Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Dilansir The Edge SIngapore, krisis ini turut memukul upaya diplomatik di kawasan setelah rencana pertemuan antara Iran dan beberapa negara Teluk pada Senin (14/9/2026) resmi ditunda menurut keterangan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Pertemuan tersebut mulanya diagendakan untuk membahas pembentukan jalur pelayaran sementara melintasi Selat Hormuz. Sebelum pembatalan diumumkan, Bahrain telah menyatakan ketidakhadirannya antara lain karena serangan terhadap pipa Timur-Barat, sementara Riyadh juga dilaporkan memiliki keraguan terhadap rencana tersebut.
Di sisi lain, para pelaku pasar terus memantau dampak pergerakan militer kelompok militan Houthi yang didukung Iran di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Kemajuan teritorial kelompok tersebut membuka peluang peningkatan kendali mereka atas Selat Bab el-Mandeb yang merupakan titik sempit maritim penting dunia. Sementara itu, pemerintah Irak mulai bergerak untuk meredam dampak serangan terhadap pipa Arab Saudi setelah serangan tersebut teridentifikasi diluncurkan dari dalam wilayah Irak.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah memicu reli harga minyak mentah sebesar 77 persen sepanjang tahun ini dan memberi guncangan inflasi terhadap perekonomian global. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bakal mengumumkan sanksi terhadap bank besar pada Senin (14/9/2026) guna memaksa Teheran menyerah, seiring langkah Angkatan Laut Amerika Serikat yang memblokade pelabuhan Iran untuk membatasi ekspor energinya. Kenaikan harga minyak, gas, dan bahan bakar minyak ini, ditambah data inflasi Amerika Serikat yang meningkat pada Agustus, kian memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve.