Namun, ruang penguatan rupiah masih tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak Brent telah menembus sekitar 97 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 92 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membayar impor energi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga berpotensi mendorong investor memilih aset yang lebih aman. Sebagai gambaran, rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.640 per dolar AS.
"Jadi pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS," kata Lukman.