Penipuan Digital Tembus Rp9 Triliun, VIDA Perangi Lewat Faces of Fraud

- VIDA meluncurkan pameran 'Faces of Fraud' untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penipuan digital yang menyebabkan kerugian hingga Rp9 triliun dengan ratusan ribu laporan kasus.
- Pameran ini menampilkan kisah nyata korban dari berbagai latar belakang, termasuk pensiunan dan korban penyalahgunaan identitas yang mengalami kerugian finansial serta tekanan psikologis berat.
- VIDA menyoroti peningkatan modus penipuan digital seperti social engineering dan pengambilalihan akun, serta menyerukan kolaborasi lintas sektor demi ekosistem digital yang aman dan tepercaya.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA, meluncurkan pameran narasi bertajuk “Faces of Fraud” sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap maraknya penipuan digital di Indonesia.
Inisiatif tersebut hadir di tengah tingginya kasus penipuan digital yang disebut telah menimbulkan kerugian hingga Rp9 triliun, dengan lebih dari 411 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.
1. Kerugian akibat penipuan digital tak hanya berdampak ke sisi finansial

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan kerugian akibat penipuan digital tidak hanya berdampak secara finansial, tetapi juga meninggalkan trauma emosional serta hilangnya rasa aman bagi korban.
“Setiap wajah dalam Faces of Fraud mewakili seseorang yang pernah menaruh kepercayaan pada sistem keamanan identitas, tetapi gagal terlindungi dari celah yang ada,” ujar Niki dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
2. Ada sejumlah kasus penipuan secara digital

Menurut dia, melalui gerakan tersebut, VIDA ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital dapat menghancurkan reputasi, rasa aman, hingga kehidupan sehari-hari para korban.
Pameran “Faces of Fraud” menampilkan kisah nyata dari berbagai latar belakang korban penipuan digital. Salah satunya ialah seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan hidup akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat.
Selain itu, terdapat kasus penyalahgunaan identitas ketika data pribadi korban digunakan untuk mengajukan pinjaman online ilegal tanpa persetujuan. Kasus tersebut disebut menimbulkan tekanan psikologis berkepanjangan bagi korban.
3. Penipuan digital mulai dari manipulasi psikologis

VIDA menilai, modus penipuan digital kini semakin canggih, mulai dari manipulasi psikologis atau social engineering hingga pengambilalihan akun pengguna. Karena itu, perusahaan menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, masyarakat, dan regulator untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman dan tepercaya.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK mencatat 515.345 laporan kasus penipuan sejak November 2024 hingga Maret 2026.
“VIDA hadir tidak hanya sebagai penyedia teknologi, tetapi juga sebagai mitra bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam memerangi penipuan digital yang terus berkembang,” tutup Niki.









![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Kepribadian Ekstrovert](https://image.idntimes.com/post/20240320/tim-mossholder-zhffvw2u93u-unsplash-90788451079a40c7884ed313ca93232a.jpg)


![[QUIZ] Pilih Ide Bisnis, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20240219/pexels-startup-stock-photos-7103-a56a4ee6b878557b98051ffe7f93ee25-bae414e6e8f3154ea4ce8f51e23c7387.jpg)






