Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perang Mineral China-Jepang Memanas, Pasokan Tungsten Terancam
Tungsten digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari bor industri hingga produksi semikonduktor. (pexels.com/Pixabay)
  • China menghentikan pengiriman bahan baku tungsten ke Jepang sejak Januari 2026, setelah ekspor ammonium paratungstate turun dari 688 ton pada 2024 menjadi 158 ton pada 2025.
  • Kelangkaan tungsten memicu kenaikan harga peralatan industri hingga lebih dari tiga kali lipat dan membatasi pasokan produsen kecil, sementara ekspor disprosium serta terbium juga terhenti.
  • Pembatasan ekspor China berdampak pada manufaktur dan pertahanan Jepang; industri kini mengakses cadangan pemerintah, menghemat bahan baku, serta mencari pemasok di luar China.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perusahaan-perusahaan Jepang kini menghadapi krisis pasokan mineral kritis setelah China memperketat pembatasan ekspor atas barang-barang dual-use atau berfungsi ganda yang memiliki kegunaan militer maupun sipil. Langkah Beijing tersebut secara signifikan melumpuhkan rantai pasokan bahan baku penting seperti tungsten dan rare earth element (unsur tanah jarang), memicu lonjakan harga, serta memaksa produsen Jepang membatasi kapasitas produksi.

Tungsten adalah mineral penting yang digunakan dalam pembuatan peralatan potong industri, semikonduktor, hingga sistem persenjataan. Pasokan ini juga menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak akibat pembatasan Beijing.

Sejak awal tahun ini, pengiriman bahan baku tungsten dari China ke Jepang terhenti total. Akibatnya, produsen besar seperti Mitsubishi Materials dan Sumitomo Electric Industries terpaksa menaikkan harga peralatan industri berbasis tungsten hingga lebih dari tiga kali lipat atau melonjak di atas 60 persen untuk item tertentu, dilansir NHK News pada Senin (10/8/2026).

1. Bea cukai China: penurunan tajam pengiriman bahan baku tungsten ke Jepang

Bendera Tiongkok. (Unsplash.com/Macau Photo Agency)

Data bea cukai China mengonfirmasi penurunan tajam pasokan tersebut. Pengiriman ammonium paratungstate (APT), bahan baku utama pembuatan tungsten, dari China ke Jepang merosot dari 688 ton pada 2024 menjadi 158 ton pada 2025, sebelum akhirnya menyentuh angka nol sejak Januari 2026. Penutupan keran ekspor ini menempatkan Jepang pada posisi rentan, mengingat China menguasai sekitar 80 persen produksi bijih tungsten dunia.

Dampak kelangkaan ini dengan cepat meluas ke rantai manufaktur menengah dan kecil. Sebuah perusahaan di Prefektur Nagano yang memproduksi bor industri dan peralatan lainnya mengatakan beberapa pemasok mulai membatasi pesanan sejak musim semi. Jumlah produk yang dapat diperoleh perusahaan tersebut kini hanya sekitar 30 persen dari kuota normal.

Untuk bertahan, para pelaku industri terpaksa menawarkan produk alternatif yang menggunakan lebih sedikit tungsten tanpa mengurangi tingkat kekuatannya. Namun, langkah ini belum mampu memenuhi volume pesanan yang masuk.

2. Pembatasan pasokan berdampak pada indsutri pertahanan Jepang

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz)

Dilansir The Japan Times, pengetatan ekspor ini tidak lepas dari memburuknya hubungan diplomatik kedua negara. Beijing memperketat kontrol barang dwiguna setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan bahwa blokade China terhadap Taiwan dapat dikategorikan sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang dan berpotensi memicu respons dari Pasukan Bela Diri. China merespons keras pernyataan tersebut, menuduh Tokyo melakukan upaya 'remiliterisasi', dan berdalih bahwa kontrol ekspor diperlukan demi menjaga keamanan nasional serta mencegah proliferasi teknologi sensitif.

Selain tungsten, embargo terselubung ini juga menyasar unsur tanah jarang berat seperti disprosium dan terbium. Catatan bea cukai menunjukkan pengiriman disprosium oksida ke Jepang terhenti sejak Oktober 2025, disusul oleh terbium oksida sebulan kemudian. Kedua unsur tanah jarang ini merupakan bahan baku penting untuk magnet permanen berkinerja tinggi yang digunakan pada sistem radar, rudal canggih, motor kendaraan listrik, hingga robotika industri.

3. Jepang mulai mencari pemasok alternatif

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (unsplash.com/Dominik Lückmann)

Pakar keamanan ekonomi Jepang dari Hudson Institute, William Chou, menilai bahwa kebijakan pembatasan ekspor China secara langsung memukul sektor komersial maupun pertahanan Jepang secara mendalam. Langkah ini menjadi ujian paling nyata bagi efektivitas kebijakan keamanan ekonomi dan ketahanan rantai pasokan yang telah dibangun Negeri Sakura selama lebih dari satu dekade untuk menghentikan ketergantungan pada China.

Menghadapi hambatan pasokan ini, industri Jepang mulai mencari akses ke cadangan mineral strategis milik pemerintah, merekayasa efisiensi penggunaan bahan baku, serta berburu pemasok alternatif di luar China. Eskalasi ketegangan ini bahkan mulai memicu insiden hukum, ditandai dengan penahanan dua warga negara Jepang di China atas dugaan upaya membawa keluar produk logam tanah jarang secara ilegal.

Krisis ini memperlihatkan kerentanan mendasar pada industri pertahanan dan manufaktur Jepang, terutama untuk material seperti tungsten yang cadangan nasionalnya jauh lebih terbatas dibanding jenis mineral lainnya. Kebijakan pembatasan ekspor yang terus berlanjut menegaskan bagaimana penguasaan atas sumber daya mineral kritis ini digunakan oleh Beijing sebagai instrumen tekanan geopolitik yang efektif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article