Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal MICS CABG, Teknologi Bedah Jantung yang Lebih Minimal Invasif
Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) di Heartology (Dok. Istimewa)
  • MICS CABG membuat jalur baru aliran darah pada pembuluh koroner tersumbat lewat sayatan kecil, tanpa membelah tulang dada seperti operasi bypass konvensional.
  • Sternum yang tetap utuh berpotensi membuat pemulihan lebih efisien dan menurunkan risiko komplikasi terkait tulang dada, termasuk infeksi.
  • Efektivitas MICS CABG dilaporkan sebanding dengan metode konvensional: complete revascularization 95,5% versus 96,3%, graft baik 96,2%, serta perdarahan intraoperasi berpotensi lebih rendah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketika pembuluh darah jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, aliran darah dan oksigen ke otot jantung dapat terganggu. Dalam kondisi tertentu, Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK) atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) menjadi salah satu pilihan penanganan.

Namun, operasi bypass jantung tidak selalu harus dilakukan dengan metode konvensional. Perkembangan teknologi dan teknik bedah memungkinkan prosedur tersebut dilakukan dengan pendekatan Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS), yang menggunakan sayatan lebih kecil dan tidak membutuhkan pembelahan tulang dada.

Di Heartology Cardiovascular Hospital, pendekatan MICS digunakan dalam tindakan operasi bypass jantung. Lantas, apa yang membedakan MICS CABG dengan operasi bypass konvensional dan apa dampaknya bagi pasien?

1. Operasi bypass dilakukan untuk membuat jalur baru aliran darah

Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) di Heartology (Dok. Istimewa)

CABG merupakan prosedur untuk membuat jalur baru atau pintas bagi aliran darah sehingga dapat melewati pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan. Dengan adanya jalur tersebut, suplai darah dan oksigen ke otot jantung diharapkan dapat kembali mengalir dengan lebih baik.

Dalam praktik konvensional, operasi bypass dilakukan melalui sternotomi atau pembelahan tulang dada. Sementara pada pendekatan MICS, operasi dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil tanpa membelah tulang dada.

2. MICS tidak membutuhkan pembelahan tulang dada

Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) di Heartology (Dok. Istimewa)

Salah satu perbedaan utama MICS CABG dengan operasi bypass konvensional terletak pada akses operasi. Pada MICS, tulang dada atau sternum tetap utuh sehingga pasien tidak perlu melalui proses penyembuhan tulang tersebut setelah operasi.

“Pada operasi konvensional, tulang dada (sternum) yang dibelah membutuhkan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berlangsung hingga sekitar 12 minggu. Pada MICS, tulang dada (sternum) tetap utuh. Ini berarti pasien tidak perlu menjalani proses penyembuhan tulang dada tersebut, sehingga pemulihan dapat menjadi lebih efisien. Selain itu, risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi tulang dada, juga dapat lebih rendah.” ujar dr. Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital.

3. Sayatan lebih kecil bukan berarti target bypass berkurang

Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) di Heartology (Dok. Istimewa)

MICS CABG juga menjadi perhatian karena penggunaan sayatan yang lebih kecil tidak berarti jumlah pembuluh darah yang ditangani menjadi lebih sedikit.

Berdasarkan penelitian yang membandingkan MICS CABG dengan CABG konvensional pada pasien dengan multivessel disease, sebanyak 95,5 persen pasien MICS CABG berhasil mendapatkan complete revascularization. Angka tersebut relatif sebanding dengan 96,3 persen pada operasi melalui sternotomi.

“Kalau dijelaskan secara sederhana, angka tersebut menunjukkan bahwa sayatan yang lebih kecil tidak berarti bypass yang dilakukan menjadi lebih sedikit atau kurang optimal. Tujuan utama operasi tetap tercapai, yaitu membuat jalur baru agar darah dapat melewati pembuluh darah koroner yang tersumbat dan kembali menyuplai otot jantung. Complete revascularization pada MICS CABG mencapai 95,5%, hampir sebanding dengan 96,3% pada operasi konvensional. Jadi, yang kita minimalkan adalah sayatan operasinya, bukan target pembuluh darahnya.” jelas Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), MARS.

4. Evaluasi graft menunjukkan hasil yang menjanjikan

Selain tingkat complete revascularization, penelitian yang sama menunjukkan bahwa pada pemeriksaan evaluasi angiografi pascaoperasi sebelum pasien pulang, sebanyak 96,2 persen graft pada kelompok MICS CABG dinilai baik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan minimal invasif tidak semata-mata berkaitan dengan ukuran sayatan, tetapi juga tetap diarahkan untuk mencapai hasil revaskularisasi yang optimal.

5. Berpotensi menekan perdarahan selama operasi

Manfaat MICS juga terlihat pada aspek perdarahan. Penelitian lain pada pasien penyakit jantung koroner dengan diabetes mellitus tipe II menunjukkan pasien yang menjalani MICS CABG memiliki median perdarahan intraoperasi sebesar 600 mL, dibandingkan 700 mL pada pasien yang menjalani CABG konvensional.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pendekatan minimal invasif berpotensi mengurangi kebutuhan transfusi darah sekaligus mendukung proses pemulihan pasien setelah operasi.

6. Pemulihan pasien menjadi salah satu fokus

Bagi pasien, ukuran luka operasi bukan satu-satunya pertimbangan. Minimnya trauma operasi dan tidak dibelahnya tulang dada juga menjadi bagian dari upaya mendukung proses pemulihan.

“Bagi pasien, angka tersebut menunjukkan bahwa kita tetap berupaya mencapai hasil operasi bypass yang optimal dengan trauma operasi yang lebih minimal. Ketika perdarahan selama operasi dapat ditekan dan tulang dada (sternum) tidak perlu dibelah, proses pemulihan pasien berpotensi menjadi lebih efisien. Karena itu, keberhasilan operasi bukan hanya tentang memastikan bypass berjalan dengan baik, tetapi juga membantu pasien agar dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih cepat dan nyaman.” tambah Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), MARS.

Pendekatan MICS CABG pada akhirnya menunjukkan bagaimana perkembangan teknik bedah jantung tidak hanya berfokus pada keberhasilan tindakan, tetapi juga pada upaya meminimalkan trauma operasi dan mendukung proses pemulihan pasien.

Editorial Team

Related Article