ilustrasi belanja (pexels.com/Sam Lion)
Lebaran memang peluang besar untuk meningkatkan omzet. Namun keputusan menaikkan harga tanpa perhitungan bisa berdampak jangka panjang. Sekali kepercayaan pelanggan hilang, tidak mudah untuk mengembalikannya.
Bisnis yang berpikir jangka panjang akan mempertimbangkan dampak reputasi, bukan hanya margin sementara. Kadang, menjaga hubungan baik dengan pelanggan jauh lebih bernilai daripada keuntungan ekstra dalam satu musim.
Kenaikan harga saat Lebaran tidak otomatis dimaklumi oleh semua konsumen. Yang menentukan adalah alasan di balik kenaikan tersebut dan cara bisnis mengomunikasikannya. Sensitivitas harga tetap ada, bahkan di momen penuh kebutuhan seperti ini.
Daripada sekadar menaikkan harga karena permintaan tinggi, lebih bijak menyusun strategi berbasis nilai dan transparansi. Dengan begitu, bisnis tetap bisa meraih keuntungan tanpa mengorbankan kepercayaan pelanggan.
Mengapa harga produk cenderung naik saat Lebaran? | Kenaikan harga biasanya dipicu oleh lonjakan permintaan, keterbatasan pasokan, peningkatan biaya distribusi, serta faktor musiman seperti bonus THR dan mudik. |
Apakah kenaikan harga saat Lebaran selalu disebabkan pedagang? | Tidak selalu. Selain margin pedagang, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh:Biaya logistikKenaikan harga bahan bakuDistribusi yang tergangguFaktor cuaca dan panen |
Kapan biasanya harga mulai naik menjelang Lebaran? | Harga umumnya mulai naik 2–4 minggu sebelum Lebaran, dan mencapai puncaknya pada H-7 hingga H-1 Lebaran. |
Apakah harga akan turun setelah Lebaran? | Sebagian besar harga akan berangsur turun setelah Lebaran, terutama bahan pangan segar, seiring normalnya permintaan dan distribusi. |