Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.612 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen ke Rp17.612 per dolar AS pada perdagangan Selasa, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp17.640.
  • Analis memproyeksikan rupiah bergerak konsolidatif dalam rentang Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS, didukung koreksi indeks dolar AS sekitar 0,2 persen ke 98,9.
  • Kenaikan minyak Brent sekitar 97 dolar AS dan WTI 92 dolar AS per barel akibat konflik Timur Tengah membatasi penguatan rupiah karena meningkatkan kebutuhan devisa impor energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada level Rp17.612 per dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026)

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan kemarin.

1. Mayoritas mata uang menguat

Daftar mata uang di Asia bergerak menguat dengan rincian

  1. Bath Thailand menguat 0,06 persen

  2. Pesso Filipina menguat 0,13 persen

  3. Won Korea menguat 7,33 persen

  4. Dolar Taiwan menguat 0,06 persen

  5. Yen Jepang menguat 1,35 persen

2. Rupiah akan alami konsolidasi hari ini

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Minimnya rilis data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas. Lukman mengatakan, rupiah masih berpeluang mendapat dukungan dari pelemahan indeks dolar AS (DXY). DXY tercatat terkoreksi sekitar 0,2 persen menjadi 98,9.

"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting baik dari internal maupun eksternal hari ini," ujar Lukman, Selasa (8/9/2026).

3. Kenaikan harga minyak mentah dunia bisa jadi sentimen negatif rupiah

Namun, ruang penguatan rupiah masih tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak Brent telah menembus sekitar 97 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 92 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membayar impor energi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga berpotensi mendorong investor memilih aset yang lebih aman. Sebagai gambaran, rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.640 per dolar AS.

"Jadi pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS," kata Lukman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article