Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rusia Pekerjakan 25 Ribu Buruh Korut untuk Rakit Drone Tempur

2 min read
Rusia Pekerjakan 25 Ribu Buruh Korut untuk Rakit Drone Tempur
Bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)
  • Sekitar 25 ribu warga Korea Utara dilaporkan bekerja di kawasan Alabuga, Tatarstan, untuk merakit drone serang Geran-2 Rusia bagi perang di Ukraina.
  • Rusia disebut memakai visa pelajar untuk para buruh Korea Utara; mereka ditempatkan di asrama terisolasi, dokumen perjalanan disita, dan bekerja tanpa perlindungan hak memadai.
  • Upah buruh dipotong 80–90 persen untuk Pyongyang, dengan pemasukan 2025 diperkirakan mencapai 800 juta dolar AS guna membiayai program rudal balistik dan nuklir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Rusia dilaporkan mengerahkan puluhan ribu pekerja asal Korea Utara untuk memproduksi drone tempur yang akan digunakan dalam perang di Ukraina. Langkah ini terpaksa diambil guna mengatasi krisis tenaga kerja di sektor industri pertahanan Moskow.

Kerja sama manufaktur ini sekaligus menjadi sumber pendapatan devisa baru bagi rezim Pyongyang. Meski demikian, pengerahan buruh lintas negara tersebut dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

  1. 1. Pengerahan puluhan ribu buruh Korea Utara ke pabrik Alabuga

    Sekitar 25 ribu warga Korea Utara diperkirakan bekerja di Kawasan Ekonomi Khusus Alabuga, Republik Tatarstan. Fasilitas utama ini berfokus merakit drone serang jenis Geran-2 secara massal guna menyuplai kebutuhan pasukan Rusia di garis depan.

    "Rusia berbagi teknologi dengan Korea Utara untuk mulai memproduksi drone serang dan menyempurnakan rudal," kata Kepala Intelijen Militer Ukraina, Kyrylo Budanov, dilansir The Korea Times.

    Guna menampung ribuan pekerja asing tersebut, Rusia membangun kompleks hunian berskala besar di kawasan industri Alabuga. Penambahan fasilitas permukiman ini mengindikasikan bahwa operasi perakitan senjata bersama tersebut dirancang untuk jangka panjang.

  2. 2. Penggunaan visa pelajar pada pekerja Korea Utara

    Otoritas Rusia menyiasati dengan memberikan visa pelajar bagi para buruh Korea Utara demi menghindari sanksi internasional. Secara administratif, lebih dari 98 persen pekerja tersebut tercatat sebagai mahasiswa asing.

    Selama di lokasi kerja, para buruh ditempatkan di asrama terisolasi dan dilarang berinteraksi dengan warga lokal. Aparat juga menyita dokumen perjalanan mereka, sehingga para buruh terpaksa bekerja berjam-jam tanpa perlindungan hak yang memadai.

  3. 3. Pemotongan upah buruh untuk biayai program nuklir Pyongyang

    Setiap buruh Korea Utara di Rusia rata-rata menghasilkan upah sekitar 7.500 dolar AS (Rp133,32 juta) per tahun. Namun, 80 hingga 90 persen pendapatan tersebut langsung dipotong oleh pejabat kedutaan untuk disetorkan ke kas Pyongyang.

    Secara keseluruhan, pengerahan tenaga kerja ini ditaksir mampu menghimpun pemasukan hingga 800 juta dolar AS (Rp14,22 triliun) sepanjang 2025. Dana hasil perakitan drone ini dialirkan langsung untuk membiayai program pengembangan rudal balistik dan hulu ledak nuklir Korea Utara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More