Ibrahim mengatakan lonjakan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak yang besar. Kondisi itu membuat kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi ikut meningkat.
Ketika permintaan dolar naik untuk kebutuhan impor, kata dia, rupiah biasanya ikut tertekan karena pelaku usaha membutuhkan lebih banyak mata uang AS untuk transaksi internasional.
"Kebutuhan dolar yang cukup besar ini membuat rupiah mengalami pelemahan," kata Ibrahim.
Ibrahim menambahkan harga minyak mentah global juga masih tinggi, dengan Brent Crude Oil di level 103 dolar AS per barel dan WTI Crude Oil di level 98 dolar AS per barel. Menurut dia, kenaikan harga minyak tersebut juga berpotensi menambah beban anggaran pemerintah, terutama untuk subsidi energi.
Dia mengatakan pemerintah saat ini juga masih mencari pendanaan melalui penerbitan surat utang negara. Selain itu, pemerintah juga menghadapi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo sehingga membutuhkan dana besar.