Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
RI Impor 11,4 Juta Ton Bijih Nikel dari Filipina hingga Juli 2026
ilustrasi nikel (unsplash.com/Paul-Alain Hunt)
  • BPS mencatat impor 11,4 juta ton bijih nikel dan konsentrat dari Filipina sepanjang Januari-Juli 2026, senilai 696,5 juta dolar AS.
  • Pencatatan impor BPS bersumber dari dokumen PIB Bea Cukai dan hanya berdasarkan pintu masuk atau pelabuhan.
  • Pasokan bijih nikel Filipina digunakan melalui blending untuk kebutuhan smelter dan pengolahan di Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai 9,73 miliar dolar AS.

Mei 2026

APNI dan PNIA menandatangani nota kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation.

Januari-Juli 2026

Indonesia mengimpor 11,4 juta ton bijih nikel dan konsentrat dari Filipina senilai 696,5 juta dolar AS.

Selasa (1/9/2026)

Ateng Hartono menyampaikan data impor bijih nikel dan konsentrat dari Filipina dalam konferensi pers.

2030

Investasi sektor hilirisasi nikel diproyeksikan mencapai 47,36 miliar dolar AS dan menyerap 180.600 tenaga kerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Indonesia mengimpor 11,4 juta ton bijih nikel dan konsentrat dari Filipina senilai 696,5 juta dolar AS.
  • Who?
    BPS mencatat data impor tersebut; Ateng Hartono dan Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan terkait impor dan pasokan nikel.
  • Where?
    Impor dicatat berdasarkan pintu masuk atau pelabuhan di Indonesia, dengan pasokan berasal dari Filipina.
  • When?
    Impor berlangsung sepanjang Januari-Juli 2026 dan disampaikan Ateng Hartono dalam konferensi pers Selasa (1/9/2026).
  • Why?
    Smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel stabil dengan rasio Si:Mg sesuai kebutuhan pengolahan.
  • How?
    BPS menggunakan dokumen Pemberitahuan Impor Barang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; bijih Filipina dapat dipakai melalui proses blending.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia membeli banyak batu nikel dari Filipina, yaitu 11,4 juta ton dari Januari sampai Juli 2026. BPS menghitungnya dari kertas impor di pelabuhan. Pak Ateng dari BPS menjelaskan datanya tidak menunjukkan tujuan provinsi atau nama perusahaan. Pak Airlangga bilang batu nikel itu bisa dicampur untuk smelter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pencatatan impor melalui dokumen Pemberitahuan Impor Barang memberi dasar data agregat bagi BPS untuk merekam arus bijih nikel di pintu masuk. Di sisi pasokan, bijih dari Filipina dapat melalui proses blending sesuai kebutuhan smelter. Kerja sama APNI dan PNIA juga telah diperkuat lewat nota kesepahaman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor 11,4 juta ton bijih nikel dan konsentrat dari Filipina sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor komoditas dengan kode HS 26040000 tersebut mencapai 696,5 juta dolar Amerika Serikat (AS).

"Itu bijih nikel dan konsentratnya dari Filipina pada kondisi Januari sampai dengan Juli tahun 2026 mencapai 11,4 juta ton ya, atau dalam nilainya 696,5 juta dolar AS ya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).

1. Data impor BPS berasal dari dokumen Bea Cukai

ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Ateng menjelaskan, BPS mencatat impor berdasarkan pintu masuk atau pelabuhan. Data tersebut bersumber dari dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Namun, dokumen PIB yang digunakan BPS tidak memuat informasi mengenai provinsi tujuan impor. Karena itu, BPS tidak dapat menyajikan data impor bijih nikel Filipina berdasarkan provinsi tujuan.

"Nah, BPS hanya mencatat impor dari pintu masuk atau dari pelabuhan, yang utamanya kita sumbernya, pencatatan dari dokumen pemberitahuan impor barang atau PIB ya, yang kami peroleh dari Ditjen Bea dan Cukai," ujar dia.

2. BPS tak publikasikan data perusahaan importir

Ilustrasi tambang nikel (pexels.com/AnimGraph Lab)

BPS juga tidak mempublikasikan data impor berdasarkan perusahaan. Ateng mengatakan hal tersebut berkaitan dengan ketentuan dalam undang-undang mengenai kerahasiaan data. Dengan demikian, data yang disajikan BPS hanya dalam bentuk agregat.

"Impor menurut perusahaan kami tidak mempublikasikan karena ini amanah undang-undang ya. Jadi kami hanya menyajikan untuk data agregatnya ya," tuturnya.

3. Ekosistem hilirisasi nikel butuh pasokan bijih

Ilustrasi smelter nikel. (Pixabay/Ferdinand Kozeluh)

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) sesuai kebutuhan pengolahan. Bijih nikel dari Filipina dapat digunakan melalui proses blending untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kerja sama pasokan nikel Indonesia-Filipina kemudian diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) pada Mei 2026.

"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita," ujar Airlangga.

Airlangga menyebut nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai 9,73 miliar dolar AS pada 2025. Investasi di sektor hilirisasi nikel diproyeksikan mencapai 47,36 miliar dolar AS dan menyerap 180.600 tenaga kerja pada 2030.

Curated For You

Editorial Team

Related Article