Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Masih Loyo di Tengah Kehadiran Menkeu Baru
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah 25 poin ke level Rp17.694 per dolar AS pada Selasa.
  • Ibrahim Assuaibi menilai pengelolaan APBN menjadi tantangan bagi Suahasil Nazara di tengah target pertumbuhan dan kebutuhan pembiayaan.
  • Ketegangan Timur Tengah serta risiko gangguan pasokan minyak menambah tekanan global terhadap rupiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2019

Suahasil Nazara menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019.

pekan sebelumnya

Serangan mengganggu operasional pipa minyak timur-barat milik Arab Saudi.

Senin

Kelompok Houthi di Yaman kembali menyerang sejumlah target di Arab Saudi.

Selasa (15/9/2026)

Rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,14 persen ke Rp17.694 per dolar AS.

Rabu (16/9/2026)

Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.690-Rp17.750 per dolar AS dan berpotensi ditutup melemah.

2027

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen dalam RAPBN 2027 dengan belanja negara Rp4.097,2 triliun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai tukar rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,14 persen ke Rp17.694 per dolar AS.
  • Who?
    Rupiah, Ibrahim Assuaibi, Suahasil Nazara, pemerintah, dan kelompok Houthi menjadi pihak yang disebut.
  • Where?
    Penutupan perdagangan dilaporkan dari Jakarta, sementara tekanan global dikaitkan dengan ketegangan di Timur Tengah.
  • When?
    Rupiah melemah pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026).
  • Why?
    Tekanan terhadap rupiah dikaitkan dengan perkembangan geopolitik, kondisi pasar global, dan meningkatnya risiko pasokan minyak.
  • How?
    Rupiah dibuka di Rp17.662, bergerak di rentang Rp17.658-Rp17.712, lalu ditutup di Rp17.694 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah jadi lebih lemah saat ditukar dengan dolar AS. Nilainya ditutup Rp17.694. Pak Ibrahim bilang Suahasil Nazara punya tantangan mengatur uang negara. Ada juga masalah di Timur Tengah yang bisa mengganggu minyak. Besok, rupiah diperkirakan masih naik turun dan bisa melemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengalaman Suahasil Nazara di Kementerian Keuangan sejak 2019 dinilai Ibrahim Assuaibi dapat menjaga kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah. Penilaian ini hadir ketika pemerintah menargetkan pertumbuhan 6 persen dalam RAPBN 2027, dengan belanja negara dan kebutuhan pembiayaan yang telah diproyeksikan dalam angka secara jelas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.694 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.669 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga 40 poin.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.662 per dolar AS. Sementara itu, pergerakannya sepanjang hari berada di rentang Rp17.658-Rp17.712 per dolar AS.

1. Menkeu baru hadapi tantangan kelola APBN

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pemerintah membutuhkan sosok yang bisa menjaga kredibilitas fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dia menilai Suahasil Nazara cocok menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Pengalaman Suahasil di Kementerian Keuangan dinilai dapat menjaga kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah.

"Akan tetapi, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit," kata Ibrahim.

Menurutnya, Suahasil harus mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ketika pemerintah ingin mempercepat pertumbuhan, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, dan tetap menjaga kesehatan fiskal.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen dengan belanja negara Rp4.097,2 triliun. Sementara itu, pendapatan negara diproyeksikan Rp3.426 triliun sehingga kebutuhan pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun. Defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Suahasil bukan nama baru di Kementerian Keuangan. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya bekerja bersama Sri Mulyani Indrawati.

2. Serangan Houthi bikin risiko pasokan minyak meningkat

Dari sisi global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ibrahim mengatakan kelompok Houthi di Yaman kembali menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada Senin.

Kelompok yang beraliansi dengan Iran itu juga memperkuat posisi di sejumlah titik strategis di sepanjang Laut Merah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandeb dan dapat mengganggu pasokan minyak.

Risiko terhadap ekspor minyak Arab Saudi juga meningkat setelah serangan pada pekan sebelumnya mengganggu operasional pipa minyak timur-barat milik negara tersebut.

"Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Para analis memperkirakan bahwa perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4 persen hingga 5 persen dari pasokan global," ujar Ibrahim.

Di saat yang sama, pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda. Iran menyatakan belum akan berdialog dengan AS sebelum sejumlah tuntutannya dipenuhi.

3. Rupiah diprediksi masih akan tertekan pada Rabu

Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berpotensi berlanjut seiring perkembangan geopolitik dan kondisi pasar global.

Dia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.690-Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan besok dan berpotensi ditutup melemah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article