Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sanksi Finansial AS Bikin Perdagangan Luar Negeri Iran Anjlok 35 Persen

Sanksi Finansial AS Bikin Perdagangan Luar Negeri Iran Anjlok 35 Persen
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
  • Sanksi finansial dan blokade laut AS memangkas perdagangan luar negeri Iran hingga 35 persen, sementara ekspor minyak mentah Agustus 2026 turun lebih dari 80 persen menjadi 260 ribu barel per hari.
  • AS memperketat pengawasan di perairan Teluk dengan mengalihkan 82 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, dan memeriksa dua kapal untuk membatasi pergerakan tanker Iran.
  • Iran mendorong kemandirian ekonomi dan pengurangan ketergantungan dolar, sembari mengklaim setoran minyak 7,5 miliar dolar AS cukup menopang anggaran hingga awal Januari 2027.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Tekanan ekonomi mulai menghimpit Teheran setelah konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memasuki bulan keenam.

CNBC mencatat pengapalan ekspor minyak mentah Iran pada Agustus 2026 anjlok lebih dari 80 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi hanya 260 ribu barel per hari. Situasi makin pelik usai Washington meluncurkan Operasi Economic Outcast demi memutus akses perdagangan global Teheran.

Dilansir SCMP, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa sanksi finansial dan blokade laut AS telah memangkas aktivitas perdagangan luar negeri negaranya hingga 35 persen.

  1. 1. Militer AS perketat pengawasan di perairan Teluk

    Sanksi Finansial AS Bikin Perdagangan Luar Negeri Iran Anjlok 35 Persen
    Kapal induk USS Abraham Lincoln (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Class Clint Davis, public domain, via Wikimedia Commons)

    Pengawasan armada militer AS di kawasan perairan Teluk kian diperketat guna memastikannya berjalan efektif. Komando Pusat AS melaporkan telah mengalihkan rute 82 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, serta memeriksa dua kapal lainnya yang melintas. Blokade ini sendiri dilancarkan kembali oleh Presiden Donald Trump sejak Juli lalu sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.

    Analis energi dari Rapidan Energy, Bob McNally menilai penyusutan pendapatan minyak ini sengaja dirancang untuk menguras kas Teheran hingga mereka mau mengalah. Sementara itu, Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith menegaskan bahwa langkah tegas AS berhasil menahan laju tanker minyak Iran agar tidak lolos keluar perairan.

  2. 2. Teheran dorong kemandirian ekonomi dan lepas dari dolar

    Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei
    Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (Hamed Malekpour, Atribusi: Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan penguatan sektor ekonomi domestik sekaligus mengimbau agar ketergantungan terhadap dolar AS mulai ditinggalkan. Di saat bersamaan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyasar jaringan keuangan Iran dengan memblokir akses bank koresponden milik lembaga asal Mesir, Banque Misr, di Uni Emirat Arab (UEA) karena diduga memproses dana gelap senilai 1,8 miliar dolar AS (sekitar Rp32,3 triliun).

    Pihak Banque Misr menegaskan bakal kooperatif dengan otoritas terkait dan memastikan sanksi tersebut hanya berdampak pada cabangnya di UEA, sehingga layanan nasabah tetap berjalan. Di sisi lain, Washington terus mendesak negara-negara dunia untuk memutus hubungan bisnis dengan Teheran, meski AS masih menahan diri untuk tidak menjatuhkan sanksi sekunder kepada mitra dagang utama Iran seperti China dan India.

  3. 3. Iran klaim cadangan dana minyak masih aman

    ilustrasi kilang minyak
    ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

    Meski dihantam sanksi bertubi-tubi dari Barat, pemerintah Iran mengklaim penerimaan negaranya masih sanggup menopang kebutuhan dalam negeri. Kementerian Perminyakan Iran melaporkan telah menyetorkan hasil penjualan minyak sebesar 7,5 miliar dolar AS (sekitar Rp134,8 triliun) ke bank sentral, yang diklaim cukup untuk mengamankan anggaran hingga awal Januari 2027.

    Pezeshkian pun menepis anggapan sejumlah pihak yang menyebut sanksi AS tidak berdampak sama sekali pada perekonomian negaranya.

    “Saya hanya ingin bilang ini, bilang bahwa sanksi tidak punya efek tidak sesuai dengan fakta-fakta ini,” kata Pezeshkian, dikutip CNBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More