Jakarta, IDN Times - Memanasnya kondisi di Timur Tengah akibat perang yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menyebabkan sejumlah maskapai menghentikan sementara penerbangannya.
Bahkan, maskapai yang berbasis di Timur Tengah, seperti Qatar Airways masih menunda penerbangan akibat penutupan ruang udaranya sejak 28 Februari 2026 lalu. Sementara itu, Etihad Airways, maskapai yang berbasis di Abu Dhabi masih membatasi penerbangan komersialnya.
Menurut Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata atau InJourney, kondisi itu berdampak pada industri pariwisata dunia. Apalagi dengan adanya kebaikab harga minyak dunia.
"Yang terjadi sampai hari ini volatilitas di harga energi, nilai tukar dan lain sebagainya sudah pasti itu impact ke kita semua, sama-sama paham," kata Direktur Commercial InJourney, Veronica Sisilia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/3/2026).
