Pasar Fintech Syariah RI Diperkirakan Capai Rp289 Triliun pada 2029

- Semakin banyak perusahaan Fintech Islam di dunia yang teridentifikasi
- Deretan lima pasar teratas fintech syariah di dunia
- Indeks dalam laporan ini menganalisis 64 negara dengan 19 indikator
Jakarta, IDN Times - Laporan Global Islamic Fintech (GIFT) 2025-2026 yang dirilis oleh DinarStandard dan Elipses mengungkapkan, pasar fintech syariah Indonesia diperkirakan mencapai volume transaksi sebesar 10,0 miliar dolar AS atau Rp167 triliun (dengan kurs Rp16.700 per dolar AS) pada 2024-2025.
Angka ini diproyeksikan terus meningkat, mencapai 17 miliar dolar AS atau Rp289 triliun pada 2029. Laporan tersebut juga menunjukkan, Indonesia berada di posisi keempat dalam ekosistem paling kondusif untuk pengembangan fintech syariah.
"Dengan 58 perusahaan fintech syariah terdaftar, Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 10 persen dari total perusahaan fintech syariah di dunia, menjadikannya sebagai produsen fintech syariah terbesar ketiga di dunia," tulis laporan tersebut, Senin (2/2026).
1. Semakin banyak perusahaan Fintech Islam di dunia yang teridentifikasi

Kepala Elipses Abdul Haseeb Basit menjelaskan, laporan GIFT 2025-2026 menampilkan sektor yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan fintech syariah yang teridentifikasi, pertumbuhan berkelanjutan dalam ukuran pasar, pergeseran pentingnya sektor-sektor tertentu, dan persaingan antarpusat menunjukkan bagaimana faktor-faktor yang diidentifikasi dalam laporan sebelumnya mempengaruhi lanskap dan pertumbuhannya.
"Arab Saudi sekali lagi mendominasi di antara pusat-pusat tersebut. Laporan tahun ini memberikan perhatian khusus pada sektor aset digital, yang diidentifikasi tahun lalu sebagai sektor yang perlu diperhatikan dan menunjukkan momentum kuat. Para pelaku industri melaporkan tantangan serupa yang masih ada, dengan akses ke modal tetap menjadi tantangan utama," tuturnya.
2. Deretan lima pasar teratas fintech syariah di dunia

Haseeb Basit menjelaskan, laporan GIFT 2025-2026 adalah laporan tahunan yang mengkaji pasar fintech syariah secara komprehensif. Laporan ini mencakup analisis ukuran pasar fintech syariah di seluruh negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta Indeks GIFT yang menilai 64 negara berdasarkan kesesuaiannya dengan aktivitas fintech syariah.
Selain itu, laporan tersebut juga menyertakan hasil survei industri yang mengumpulkan umpan balik dari praktisi, dan menyediakan basis data perusahaan fintech syariah terlengkap di dunia. Adapun perkiraan ukuran pasar fintech syariah berdasarkan volume transaksi mencapai 198 miliar dolar AS pada 2024/2025. Pasar ini diproyeksikan tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 11,5 persen, hingga mencapai 341 miliar dolar AS pada 2029.
"Lima pasar teratas fintech syariah berdasarkan volume transaksi adalah Arab Saudi, Iran, Malaysia, UEA, Indonesia, dan Kuwait. Masing-masing dari negara-negara ini diperkirakan memiliki ukuran pasar lebih dari 3,1 miliar dolar AS pada 2024/2025. Secara keseluruhan, 10 pasar teratas menyumbang 93 persen dari total ukuran pasar Fintech Islam global," ujar dia.
3. Indeks dalam laporan ini menganalisis 64 negara dengan 19 indikator

Indeks GIFT menganalisis 64 negara dengan menerapkan 19 indikator yang dibagi dalam lima kategori utama, yakni talenta, regulasi, infrastruktur, pasar dan ekosistem, serta modal.
Setiap kategori diberi bobot untuk menghasilkan skor keseluruhan, dengan kategori pasar dan ekosistem fintech syariah mendapatkan bobot lebih besar karena kategori ini dianggap sebagai indikator utama yang mencerminkan seberapa kondusif suatu negara terhadap perkembangan fintech syariah. Arab Saudi dan Malaysia mendominasi, masing-masing menempati 12 dari 20 posisi teratas di antara negara-negara OKI.
Selain itu, laporan ini juga menampilkan 30 perusahaan fintech syariah terkemuka di dunia, yang terdaftar dalam platform Impactintell milik DinarStandard, bersama dengan sumber data lainnya. Perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan pencapaian signifikan, seperti penggalangan dana yang besar, peluncuran produk baru, ekspansi ke pasar internasional, dan diversifikasi portofolio produk mereka.
4. Peluang fintech syariah makin besar

Pendiri dan Direktur Pelaksana DinarStandard, Rafi-uddin Shikoh menjelaskan, adanya pergeseran dari eksperimen menuju eksekusi, dengan ekosistem yang lebih kuat, model bisnis yang lebih jelas, dan inovasi yang lebih praktis yang berfokus pada kebutuhan pelanggan yang sesungguhnya.
"Kami juga melihat momentum baru terkait aset digital, bukan sebagai sensasi, tetapi sebagai cara untuk membuat pembayaran, penyelesaian, dan akses ke peluang dunia nyata menjadi lebih lancar, transparan, dan dapat dipercaya, sesuai dengan prinsip syariah," ucapnya.
Indeks GIFT menunjukkan Arab Saudi dan Malaysia berada di dua posisi teratas, sementara UEA kembali naik ke posisi ketiga, menunjukkan pusat-pusat aktivitas utama. Namun, pada saat yang sama, hambatan yang disorot dalam tanggapan survei tetap sama, yakni akses ke pendanaan, tuntutan kepatuhan, kesadaran pelanggan, dan tantangan dalam melakukan penskalaan di berbagai pasar.
"Pesan kami sederhana: kemajuan akan ditentukan oleh kolaborasi. Ketika regulator, lembaga, perusahaan rintisan, dan investor bergerak bersama, fintech syariah dapat mewujudkan janjinya untuk memperluas inklusi, memperkuat kepercayaan, dan membangun masa depan keuangan yang lebih tangguh bagi masyarakat," ungkapnya.


















