Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perang Timur Tengah Memanas, Industri Pariwisata RI Terdampak?
Potret wisata Bali (IDN Times/Mela Hapsari)
  • Ketegangan di Timur Tengah akibat serangan AS dan Israel ke Iran membuat sejumlah maskapai menunda penerbangan, berdampak pada industri pariwisata global termasuk Indonesia.
  • InJourney menyebut pariwisata RI masih tangguh berkat pasar domestik yang kuat, terutama menjelang periode mudik Lebaran 2026 dengan mobilitas masyarakat yang meningkat.
  • Pada 2025 jumlah wisatawan domestik tumbuh 14,4 persen menjadi 101 juta, dan InJourney menargetkan tingkat kunjungan tahun ini naik hingga 15 persen meski situasi global belum stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Memanasnya kondisi di Timur Tengah akibat perang yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menyebabkan sejumlah maskapai menghentikan sementara penerbangannya.

Bahkan, maskapai yang berbasis di Timur Tengah, seperti Qatar Airways masih menunda penerbangan akibat penutupan ruang udaranya sejak 28 Februari 2026 lalu. Sementara itu, Etihad Airways, maskapai yang berbasis di Abu Dhabi masih membatasi penerbangan komersialnya.

Menurut Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata atau InJourney, kondisi itu berdampak pada industri pariwisata dunia. Apalagi dengan adanya kebaikab harga minyak dunia.

"Yang terjadi sampai hari ini volatilitas di harga energi, nilai tukar dan lain sebagainya sudah pasti itu impact ke kita semua, sama-sama paham," kata Direktur Commercial InJourney, Veronica Sisilia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/3/2026).

1. Industri pariwisata RI masih bisa bertahan

InJourney terus berkomitmen untuk memperkuat transformasi Borobudur sebagai destinasi pariwisata kultural-spiritual yang inklusif (dok. InJourney)

Veronica menilai, Indonesia masih bisa mengatasi kondisi tersebut, karena kekuatan pasar domestik yang besar. Apalagi, sebentar lagi memasuki periode mudik Lebaran 2026, di mana mobilitas masyarakat meningkat.

Untuk menghadapi periode puncak libur Lebaran, InJourney telah menyiapkan berbagai strategi untuk memberikan pelayanan terbaik.

"Kami ingin semua orang menikmati lebaran ini dengan hati yang semangat pulang mudik, jalan-jalan, ngobrol ke keluarga, naik pesawat dan sebagainya itu yang kami tekankan untuk situasi saat ini," ucap Veronica.

2. Jumlah wisatawan domestik 2025 tumbuh 14 persen

Pantai Kuta Mandalika Lombok Tengah NTB. (dok.ITDC)

Pada 2025, InJourney mencatat jumlah wisatawan domestik mencapai 101 juta, tumbuh 14,4 persen secara year on year (yoy). Adapun jumlah wisatawan mancanegara 1,14 juta.

"Kita masih melihat forecast pertumbuhan wisatawan yang masuk di 2025 penutupan di Desember itu sekitar 14,4 persen. Kami berharap wisata domestik masih kuat," ujar Veronica.

3. InJourney targetkan tingkat kunjungan tumbuh 15 persen

Ilustrasi Grand Hotel De Djokja. (Dok. InJourney)

Tahun ini, InJourney optimistis tingkat kunjungan atau okupansi di fasilitas-fasilitas yang dikelola, baik akomodiasi maupun kawasan wisata bisa tumbuh 10-15 persen.

“Data di 2025 itu pertumbuhan wisatawan kita tuh tumbuh sekitar 14,4 persen, 101 juta wisatawan domestik terjadi. Untuk masuk di Indonesia, wisatawan asing yang masuk sekitar 1,14 juta. Kita semua berharap dengan apapun kondisinya forecast-nya masih baik ya di destinasi kami ada sekitar forecast15 persen,” tutur Veronica.

Editorial Team