Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Efek Trickle-Down, Tren Elite yang Menular ke Masyarakat

Mengenal Efek Trickle-Down, Tren Elite yang Menular ke Masyarakat
ilustrasi mall dengan dekorasi Natal (unsplash.com/MK13™)
Intinya sih...
  • Efek trickle-down berasal dari abad ke-19 dan berkaitan dengan konsumsi mencolok serta difusi budaya.
  • Penyebaran tren tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga horizontal dan dari bawah ke atas.
  • Berbeda dengan teori ekonomi, efek trickle-down dalam pemasaran menjelaskan penyebaran tren di masyarakat melalui media sosial dan peran influencer.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam dunia pemasaran, efek trickle-down dikenal sebagai pola penyebaran tren dan produk yang berawal dari konsumen kalangan berada, lalu meluas ke segmen masyarakat yang lebih luas. Pola ini disebut turut memengaruhi perilaku konsumen sekaligus dinamika pasar.

Dilansir Investopedia, efek trickle-down kerap disamakan dengan teori ekonomi bernama serupa, padahal keduanya memiliki konteks berbeda. Dalam praktik periklanan, efek trickle-down bekerja dengan asumsi kelas sosial yang lebih rendah cenderung terpengaruh oleh kelas yang lebih tinggi.

Kelompok bawah disebut berupaya meniru gaya dan preferensi kelas atas demi menunjukkan status sosial, sementara kelas atas terus mencari cara untuk membedakan diri dengan mengadopsi tren baru. Pola ini mendorong munculnya inovasi dan perubahan yang relatif cepat.

Efek tersebut biasanya muncul ketika sebuah iklan dianggap cukup menarik, baik karena keunikan, unsur humor, maupun nilai hiburannya, sehingga mendorong orang untuk membagikannya ke lingkar sosial terdekat. Jika berjalan efektif, pola ini dapat memberikan eksposur luas dalam waktu singkat, bahkan dengan biaya yang relatif rendah.

Media sosial menjadi sarana utama dalam penyebaran efek trickle-down. Iklan yang viral di platform digital kerap berujung pada liputan media arus utama, sehingga memperluas jangkauan pesan tanpa harus mengeluarkan biaya besar seperti iklan konvensional.

1. Berakar dari pemikiran abad ke-19

Mengenal Efek Trickle-Down, Tren Elite yang Menular ke Masyarakat
ilustrasi mall (pexels.com/Tuur Tisseghem)

Efek trickle-down dapat ditelusuri ke abad ke-19 melalui pemikiran Rudolf von Jhering yang pertama kali membahas difusi budaya. Dia mengamati mode cenderung bergerak dari kelas atas ke kelas bawah.

Menurut pandangan tersebut, sebuah tren akan kehilangan nilainya ketika sudah diadopsi secara luas. Kondisi ini mendorong kelas atas untuk kembali mencari dan menetapkan tren baru, yang pada akhirnya kembali diikuti oleh kelas bawah.

Gagasan ini kemudian dikaitkan dengan teori konsumsi mencolok yang menyebutkan pembelian barang dan jasa mewah dilakukan untuk menunjukkan status dan kekayaan. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep trickle-down tidak lagi semata dikaitkan dengan kelas sosial, tetapi juga diterapkan pada kelompok usia, etnis, hingga gender.

Dalam pemasaran, konsep ini berakar pada gagasan difusi budaya abad ke-19 yang berkaitan dengan konsumsi mencolok, sementara perkembangan media sosial (medsos) dinilai mempercepat laju penyebaran tren tersebut.

2. Tidak hanya dari atas ke bawah

Mengenal Efek Trickle-Down, Tren Elite yang Menular ke Masyarakat
ilustrasi tren denim 2026 (dok. Levi's)

Dalam dunia mode, penyebaran tren sering dipahami sebagai sebuah pergerakan. Mode disebut tidak hanya mengalir dari atas ke bawah, tetapi juga bisa bergerak secara horizontal atau bahkan dari bawah ke atas.

Pola trickle-down menggambarkan tren yang pertama kali diterima kelompok sosial teratas, lalu perlahan diikuti kelompok di bawahnya. Pola ini umumnya berkembang di masyarakat yang hierarkis dan memiliki dorongan kuat untuk mobilitas sosial.

Sebaliknya, pola trickle-across menunjukkan penyebaran tren secara horizontal di antara kelompok dengan tingkat sosial yang relatif setara. Dalam pola ini, tren dapat menyebar dengan sangat cepat, didukung oleh komunikasi massa, strategi pemasaran, serta peran desainer mode.

Sementara itu, pola trickle-up menggambarkan tren yang justru berawal dari kelompok berpendapatan lebih rendah atau budaya jalanan, kemudian naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi. Sejumlah busana kasual yang kini lazim digunakan disebut berangkat dari kebutuhan praktis kalangan pekerja.

3. Berbeda dengan teori ekonomi

Mengenal Efek Trickle-Down, Tren Elite yang Menular ke Masyarakat
ilustrasi tren pakaian (freepik.com/marymarkevich)

Efek trickle-down dalam pemasaran memiliki keterkaitan tidak langsung dengan teori trickle-down dalam ekonomi. Teori ekonomi tersebut menyebutkan pemberian insentif kepada kalangan kaya atau pelaku usaha, seperti pemotongan pajak, diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dalam konteks pemasaran dan mode, trickle-down lebih banyak digunakan untuk menjelaskan bagaimana tren menyebar di masyarakat. Contoh modernnya terlihat dari peran influencer media sosial yang mampu memicu tren hanya melalui satu unggahan, yang kemudian diikuti oleh merek, industri fesyen, hingga pasar ritel.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Danantara Geber Pertemuan di WEF biar Makin Dikenal Investor Global

20 Jan 2026, 07:04 WIBBusiness