setelah keluar dari kebangkrutan.
Tekanan lain datang dari pihak pengolah kartu kredit yang meminta tambahan jaminan. Situasi itu memaksa Spirit menarik penuh fasilitas kredit bergulir senilai 275 juta dolar AS (setara Rp4,5 triliun), dengan risiko penahanan hingga 3 juta dolar AS (setara Rp49,4 miliar) per hari oleh penyedia layanan pembayaran tersebut.
3. Dampak kebangkrutan Spirit Airlines pada pekerja dan pesaing

Untuk memangkas biaya, Spirit menempatkan ratusan pramugari dalam cuti sukarela dan berencana melakukan furlough terhadap ratusan pilot tahun ini. Serikat pekerja AFA-CWA, yang mewakili pramugari Spirit, menyampaikan pada Jumat bahwa kebangkrutan ini akan lebih sulit dan tampak berbeda dari tahun lalu sekaligus meminta anggota bersiap dengan opsi cuti tambahan.
Para lessor pesawat Spirit juga mulai mendekati maskapai lain guna menawarkan sebagian armada Spirit. Di saat yang sama, Frontier Airlines, maskapai berbiaya rendah terbesar kedua di AS, meluncurkan 20 rute baru pekan ini untuk menarik penumpang Spirit yang sedang kesulitan.
Faktor eksternal turut memperburuk kondisi, seperti ketidakpastian tarif dan pemangkasan anggaran di bawah Presiden AS, Donald Trump, yang menekan belanja konsumen dan membuat tarif domestik semakin rendah. Upaya Spirit untuk rebranding dengan tarif bundel dan kursi premium agar sesuai tren pascapandemik pun terbentur persaingan sengit dari maskapai besar seperti American dan United yang memiliki jaringan global serta program loyalitas lebih luas.