Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Riwayat Harga BBM di Indonesia dari Masa ke Masa, Naik Turun!

Riwayat Harga BBM di Indonesia dari Masa ke Masa, Naik Turun!
PT Pertamina (Persero) menegaskan tidak ada pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax (dok. Pertamina)
Intinya Sih
  • Harga BBM di Indonesia terus berfluktuasi sejak era Soekarno hingga Prabowo, dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global.
  • Setiap presiden memiliki kebijakan berbeda: Soekarno menghadapi hiperinflasi, SBY mencatat kenaikan tertinggi akibat lonjakan harga minyak dunia, sementara Jokowi fokus pada subsidi energi.
  • Pada 2026, harga Pertamax kembali naik signifikan di era Prabowo karena tekanan harga minyak global dan konflik geopolitik internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, harga BBM selalu menjadi perhatian tiap waktunya. Contohnya terjadi pada Juni 2026 ini di mana harga BBM (khususnya Pertamax) mengalami kenaikan cukup signifikan. Menariknya, kenaikan harga BBM tak hanya terjadi sekali atau dua kali, lho.

Apabila meruntut lebih jauh, riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa terus bergejolak karena pernah naik, tetapi beberapa kesempatan sempat turun cukup drastis. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, seperti kebijakan pemerintah hingga kondisi ekonomi global. Yuk, kita telusuri riwayatnya lewat artikel berikut!

Table of Content

1. Harga BBM era Presiden Soekarno

1. Harga BBM era Presiden Soekarno

Masa jabatan Presiden Soekarno cukup lama, mulai 18 Agustus 1945 hingga 12 Maret 1967. Selama masa pemerintahannya, harga BBM sempat naik sebanyak dua kali. Kenaikan pertama terjadi pada 22 November 1965 di mana BBM Premium naik Rp0,3 per liter dan solar naik ke Rp0,2 per liter. Kenaikan kedua terjadi pada 3 Januari 1966 di mana BBM Premium naik ke Rp1,00 per liter dan solar meroket ke Rp0,80 per liter.

Untungnya, pada 27 Januari 1966 harga Premium dan soaor turun menjadi Rp0,5 per liter dan Rp0,4 per liter. Kenaikan BBM pada masa Soekarno dipicu oleh inflasi. Bahkan, pada 1966 sempat terjadi hiperinflasi hingga menyentuh angka 650 persen. Selain BBM, kenaikan harga bahan pokok juga naik secara drastis dan daya beli masyarakat menutun.

2. Harga BBM era Presiden Soeharto

Harga BBM era Presiden Soeharto
Presiden Soeharto (commons.wikimedia.org/Joost Evers/Anefo)

Setelah Soekarno turun dari kursi kepresidenan, Soeharto menjadi penggantinya dan mulai merombak banyak hal dalam sektor pemerintahan. Salah satunya terkait harga BBM.

Selama 32 tahun menjabat, Soeharto tercatat sudah menaikkan harga BBM (solar dan Premium) berkali-kali, mulai 1967 hingga 1998. Berikut riwayatnya.

Harga BBM Era Presiden Soeharto

Harga BBM Era Presiden Soeharto

Tanggal

Harga Premium (per liter)

Harga solar (per liter)

3 Agustus 1967

Rp4

Rp3,5

25 April 1968

Rp16

Rp12,5

1 Juni 1970

Rp25

Rp12,5

1 April 1972

Rp35

Rp14

1 April 1973

Rp41

Rp16

22 April 1974

Rp46

Rp19

1 April 1975

Rp57

Rp22

1 April 1976

Rp70

Rp25

5 April 1979

Rp100

Rp35

1 Mei 1980

Rp150

Rp52,5

4 Januari 1982

Rp240

Rp85

7 Januari 1983

Rp320

Rp145

12 Januari 1984

Rp350

Rp220

1 April 1985

Rp385

Rp242

10 Juli 1986

Rp385

Rp200

24 Mei 1990

Rp450

Rp245

24 Mei 1990

Rp450

Rp245

11 Juli 1991

Rp550

Rp300

8 Januari 1993

Rp700

Rp380

5 Mei 1998

Rp1.200

Rp600

16 Mei 1998

Rp1.000

Rp550

3. Harga BBM era Presiden B.J. Habibie

Presiden B.J. Habibie memang hanya menjabat selama 1 tahun, tapi beliau memberikan efek yang besar bagi perekonomian Indonesia. Efek pertama adalah stabilisasi nilai tukar rupiah yang sempat anjlok pasca krisis moneter pada masa Soeharto.

