3 Tips Hindari Jebakan Penipuan Online

- Harbolnas 11.11 rawan dimanfaatkan pelaku melalui promo palsu, phishing, dan pesan mengatasnamakan penyelenggara, sehingga konsumen perlu memverifikasi setiap penawaran.
- Konsumen disarankan tetap bertransaksi di dalam platform, bukan melalui WhatsApp atau DM, agar perlindungan dana dan fitur pengembalian dana tetap berlaku.
- Hindari file APK atau tautan cek resi dari chat, serta jangan berikan PIN, OTP, data pribadi, atau akses perangkat kepada customer service palsu.
Jakarta, IDN Times - Momentum Hari Belanja Nasional atau Harbolnas seperti 11.11 menjadi momentum yang ditunggu banyak orang untuk berbelanja dengan harga terbaik. Namun moomen ini dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan promo palsu, tautan phishing, hingga pesan yang mengatasnamakan penyelenggara program.
Karena itu, konsumen perlu lebih cermat dalam memastikan keaslian setiap penawaran saat berburu promo dan hadiah di tanggal kembar. Untuk membantu masyarakat mendapatkan pengalaman belanja yang aman, Direktur Komunikasi DANA Indonesia, Olavina Harahap, memberikan tiga tips utama guna menghindari jebakan penipuan online.
Berikut tipsnya:
1. Tetap bertransaksi dan membayar di dalam platform

Ilustrasi belanja online (pinterest.com) Olavina mengingatkan untuk mewaspadai penjual yang mengajak pindah ke WhatsApp maupun Direct Message (DM) atau pesan langsung dengan iming-iming “diskon tambahan” atau “stok khusus”, lalu meminta transfer langsung.
"Begitu transaksi keluar dari aplikasi, perlindungan pembeli seperti dana ditahan sampai barang diterima dan fitur pengembalian dana tidak lagi berlaku," kata dia, dalam keterangannya, dikutip Minggu (8/11/2026).
Modus ini banyak ditemukan pada penjualan barang preloved dan item game online, seperti akun, skin, maupun item khusus.
2. Jangan buka file atau tautan "cek resi” yang dikirim lewat chat

Ilustrasi tampilan chat WhatsApp. (unsplash.com/Amanz) Saat Harbolnas, banyak orang sedang menunggu paket, dan momen ini dimanfaatkan pelaku dengan mengirim file berakhiran .APK atau tautan berkedok kurir, resi, maupun bukti pembayaran. Begitu file terpasang, pelaku dapat membaca SMS di ponsel, termasuk kode OTP.
Dia menyarankan untuk mengecek status pengiriman hanya melalui aplikasi belanja atau situs resmi kurir.
"Sebagai lapisan perlindungan tambahan, termasuk selama kampanye DANA 11.11, DANA menerapkan Smart Friction, yakni verifikasi tambahan yang muncul ketika ada aktivitas yang terindikasi berisiko lebih tinggi pada akun pengguna," tuturnya.
3. Waspadai customer service palsu saat mengurus refund atau complaint

ilustrasi customer service (pexels.com/Mikhail Nilov) Pelaku kerap menghubungi pengguna yang menyampaikan komplain di media sosial dengan mengaku sebagai customer service DANA. Saran Olavina, jangan terburu-buru mengikuti instruksi, melakukan pembayaran, atau memberikan data pribadi.
Dia mengingatkan untuk memastikan keaslian pihak yang menghubungi melalui kanal resmi DANA atau fitur Scam Checker.
"Ingat, CS resmi DANA tidak pernah meminta PIN, OTP, maupun akses ke perangkat atau layar pengguna," ujarnya.
Jika menemukan aktivitas mencurigakan, dia meminta untuk segera laporkan melalui DIANA atau Pusat Resolusi di aplikasi DANA agar dapat kami tindak lanjuti.






















