ilustrasi China (freepik.com/4045)
Tekanan di pasar kerja membuat pemerintah China harus mencari cara agar kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan gak semakin memburuk. Pengeluaran dari dana asuransi pengangguran yang digunakan untuk membantu pelatihan ulang pekerja dan membayar sebagian gaji mencapai 88,1 miliar yuan atau sekitar Rp232,2 triliun pada Januari-Mei. Nilai tersebut bahkan sudah setara dengan pengeluaran dana tersebut sepanjang pandemi pada 2020.
Di sisi lain, pemerintah masih memilih mempercepat kebijakan yang sudah disiapkan dan memberikan bantuan tambahan jika situasinya semakin memburuk. Dalam pertemuan kabinet pada 20 Juli, pejabat China menegaskan bahwa penggunaan dana fiskal harus dimaksimalkan untuk memastikan target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 4,5-5 persen tetap tercapai. Goldman Sachs memperkirakan pemerintah juga akan memberikan sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih kuat dan mempercepat pencairan dana yang sudah tersedia jika diperlukan.
Bagi kamu yang mengikuti kondisi pasar kerja global, situasi China menunjukkan bahwa tantangan mencari pekerjaan kini gak hanya berkaitan dengan jumlah lulusan yang terus bertambah. Perlambatan ekonomi membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam merekrut, sementara AI mulai mengubah pekerjaan yang sebelumnya menjadi pintu masuk bagi pekerja muda.
Kalau tekanan tersebut terus berlangsung, persaingan mendapatkan pekerjaan bisa menjadi semakin ketat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan teknologi dan ekonomi bisa terjadi bersamaan dan memberikan dampak besar terhadap generasi yang baru masuk dunia kerja.