Purbaya Beberkan Penerimaan Pajak Januari Tumbuh 30 Persen

- Pertumbuhan penerimaan pajak didorong oleh kenaikan penerimaan bruto sebesar 7 persen dan penurunan restitusi pajak hingga 23 persen.
- Seluruh jenis pajak mencatat pertumbuhan positif secara neto, menunjukkan adanya pembalikan arah dalam pendapatan negara.
- Penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari target APBN.
Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat realisasi penerimaan pajak hingga akhir Januari, mencapai Rp116,2 triliun. Capaian tersebut setara dengan 4,9 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar Rp2.357,7 triliun.
“Kinerja penerimaan pajak tercatat tumbuh tinggi, mencapai 30,8 persen secara tahunan (year on year/yoy),” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
1. Faktor pendorong penerimaan pajak naik di Januari

Ia menjelaskan, tingginya pertumbuhan penerimaan pajak pada Januari ditopang oleh kenaikan penerimaan pajak secara bruto sebesar 7 persen serta penurunan signifikan restitusi pajak hingga 23 persen (yoy). Menurutnya, seluruh jenis pajak mencatatkan pertumbuhan positif secara neto.
“Gambaran penerimaan pajak Januari menunjukkan adanya pembalikan arah, sehingga pendapatan negara tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkapnya.
2. Penerimaan bea dan cukai kontraksi 14 persen

Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari target APBN. Namun, pos ini mengalami kontraksi sebesar 14 persen (yoy).
“Penurunan penerimaan bea dan cukai dipengaruhi oleh meningkatnya impor dengan tarif 0 persen yang mencapai 29 persen,” jelas Purbaya.
3. Lesunya harga CPO juga ikut pengaruhi penerimaan bea cukai

Selain itu, penurunan juga dipicu oleh merosotnya harga crude palm oil (CPO) dari 1.059 dolar AS per metrik ton menjadi 916 dolar AS per metrik ton, atau turun 13,5 persen.
Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target APBN. Angka ini turun 19,7 persen secara tahunan.
Penurunan PNBP tersebut disebabkan oleh tidak berulangnya penerimaan dividen perbankan senilai sekitar Rp10 triliun, seperti yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
















