Sementara itu, dari faktor eksternal, pelaku pasar saat ini menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Inflasi PCE AS diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan sehingga tingkat inflasi tahunan berpotensi naik menjadi 3,4 persen. Jika data tersebut sesuai atau bahkan lebih tinggi dari ekspektasi, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya akan semakin besar.
"Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan berikutnya," jelasnya.