Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Dinilai Masih Punya Ruang untuk Menguat, Ini Faktornya
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS berkat meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi pemerintah dan Bank Indonesia.
  • Tiga faktor utama penopang rupiah adalah kebijakan suku bunga BI, penyesuaian harga BBM yang memperbaiki persepsi fiskal, serta efisiensi anggaran pada sejumlah program pemerintah.
  • Pasar merespons positif kebijakan ekonomi domestik, menjadikan rupiah salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia, didukung pula oleh sentimen global yang mulai membaik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan mata uang Garuda.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan rupiah berpotensi menguat menuju level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.

"Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," ujar Fakhrul Selasa, (17/6/2026).

1. Terlihat ada perbaikan nyata

ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Fakhrul, setelah mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa bulan terakhir akibat kombinasi faktor eksternal dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan domestik, pasar kini mulai melihat adanya perbaikan yang lebih nyata.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada akhir perdagangan kemarin, ditutup pada level Rp17.708,5 per dolar AS. Posisi ini menguat 151,50 poin atau 0,85 persen dibandingkan penutupan kemarin.

2. Ada sederet faktor penopang rupiah

ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia menilai terdapat tiga faktor utama yang menjadi fondasi penguatan rupiah saat ini.

Pertama, komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin. Kebijakan tersebut dinilai memberikan sinyal kuat bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Kedua, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, mulai memperbaiki persepsi investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Meski tidak populer, langkah tersebut dipandang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ketiga, efisiensi dan penyesuaian anggaran pada sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dinilai sebagai sinyal kembalinya fokus pemerintah pada disiplin fiskal.

"Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah," jelasnya.

3. Pasar respons positif terhadap kebijakan pemerintah

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Fakhrul mencatat respons pasar terhadap perubahan kebijakan tersebut mulai terlihat dalam kinerja rupiah. Pada pekan lalu, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia.

"Pada minggu lalu rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan. Jika proses normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan tetap terjaga, saya melihat peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di kawasan pada pekan ini cukup terbuka," katanya.

Selain faktor domestik, Fakhrul menilai perkembangan geopolitik global juga berpotensi memberikan sentimen positif tambahan bagi rupiah. Membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan yang lebih permanen dinilai dapat menurunkan premi risiko global dan mendorong aliran modal kembali ke negara berkembang.

Editorial Team

Related Article