Selain itu, B.J. Habibie tak pernah menaikkan harga BBM. Dalam hal ini, harga BBM Premium tetap stabil di angka Rp1000 per liter hingga akhir masa jabatannya. Hal tersebut dapat terjadi karena terjadi penurunan harga minyak dunia dari 31,25 dolar per barel (Januari 1998) menjadi 27,66 dolar per barel (Mei 1998).

4. Harga BBM era Presiden Gus Dur

Harga BBM era Presiden Gus Dur
Gus Dur dan Amien Rais (commons.wikimedia.org/National Information and Communication Agency Republic of Indonesia)

Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur merupakan presiden yang menggantikan B.J. Habibie pada 20 Oktober 1999. Sama seperti Habibie, masa pemerintahannya juga singkat, hanya sekitar 1 tahun.

Meskipun singkat, tapi Gus Dur sempat beberapa kali menaikkan harga BBM, lho. Di bawah ini rinciannya.

Harga BBM Era Presiden Gus Dur

Harga BBM Era Presiden Gus Dur

Tanggal

Harga Premium (per liter)

Harga solar (per liter)

1 Oktober 2000

Rp1.150

Rp600

1 April 2001

Rp1.150

Rp990

1 Mei 2001

Rp1.150

Rp1.150

1 Juni 2001

Rp1.150

Rp1.285

16 Juni 2001

Rp1.450

Rp900

1 Juli 2001

Rp1.450

Rp1.250

23 Juli 2001

Rp1.450

Rp1.250

5. Harga BBM era Presiden Megawati

Peran Megawati Soekarnoputri sebagai presiden Indonesia kelima cukup besar dalam menstabilkan harga BBM. Kenaikan harga BBM memang terjadi, tapi beliau juga mampu menurunkan harganya di beberapa kesempatan.

Menariknya, harga BBM di era Megawati tak pernah menyentuh angka Rp2 ribuan. Mau tahu rinciannya? Simak di tabel berikut.

Harga BBM Era Presiden Megawati

Harga BBM Era Presiden Megawati

Tanggal

Harga Premium (per liter)

Harga solar (per liter)

1 Agustus 2001

Rp1.450

Rp1.190

1 September 2001

Rp1.450

Rp955

1 Oktober 2001

Rp1.450

Rp1.000

1 November 2001

Rp1.450

Rp945

1 Desember 2001

Rp1.450

Rp900

1 Januari 2002

Rp1.450

Rp900

17 Januari 2002

Rp1.550

Rp1.150

1 Maret 2002

Rp1.550

Rp1.150

1 April 2002

Rp1.600

Rp1.250

3 Mei 2002

Rp1.750

Rp1.400

1 Juli 2002

Rp1.750

Rp1.350

1 Agustus 2002

Rp1.735

Rp1.325

1 September 2002

Rp1.690

Rp1.360

1 Oktober 2002

Rp1.750

Rp1.440

1 November 2002

Rp1.750

Rp1.550

1 Desember 2002

Rp1.750

Rp1.550

2 Januari 2003

Rp1.810

Rp1.890

21 Januari 2003

Rp1.810

Rp1.650

20 Oktober 2004

Rp1.810

Rp1.650

6. Harga BBM era Presiden SBY

Harga BBM era Presiden SBY
Presiden SBY (commons.wikimedia.org/Cancillería Ecuador)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat selama 10 tahun dari 2004 sampai 2014. SBY juga mencatatkan rekor sebagai presiden yang memberikan kenaikan BBM tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Hal tersebut bukan tanpa alasan karena pada masa pemerintahannya harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu mencapai 140 dolar per barel (2008). Selain itu, pemerintah juga mulai mengurangi subsidi BBM secara bertahap. Berikut riwayat harga BBM era SBY.

