Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah mengungkapkan dunia usaha nasional saat ini tengah menghadapi tekanan berlapis, termasuk konflik di Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan operasional industri, khususnya pada sektor pengolahan dan pemurnian (smelter) serta industri berbasis sumber daya alam (SDA) seperti nikel.
Arif menyebut, dinamika konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak langsung pada struktur biaya produksi akibat kenaikan harga energi global. Lonjakan harga minyak dan batu bara meningkatkan biaya operasional secara signifikan bagi industri yang bergantung pada energi dan bahan baku impor.
Dia mencontohkan, komponen biaya sulfur untuk operasional fasilitas smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) kini melonjak menjadi 30-35 persen dari sebelumnya sekitar 25 persen. Selain itu, gangguan logistik global juga memperburuk keadaan melalui peningkatan biaya distribusi dan ketidakpastian rantai pasok.
"Industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor kini mulai menghadapi risiko nyata berupa keterbatasan pasokan dan lonjakan harga yang tidak terkendali. 75-80 persen pasokan sulfur untuk keperluan Indonesia berasal dari Timur Tengah yang logistiknya sangat dipengaruhi oleh perang teluk " kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (11/4/2026).
