Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Dutch Disease, Saat Kekayaan SDA Jadi Bumerang Ekonomi
ilustrasi tambang (unsplash.com/Dominik Vanyi)
  • Dutch disease terjadi ketika lonjakan pendapatan SDA menguatkan mata uang suatu negara secara tajam.
  • Penguatan mata uang dapat melemahkan daya saing manufaktur, meningkatkan impor, dan menekan sektor ekonomi non-SDA.
  • Diversifikasi ekonomi serta pengelolaan pendapatan SDA secara hati-hati dapat mengurangi risiko Dutch disease.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1959

Belanda menemukan cadangan gas alam dalam jumlah besar di Laut Utara.

1960-an

Fenomena Dutch disease pertama kali dikaitkan dengan Belanda setelah penemuan cadangan gas alam dalam jumlah besar.

1970-an

Britania Raya mengalami kondisi yang dikaitkan dengan Dutch disease setelah harga minyak melonjak empat kali lipat.

1977

Majalah The Economist pertama kali menggunakan istilah Dutch disease.

2014

Sejumlah ekonom menyebut modal asing ke industri oil sands Kanada kemungkinan membuat dolar Kanada terlalu tinggi. Rubel Rusia juga menguat pesat pada periode tersebut.

2016

Kekhawatiran terhadap Dutch disease di Kanada dan Rusia mereda setelah harga minyak turun signifikan. Dolar Kanada dan rubel kembali ke level lebih rendah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dutch disease adalah masalah ekonomi ketika mata uang suatu negara menguat tajam akibat lonjakan pendapatan dari SDA.
  • Who?
    Belanda, Britania Raya, Kanada, Rusia, serta negara yang mengalami lonjakan pendapatan dari sumber daya alam.
  • Where?
    Kondisi ini dikaitkan dengan Belanda, Britania Raya, Kanada, dan Rusia.
  • When?
    Fenomena ini dikaitkan dengan Belanda pada 1960-an, sementara istilahnya pertama kali digunakan pada 1977.
  • Why?
    Lonjakan pendapatan dan ekspor komoditas energi dapat membuat mata uang lokal menguat tajam.
  • How?
    Mata uang yang menguat membuat produk domestik lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga ekspor non-SDA kurang kompetitif dan impor meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dutch disease terjadi saat negara mendapat banyak uang dari alam, lalu uang negaranya jadi sangat kuat. Pabrik yang menjual barang ke luar negeri jadi susah bersaing. Ini pernah dikaitkan dengan Belanda, Britania Raya, Kanada, dan Rusia. Negara bisa mengurangi risikonya dengan membagi kegiatan ekonominya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Diversifikasi ekonomi dan pengelolaan pendapatan SDA secara hati-hati membuka ruang untuk mengurangi risiko tekanan pada sektor non-SDA. Penggunaan dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund juga disebut sebagai salah satu cara dalam mengelola pendapatan tersebut, ketika kekayaan dari sumber daya alam meningkat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dutch disease atau penyakit Belanda merupakan masalah ekonomi yang terjadi ketika mata uang suatu negara menguat tajam, sering kali akibat lonjakan pendapatan dari sumber daya alam (SDA). Penguatan mata uang tersebut dapat membuat sektor ekspor lain, terutama manufaktur, menjadi kurang kompetitif. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menekan pertumbuhan sektor non-SDA.

Dilansir dari Investopedia, fenomena ini pertama kali dikaitkan dengan Belanda setelah negara tersebut menemukan cadangan gas alam dalam jumlah besar pada 1960-an. Kondisi serupa juga pernah terjadi di sejumlah negara lain, termasuk Venezuela.

Dutch disease dapat berdampak pada industri manufaktur dan pasar kerja. Salah satu cara untuk mengurangi risikonya adalah dengan melakukan diversifikasi ekonomi dan mengelola pendapatan dari SDA secara hati-hati, termasuk melalui dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF).

1. Dampak ekonomi dari Dutch disease

ilustrasi aktivitas pengiriman barang ekspor melalui pelabuhan di Jakarta Utara (pexels.com/Tom Fisk)

Dutch disease memiliki dua dampak ekonomi utama. Pertama, daya saing harga produk manufaktur untuk pasar ekspor menurun. Kedua, impor meningkat.

Keduanya berkaitan dengan penguatan nilai mata uang lokal. Ketika mata uang menguat, harga produk domestik menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mendorong pengangguran karena lapangan kerja manufaktur berpindah ke negara dengan biaya produksi lebih rendah. Di sisi lain, sektor ekonomi di luar industri berbasis SDA dapat tertekan akibat meningkatnya kekayaan yang berasal dari sektor sumber daya.

2. Sejarah istilah Dutch disease

ilustrasi bendera Belanda (unsplash.com/Remy Gieling)

Istilah Dutch disease pertama kali digunakan oleh majalah The Economist pada 1977. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ekonomi Belanda setelah penemuan cadangan gas alam dalam jumlah besar di Laut Utara pada 1959.

Peningkatan kekayaan dan ekspor komoditas energi membuat nilai guilder Belanda menguat tajam. Akibatnya, ekspor produk non-minyak Belanda menjadi kurang kompetitif di pasar global.

Pada periode tersebut, tingkat pengangguran Belanda meningkat dari 1,1 persen menjadi 5,1 persen. Investasi modal di negara itu juga mengalami penurunan. Sejak saat itu, istilah Dutch disease digunakan dalam kajian ekonomi untuk menggambarkan kondisi serupa di negara lain.

3. Contoh kasus Dutch disease

Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

Britania Raya mengalami kondisi yang dikaitkan dengan Dutch disease pada 1970-an setelah harga minyak melonjak empat kali lipat. Kenaikan harga membuat pengeboran minyak di Laut Utara, lepas pantai Skotlandia, menjadi layak secara ekonomi.

Pada akhir dekade tersebut, Britania Raya berubah dari importir bersih menjadi eksportir bersih minyak. Nilai poundsterling juga melonjak tajam.

Namun, Britania Raya kemudian masuk ke dalam resesi. Pada saat yang sama, pekerja menuntut upah lebih tinggi dan ekspor dari sektor lain menjadi kurang kompetitif.

Kasus serupa juga muncul di Kanada dan Rusia. Pada 2014, sejumlah ekonom menyebut masuknya modal asing ke industri oil sands Kanada kemungkinan membuat nilai dolar Kanada terlalu tinggi sehingga mengurangi daya saing sektor manufaktur.

Rubel Rusia juga mengalami penguatan pesat pada periode tersebut dengan alasan yang serupa.

Kekhawatiran terhadap Dutch disease di kedua negara itu kemudian mereda setelah harga minyak turun secara signifikan pada 2016. Penurunan harga tersebut turut membuat dolar Kanada dan rubel kembali ke level yang lebih rendah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

BTN Rombak 5 Direksi!04 Sep 2026, 17:43 WIB