Pelemahan dolar AS juga dipicu oleh data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah merespons laporan, AS dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata. Data inflasi PCE AS yang lebih lemah dari perkiraan juga menekan dolar AS," ujar Lukman, Kamis (29/5/2026).
Menurutnya, pergerakan rupiah terhadap dolar AS hari ini diperkirakan berada pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, yang turut memengaruhi pergerakan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.