Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Riset Ipsos: Efek Purbaya Bikin Optimisme Konsumen Pulih pada 2026
ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni (unsplash.com/Heru Dharma)
  • Riset Ipsos menunjukkan tahun 2025 menjadi masa penuh tantangan ekonomi dan ketenagakerjaan, namun kepercayaan konsumen Indonesia mulai menguat menjelang akhir tahun.
  • Efek Purbaya mendorong pemulihan indeks kepercayaan konsumen setelah gejolak ekonomi, menandakan meningkatnya keyakinan publik terhadap stabilitas kebijakan finansial nasional.
  • Mayoritas masyarakat optimistis menghadapi 2026 dengan harapan kondisi keuangan pribadi membaik, didukung kesiapan menghadapi transformasi teknologi seperti AI di dunia kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tahun 2025 dianggap sebagai periode menantang oleh masyarakat Indonesia, terutama dari sisi kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Kendati begitu, di tengah tekanan tersebut kepercayaan konsumen menunjukkan tanda-tanda penguatan menjelang akhir tahun, yang menandakan munculnya optimisme baru terhadap arah perekonomian nasional.

Temuan ini disampaikan dalam laporan terbaru Ipsos, salah satu perusahaan riset pasar terkemuka di dunia, bertajuk “Ipsos Bright Horizons Insights 2026.”

Studi Ipsos menunjukkan, persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi sepanjang 2025 tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan fenomena global. Meski demikian, Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan sentimen publik yang lebih cepat dibandingkan rata-rata global, khususnya menjelang akhir 2025.

1. Pengangguran jadi perhatian utama masyarakat

ilustrasi pengangguran (IDN Times/Aditya Pratama)

Sebanyak 52 persen masyarakat Indonesia menganggap pengangguran sebagai salah satu perhatian utama mereka, hampir sejajar dengan isu kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Tingginya perhatian terhadap ketenagakerjaan mencerminkan pentingnya stabilitas pekerjaan sebagai fondasi keamanan ekonomi rumah tangga.

Selain itu, 49 persen responden melaporkan mengenal seseorang yang kehilangan pekerjaan dalam enam bulan terakhir, sedangkan 29 persen menyatakan bahwa mereka percaya berpotensi kehilangan pekerjaan mereka sendiri dalam enam bulan ke depan.

2. Purbaya's effect kuatkan indeks karyawan konsumen

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Triyan).

Kemudian, di tengah tingginya perhatian publik terhadap isu ekonomi, Indonesia menunjukkan penguatan yang terdapat dalam Ipsos Global Consumer Confidence Index (GCCI) yang relatif stabil dan berada di atas rata-rata global.

Tren ini mencerminkan apa yang dikenal sebagai “Purbaya’s Effect,” yaitu meningkatnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Pada Agustus 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global (57,6) dalam GCCI. Pada September 2025, indeks menurun tajam ke peringkat kesembilan (52,3) setelah terjadinya gejolak di berbagai kota.

Namun, setelah Purbaya diangkat sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, kepercayaan konsumen mulai pulih secara bertahap dan tetap stabil hingga Januari, mencapai 62,6 poin.

"Hasil Ipsos Global Consumer Confidence Index (GCCI) menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap arah ekonomi nasional mulai kembali. Purbaya’s Effect mencerminkan persepsi positif terhadap stabilitas kebijakan dan pengelolaan ekonomi, meskipun tantangan struktural masih ada," tutur Managing Director Ipsos Indonesia, Hansal Savia, dikutip Selasa (24/2/2026).

3. Mulai pulihnya optimisme finansial pribadi

ilustrasi rencana finansial (freepik.com/rawpixel.com)

Sementara itu, pemulihan kepercayaan juga terlihat pada tingkat individu. Sebanyak 64 persen masyarakat Indonesia memperkirakan kondisi keuangan pribadi mereka akan membaik dalam enam bulan ke depan.

Optimisme ini paling kuat dirasakan oleh gen Z serta kelompok berpendapatan rendah dan menengah, yang sebelumnya paling terdampak oleh tekanan ekonomi.

Seiring meningkatnya optimisme finansial, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan kenyamanan yang lebih besar dalam melakukan pengeluaran, meskipun sikap kehati-hatian tetap dipertahankan.

4. AI dan dunia kerja serta optimisme hadapi 2026

ilustrasi Artificial Intelligence (unsplash.com/Steve Johnson)

Transformasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) juga menjadi salah satu perhatian penting masyarakat Indonesia. Sebanyak 76 persen responden percaya bahwa AI berpotensi menghilangkan banyak pekerjaan, sedangkan 68 persen meyakini AI akan menciptakan jenis pekerjaan baru.

Temuan ini menunjukkan masyarakat Indonesia memandang AI sebagai perubahan yang tidak terelakkan, dengan fokus pada kesiapan tenaga kerja dan adaptasi keterampilan.

“Masyarakat Indonesia tidak menolak AI, namun mereka menyadari dampaknya terhadap dunia kerja. Tantangannya adalah memastikan transisi ini berjalan inklusif, didukung oleh peningkatan keterampilan dan kesiapan tenaga kerja," kata Hansal.

Ke depannya, mayoritas masyarakat Indonesia memandang 2026 dengan optimisme yang lebih besar. Sembilan dari sepuluh orang Indonesia percaya bahwa 2026 akan menjadi tahun yang lebih baik dibandingkan 2025.

Selain itu, 80 persen responden memperkirakan pendapatan yang dapat dibelanjakan akan meningkat, sedangkan 81 persen meyakini kondisi ekonomi global akan membaik.

Editorial Team