Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Dibuka Lesu ke Rp17.965 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka melemah ke Rp17.965 per dolar AS, turun 13 poin atau 0,07 persen dibanding penutupan sebelumnya, sementara mayoritas mata uang Asia justru menguat.
  • Pelemahan rupiah dipicu ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed yang mendorong penguatan indeks dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.
  • Pelaku pasar menanti rilis data inflasi PCE AS yang bisa memperkuat peluang kebijakan suku bunga tinggi, membuat dolar AS berpotensi makin kuat dan rupiah tertekan di kisaran Rp17.900–Rp18.000.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
25 Juni 2026

Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.965 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, turun 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Mayoritas mata uang Asia lainnya justru menguat terhadap dolar AS.

kini

Pasar menantikan rilis data inflasi PCE Amerika Serikat yang diperkirakan naik 0,3 persen secara bulanan dan berpotensi mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.965 per dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Kamis pagi, turun 13 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Who?
    Pergerakan ini melibatkan pelaku pasar valuta asing di Indonesia, dengan analisis disampaikan oleh Analis Pasar Uang Lukman Leong mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah.
  • Where?
    Perdagangan berlangsung di pasar valuta asing domestik Indonesia, dengan data nilai tukar mengacu pada laporan Bloomberg dari Jakarta.
  • When?
    Pelemahan rupiah terjadi pada Kamis pagi, 25 Juni 2026, saat pembukaan perdagangan mata uang di pasar Asia.
  • Why?
    Pelemahan dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve serta penguatan indeks dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang.
  • How?
    Mata uang regional mayoritas menguat sementara rupiah tertekan; aliran dana asing masuk ke pasar obligasi belum cukup menopang karena sebagian berasal dari perpindahan investasi dari pasar saham domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pagi ini uang rupiah jadi lemah waktu ditukar sama dolar Amerika. Sekarang satu dolar harganya Rp17.965. Katanya karena orang-orang pikir bank besar di Amerika mau naikkan bunga, jadi dolar makin kuat. Uang dari negara lain banyak yang naik, tapi rupiah malah turun sedikit. Sekarang semua masih nunggu kabar tentang harga barang di Amerika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level Rp17.965 per dolar AS atau melemah 13 poin (0,07 persen) dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

1. Rincian mata uang di Asia mayoritas menguat

Bila dirinci, rupiah melemah di antara mata uang negara lain yang alami penguatan, berikut rinciannya:

  • Bath Thailand menguat 0,03 persen

  • Ringgit Malaysia menguat 0,55 persen

  • Rupee India menguat 0,08 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,19 persen

  • Yen Jepang menguat 0,06 persen

Sedangkan yang alami pelemahan hanya beberapa yakni

  • Won Korea melemah 0,33 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,26 persen

2. Naiknya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed

Analis Pasar Uang, Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Meningkatnya peluang pengetatan kebijakan moneter AS telah mendorong indeks dolar AS menguat dan mencapai level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Dari dalam negeri, sentimen pasar cenderung beragam karena tidak ada rilis data ekonomi utama yang menjadi katalis pergerakan rupiah. Meski demikian, aliran dana asing masih tercatat masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN)," tegasnya.

Namun, masuknya dana asing ke pasar obligasi belum sepenuhnya mampu menopang rupiah. Pasalnya, sebagian besar dana tersebut berasal dari perpindahan investasi asing yang keluar dari pasar ekuitas domestik.

3. Faktor eksternal karena pelaku pasar nantikan rilis data inflasi AS

Sementara itu, dari faktor eksternal, pelaku pasar saat ini menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Inflasi PCE AS diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan sehingga tingkat inflasi tahunan berpotensi naik menjadi 3,4 persen. Jika data tersebut sesuai atau bahkan lebih tinggi dari ekspektasi, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya akan semakin besar.

"Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan berikutnya," jelasnya.

Editorial Team

Related Article