Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.286 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.286 per dolar AS, turun 105 poin atau 0,61 persen akibat tekanan sentimen eksternal dan domestik.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi, menekan nilai tukar rupiah.
  • Bank Indonesia melakukan intervensi menjaga stabilitas rupiah agar tetap di bawah Rp17.300 per dolar AS, namun pelemahan masih berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Rupiah parkir di level Rp17.286 per dolar AS sore ini.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melemah 105 poin setara 0,61 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menekan pasar.

1. Geopolitik Timur Tengah bikin pasar waswas

Ibrahim menjelaskan pasar masih mencermati ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda. Sebab, belum ada kejelasan hasil perundingan di Pakistan, setelah delegasi Iran disebut tidak menghadiri pertemuan tersebut.

Selain itu Iran juga menilai AS melanggar gencatan senjata setelah menangkap kapal tanker Iran yang keluar dari Selat Hormuz. Ibrahim mengatakan kondisi tersebut membuat pasar khawatir konflik bisa meluas ke kawasan strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Oman.

"Nah di sisi lain pun juga bahwa Trump ya secara sepihak melakukan gencatan senjata tanpa batas," ujar dia.

2. Harga minyak naik bikin kebutuhan dolar RI ikut membesar

Ibrahim mengatakan lonjakan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak yang besar. Kondisi itu membuat kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi ikut meningkat.

Ketika permintaan dolar naik untuk kebutuhan impor, kata dia, rupiah biasanya ikut tertekan karena pelaku usaha membutuhkan lebih banyak mata uang AS untuk transaksi internasional.

"Kebutuhan dolar yang cukup besar ini membuat rupiah mengalami pelemahan," kata Ibrahim.

Ibrahim menambahkan harga minyak mentah global juga masih tinggi, dengan Brent Crude Oil di level 103 dolar AS per barel dan WTI Crude Oil di level 98 dolar AS per barel. Menurut dia, kenaikan harga minyak tersebut juga berpotensi menambah beban anggaran pemerintah, terutama untuk subsidi energi.

Dia mengatakan pemerintah saat ini juga masih mencari pendanaan melalui penerbitan surat utang negara. Selain itu, pemerintah juga menghadapi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo sehingga membutuhkan dana besar.

3. Rupiah diproyeksi masih tertekan pada Jumat

Ibrahim mengatakan Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, langkah tersebut terlihat dari pergerakan rupiah yang sempat melemah ke level Rp17.307 per dolar AS.

Rupiah kemudian kembali berbalik ke posisi Rp17.286 per dolar AS saat penutupan perdagangan. Dia menilai intervensi yang dilakukan BI cukup efektif karena mampu menjaga rupiah tetap berada di bawah level psikologis Rp17.300 per dolar AS.

Untuk perdagangan Jumat (24/4/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp17.280 hingga Rp17.340 per dolar AS.

Editorial Team