Harga BBM Era Presiden SBY

Harga BBM Era Presiden SBY

Tanggal

Harga Premium (per liter)

Harga solar (per liter)

1 November 2004

Rp1.810

Rp1.650

2 Maret 2005

Rp2.400

Rp2.100

1 Oktober 2005

Rp4.500

Rp4.300

24 Mei 2008

Rp6.000

Rp5.500

1 Desember 2008

Rp5.500

Rp5.500

15 Desember 2008

Rp5.000

Rp4.800

15 Januari 2009

Rp4.500

Rp4.500

22 Juni 2013

Rp6.500

Rp5.500

20 Oktober 2014

Rp6.500

Rp5.500

7. Harga BBM era Presiden Joko Widodo

Sama seperti SBY, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menjabat selama 10 tahun (2 periode), mulai 2014 hingga 2024. Ada banyak gejolak yang terjadi di masa jabatannya, mulai dari pandemi COVID-19 hingga banyaknya perubahan kebijakan nasional. Jokowi juga berfokus pada pembangunan infrastruktur dan subsidi energi.

Karena itu, harga BBM di era Jokowi sempat mengalami kenaikan dan penurunan yang cukup bergejolak. Berikut rinciannya.

Harga BBM Era Presiden Joko Widodo

Harga BBM Era Presiden Joko Widodo

Tanggal

Harga Premium (per liter)

Harga solar (per liter)

November 2014

Rp8.500

Rp7.500

Januari 2015

Rp7.600

Rp7.250

Januari 2015

Rp6.600

Rp6.400

Maret 2015

Rp7.300

Rp6.900

Januari 2016

Rp6.600

Rp6.400

Harga BBM Era Presiden Joko Widodo

Harga BBM Era Presiden Joko Widodo

Tanggal

Harga Pertalite (per liter)

Harga Pertamax (per liter)

Harga solar (per liter)

20 Januari 2018

Rp7.600

Rp10.400

Rp9.800

24 Maret 2018

Rp7.800

Rp10.400

Rp9.800

September 2022

Rp10.000

R10.400

Rp6.800

8. Harga BBM era Presiden Prabowo

Harga BBM era Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Subianto dalam Munas HIPMI pada Rabu (10/6/2026). (YouTube/ Sekretariat Presiden)

Pada era Presiden Prabowo Subianto sempat tak ada kenaikan BBM selama beberapa waktu. Namun, berbagai hal seperti konflik Iran-Amerika dan kenaikan harga minyak global memaksa pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Tercatat, kenaikan BBM pada era Presiden Prabowo sempat terjadi selama beberapa kali. Berikut penjelasannya lewat tabel.

Harga BBM Era Presiden Prabowo

Harga BBM Era Presiden Prabowo

Tanggal

Harga Pertamax (per liter)

Harga Pertamax Green 95 (per liter)

Harga Pertamax  Turbo (per liter)

Harga Dexlite (per liter)

Harga Pertamax Dex (per liter)

1 Maret 2026

Rp12.300

Rp12.900

Rp13.100

Rp14.200

Rp14.500

18 April 2026

Rp12.300

Rp12.900

Rp19.400

Rp23.600

Rp23.900

4 Mei 2026

Rp12.300

Rp12.900

Rp19.900

Rp26.000

Rp27.900

10 Juni 2026

Rp16.250

Rp17.000

Rp19.900

Rp26.000

Rp27.900

Itulah riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa mulai dari era Soekarno, SBY, hingga Prabowo. Dari riwayat tersebut juga terlihat bahwa harga BBM terus bergejolak mengikuti perkembangan dunia dan negara. Jadi, bagaimana perkembangan harga BBM menurutmu?

FAQ seputar riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa

Bagaimana riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa?

Riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa terus berkembang, mulai dari harganya yang hanya Rp0,2 per liter di era Soekarno hingga melonjak menjadi Rp27.900 per liter pada masa pemerintahan Prabowo.

Kapan BBM Indonesia mencapai harga tertingginya?

BBM Indonesia mencapai harga tertingginya di era Presiden Prabowo dengan harga sekitar Rp6.800 per liter (Bio Solar) hingga Rp27.900 per liter (Pertamina Dex).

Bagaimana pemerintah menyiasati naik turunnya harga BBM?

Pemerintan menyiasati naik turunnya harga BBM dengan memberikan subsidi, penyaluran konpensasi, hingga mengatur distribusi.

Apa saja penyebab harga BBM di Indonesia naik turun?

BBM di Indonesia bisa naik turun karena beberapa hal, seperti harga minyak dunia yang tak stabil, adanya kebijakan baru, kelangkaan bahan baku, hingga memanasnya kondisi politik dalam negeri.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lea Lyliana
EditorLea Lyliana

Related Articles

See More