Subsidi Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Merosot 30 Persen

- Penjualan BYD Januari 2026 turun tajam dibanding tahun lalu, mencapai 30,1 persen penurunan dari periode yang sama tahun sebelumnya.
- Penyesuaian insentif dan subsidi menekan permintaan mass-market, dengan perubahan program yang dapat mengurangi daya dorong bagi produsen di segmen harga lebih rendah.
- BYD menyiapkan strategi di luar China dengan mencatat ekspor 100.482 unit pada Januari 2026, naik 51,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Jakarta, IDN Times - BYD Co. melaporkan penurunan penjualan kendaraan pada Januari 2026, menandai perlambatan permintaan di pasar kendaraan listrik China. Penurunan itu terjadi setelah lonjakan pembelian di akhir 2025 ketika konsumen mempercepat transaksi sebelum penyesuaian insentif.
Penurunan tersebut dinilai sebagai hal yang sudah diantisipasi, terutama karena sebagian insentif untuk pembelian kendaraan listrik mulai disesuaikan sejak awal 2026. BYD kini menghadapi tantangan menjaga penjualan domestik sambil mengandalkan pertumbuhan dari pasar luar negeri.
1. Penjualan BYD Januari 2026 turun tajam dibanding tahun lalu
BYD membukukan penjualan 210.051 unit pada Januari 2026, turun 30,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sekaligus menegaskan bahwa permintaan pada awal tahun tidak sekuat lonjakan belanja di penghujung 2025.
Sebagai pembanding, penjualan BYD pada Januari 2025 tercatat 300.538 unit, sehingga basis perbandingan tahunan berada pada level tinggi. Kondisi tersebut membuat penurunan pada Januari 2026 terlihat lebih menonjol secara persentase.
Selain penurunan tahunan, laporan pasar juga menyebut penjualan Januari 2026 turun sekitar 50 persen dibanding Desember 2025, yang umumnya dipengaruhi faktor musiman serta perubahan program insentif yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2026.
2. Penyesuaian insentif dan subsidi menekan permintaan mass-market
Pemerintah China menyesuaikan program tukar tambah untuk 2026. Pembeli kendaraan energi baru (termasuk mobil listrik dan hibrida) yang memenuhi ketentuan dapat menerima rebate 12 persen dari harga kendaraan dengan batas maksimal 20 ribu yuan (Rp48,2 juta), dengan syarat kendaraan lama tertentu harus dihapuskan melalui fasilitas yang disetujui pemerintah.
Namun, perubahan persyaratan dan desain program dapat mengurangi daya dorong bagi sebagian produsen yang banyak bermain di segmen harga lebih rendah, termasuk model mass-market yang berkontribusi besar pada volume penjualan. Ketidakpastian mengenai seberapa kuat program ini menopang permintaan pada 2026 menjadi perhatian pelaku industri.
Di saat yang sama, kompetisi harga di pasar domestik tetap ketat, sehingga upaya mendorong penjualan berisiko menekan margin.
“Tren penurunan laba BYD belum mencapai titik terendahnya,” ujar Zhang Xiang, pakar industri otomotif China, dikutip Rest of World.
3. BYD menyiapkan strategi di luar China
Di tengah pelemahan penjualan domestik, BYD masih mencatat ekspor 100.482 unit pada Januari 2026, naik 51,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Kinerja ekspor ini memperlihatkan pergeseran fokus BYD untuk menjaga pertumbuhan lewat pasar luar negeri. Arah tersebut ditegaskan dalam target perusahaan.
“Perusahaan menargetkan bisa menjual 1,3 juta mobil di luar China pada 2026,” ujar Li Yunfei, General Manager divisi brand dan public relations BYD, dilansir Bloomberg.
Target itu dibandingkan dengan sekitar 1,05 juta pengiriman luar negeri pada 2025. Meski ekspor menjadi penopang, ekspansi global juga berpotensi meningkatkan tekanan biaya karena perusahaan perlu memperkuat jaringan penjualan, logistik, dan strategi harga di berbagai negara.
“Saat ini BYD di pasar internasional lebih fokus memperbesar skala penjualan dulu daripada mengejar laba. Hal itu mau tidak mau menekan margin keuntungan," ujar Bill Russo, pendiri dan CEO Automobility Limited, dilansir Rest of World.

















