Ilustrasi smelter nikel. (Pixabay/Ferdinand Kozeluh)
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) sesuai kebutuhan pengolahan. Bijih nikel dari Filipina dapat digunakan melalui proses blending untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Kerja sama pasokan nikel Indonesia-Filipina kemudian diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) pada Mei 2026.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita," ujar Airlangga.
Airlangga menyebut nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai 9,73 miliar dolar AS pada 2025. Investasi di sektor hilirisasi nikel diproyeksikan mencapai 47,36 miliar dolar AS dan menyerap 180.600 tenaga kerja pada 2030.