Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tembus Rp17.952, Pasar Waspadai Suku Bunga AS

Rupiah Tembus Rp17.952, Pasar Waspadai Suku Bunga AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.952 per dolar AS, turun 93 poin atau 0,52 persen dibanding penutupan sebelumnya.
  • Pasar global mencermati perkembangan hubungan AS-Iran setelah adanya keringanan sanksi dan ketidakpastian soal inspeksi nuklir serta akses dana Iran.
  • Investor menunggu arah kebijakan The Fed yang berpotensi menaikkan suku bunga, sementara rupiah diproyeksi masih fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026). Rupiah menutup hari di level Rp17.952 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 93 poin atau 0,52 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Rupiah bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga 105 poin sebelum memperkecil pelemahannya.

1. Pasar masih menimbang hasil pembicaraan AS-Iran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar global masih mencermati perkembangan hubungan antara AS dan Iran. Menurut dia, AS telah memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Iran setelah berlangsungnya pembicaraan perdamaian tahap awal.

Kebijakan itu memungkinkan Iran kembali menjual minyak, di tengah meredanya ketegangan di Lebanon. Meski demikian, Ibrahim menilai sejumlah isu penting masih menyisakan ketidakpastian, termasuk terkait inspeksi program nuklir Iran dan akses terhadap dana Iran yang sebelumnya dibekukan.

Dia menjelaskan Oman dan Iran sepakat melanjutkan diskusi mengenai pengelolaan navigasi di Selat Hormuz. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan setiap upaya Iran untuk mengenakan biaya transit akan bertentangan dengan hukum internasional.

"Namun, ketidakpastian tetap ada mengenai keberlanjutan kesepakatan tersebut," kata Ibrahim.

Menurut dia, ketidakpastian muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas. Namun, pemerintah Iran membantah telah memberikan konsesi tersebut dalam proses negosiasi.

2. Investor fokus pada arah kebijakan The Fed

Ibrahim mengatakan para pelaku pasar kini melihat peluang yang lebih besar bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya setelah pertemuan terakhir bank sentral AS dan sejumlah pernyataan pejabatnya yang bernada agresif.

"Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen pada bulan September, dan sepenuhnya memperkirakan kenaikan lainnya pada bulan Desember," ujar Ibrahim.

Meski tidak ada data ekonomi penting AS yang dijadwalkan rilis hari ini, investor tetap menunggu publikasi Core Personal Consumption Expenditures (PCE) atau Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti. Data tersebut dapat digunakan The Fed untuk menentukan arah suku bunga.

3. Rupiah diproyeksi masih melemah pada Kamis

Untuk perdagangan Kamis (25/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Namun, mata uang Garuda diproyeksikan ditutup melemah dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More