Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

DPR Soroti Pariwisata RI Bisa Menurun Imbas Penutupan Selat Hormuz

DPR Soroti Pariwisata RI Bisa Menurun Imbas Penutupan Selat Hormuz
Wisatawan mancanegara saat tiba di Pelabuhan Gili Trawangan menggunakan kapal cepat dari Bali. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Intinya Sih
5W1H
  • DPR menyoroti potensi penurunan sektor pariwisata akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga tiket pesawat serta biaya akomodasi.
  • Penutupan Selat Hormuz dinilai dapat mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya logistik, serta berdampak pada naiknya biaya impor dan ekspor Indonesia.
  • Kenaikan harga minyak dunia akibat situasi tersebut berpotensi menambah beban negara dan mendorong kenaikan harga barang serta jasa di berbagai sektor ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia memprediksi sektor pariwisata bisa terkena dampak negatif dari konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Menurunnya sektor pariwisata ini disebabkan karena penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat dan biaya akomodasi. Hal itu dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

1. Dampaknya merambat ke berbagai sektor ekonomi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurutnya, dampak negatif dari gangguan pasokan energi dan logistik dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi. Dampak ini juga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Meski demikian, penutupan Selat Hormuz menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, efisien, dan mandiri.

“Pemerintah dan dunia usaha perlu mengambil langkah-langkah mitigasi risiko dan strategi adaptasi yang komprehensif, pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif kepada dunia usaha untuk melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengembangkan industri substitusi impor,” kata Chusnunia dalam keterangannya, dikutip Selasa (3/3/2026).

2. Ganggu jalur perdagangan, picu kenaikan biaya logistik

ilustrasi ekspor-impor
ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Chusnunia juga mengingatkan, penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan global sekaligus memicu kenaikan biaya logistik dalam waktu dekat.

“Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global yang menjadi pintu keluar-masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk yang artinya gangguan di jalur ini tidak hanya mempengaruhi perdagangan internasional,” tuturnya.

Ia pun menyebut situasi ini pasti berdampak kepada para pelaku usaha di mana situasi ini berpotensi pada peningkatan biaya perdagangan akibat eskalasi konflik.

“Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat terlebih Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energinya,” jelasnya.

3. Harga barang-jasa berpotensi naik

ilustrasi ekspor-impor
ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Lebih lanjut, terangnya, penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Satu di antaranya adalah setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp 10,3 triliun.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa secara keseluruhan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menghadap Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan kondisi terkini geopolitik di Timur Tengah. Salah satunya ancaman penutupan Selat Hormuz di Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah ke Tanah Air.

Bahlil menegaskan pemerintah perlu melakukan antisipasi cepat mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak sebesar 1 juta barel per hari. Menurutnya, stabilitas pasokan energi nasional menjadi prioritas di tengah ketegangan Timur Tengah.

"Mungkin (laporan) menyangkut dengan kondisi terkini, geopolitik ya, menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz di Iran. Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Terkait pergerakan pasar, Bahlil mengakui harga minyak mentah dunia sudah mulai merangkak naik secara perlahan. Meski demikian, Bahlil memastikan kondisi subsidi BBM di dalam negeri sejauh ini belum terdampak.

"Sampai dengan hari ini nggak ada masalah. Tapi kan harga dunia kan pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang tetap terus memanas di Timur Tengah," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta
Follow Us

Latest in News

See More