Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rontokkan Dolar AS, Rupiah Menguat ke Rp17.851 Sore Ini
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup menguat 71 poin ke level Rp17.851 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin, mencerminkan penguatan sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Ketegangan antara AS dan Iran sempat mengguncang pasar akibat serangan di Selat Hormuz, namun rencana pembicaraan damai di Qatar membantu meredam lonjakan harga minyak.
  • Pernyataan hawkish pejabat The Fed dan data sentimen konsumen AS turut memengaruhi pasar, sementara rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif dengan potensi penguatan pada perdagangan berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
akhir pekan lalu

AS dan Iran saling melancarkan serangan akibat ketidaksepakatan di Selat Hormuz, memperlambat distribusi minyak dan memicu kekhawatiran pasar.

hari Jumat

Data ekonomi AS menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk bulan Juni naik menjadi 49,5, melebihi perkiraan sebelumnya.

29 Juni 2026

Rupiah menguat 71 poin ke level Rp17.851 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini, didorong oleh pelemahan dolar AS dan sentimen global.

30 Juni 2026

Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi tetap ditutup menguat dalam rentang Rp17.800–Rp17.860 per dolar AS.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin sore, mencapai posisi Rp17.851 per dolar AS setelah naik 71 poin atau sekitar 0,40 persen dari penutupan sebelumnya.
  • Who?
    Pergerakan ini melibatkan pelaku pasar valuta asing di Indonesia, dengan pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memberikan analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penguatan rupiah.
  • Where?
    Perdagangan berlangsung di pasar valuta asing domestik Indonesia, dengan data kurs mengacu pada laporan Bloomberg dari Jakarta.
  • When?
    Kenaikan nilai tukar terjadi pada penutupan perdagangan hari Senin, 29 Juni 2026, dan menjadi acuan untuk pembukaan pasar keesokan harinya.
  • Why?
    Penguatan rupiah dipicu oleh meredanya ketegangan AS-Iran serta sentimen positif dari data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang masih ketat.
  • How?
    Pada sesi perdagangan sore, rupiah sempat menguat hingga 85 poin sebelum ditutup naik 71 poin; proyeksi menunjukkan pergerakan fluktuatif antara Rp17.800–Rp17.860 per dolar AS pada hari berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari ini uang rupiah jadi lebih kuat dari dolar Amerika. Sekarang satu dolar harganya Rp17.851. Katanya ada masalah antara Amerika dan Iran yang bikin orang-orang di pasar khawatir, tapi mereka mau bicara damai di Qatar. Orang di bank besar Amerika juga ngomong soal harga dan bunga uang. Besok katanya rupiah bisa naik lagi sedikit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penguatan rupiah sebesar 71 poin ke level Rp17.851 menunjukkan ketahanan pasar domestik di tengah tekanan global, termasuk ketegangan geopolitik AS-Iran dan kebijakan moneter ketat The Fed. Fakta bahwa rupiah mampu menguat meski sentimen eksternal beragam mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan prospek perdagangan yang tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan Senin (29/6/2026). Rupiah memarkir posisinya di level Rp17.851 per dolar AS saat penutupan pasar sore ini.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut menunjukkan rupiah berhasil menguat 71 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.922 per dolar AS.

1. Ketegangan AS-Iran memicu kekhawatiran pasar

​Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, peningkatan permusuhan antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu sempat menimbulkan keraguan atas kesepakatan damai mereka. Padahal, kedua pihak berkomitmen untuk melakukan lebih banyak pembicaraan di Qatar minggu ini.

​"Kondisi pasokan yang membaik juga menekan harga minyak karena aliran melalui Selat Hormuz kembali mendekati tingkat sebelum perang pekan lalu. Namun, serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran," kata Ibrahim.

​AS dan Iran saling melancarkan serangan hingga akhir pekan lalu akibat ketidaksepakatan mengenai klaim otoritas Teheran di Hormuz. Serangan tersebut sempat memperlambat aliran distribusi di Hormuz dan menaikkan harga minyak pada hari Senin.

Namun, kenaikan harga minyak tersebut berhasil dibatasi oleh laporan Axios bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk segera menghentikan permusuhan dan mengadakan pembicaraan baru di Qatar.

​Di sisi lain, konflik antara Israel dan Lebanon tetap menjadi penghalang besar antara AS dan Iran, karena Teheran menuntut agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan damai besar. Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon terus bentrok di Lebanon Selatan meskipun upaya mediasi gencatan senjata berulang kali dilakukan.

2. Sentimen pernyataan hawkish pejabat The Fed dan data konsumen AS​

Pasar juga mencermati pernyataan dari beberapa pejabat Bank Sentral AS (The Fed) yang cenderung hawkish, yakni kebijakan moneter ketat seperti kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi. ​Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperkirakan adanya satu kenaikan suku bunga pada tahun 2026 karena inflasi yang meluas.

Sementara, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut inflasi inti masih terlalu tinggi dan bergerak ke arah yang salah. Presiden Fed New York John Williams ikut menambahkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, walau kebijakan saat ini dinilai sudah tepat.

​Sementara itu, data ekonomi AS pada hari Jumat menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk bulan Juni membaik dari 48,9 menjadi 49,5, melebihi perkiraan dan angka Mei sebesar 44,8.

"Data lebih lanjut menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi untuk satu tahun tidak berubah pada 4,6 persen dan untuk lima tahun pada 3,3 persen, turun dari 3,4 persen pada pembacaan sebelumnya," ujar Ibrahim.

3. Rupiah diproyeksi masih fluktuatif pada Selasa

Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah berhasil ditutup menguat 71 poin di level Rp17.851 setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi penguatan hingga 85 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.

Sedangkan untuk perdagangan Selasa (30/6/2026), mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun berpotensi tetap ditutup menguat. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak direntang Rp17.800 hingga Rp17.860 per dolar AS.

Editorial Team

Related Article