Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Menguat ke Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah menguat 22 poin ke Rp17.840 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu.
  • BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen serta suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility.
  • Investor menanti risalah The Fed, sementara rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada Kamis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak awal tahun

Rupiah telah melemah 6,95 persen sejak awal tahun.

periode 18-19 Agustus 2026

BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Deposit Facility ditahan di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,50 persen.

Rabu (19/8/2026)

Rupiah ditutup menguat di level Rp17.840 per dolar AS. Risalah rapat Federal Reserve dijadwalkan rilis pada waktu setempat.

Kamis (20/8/2026)

Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.

pekan depan

Perhatian pelaku pasar akan beralih pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Jackson Hole.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rupiah menguat 22 poin atau 0,12 persen dan ditutup di Rp17.840 per dolar AS.
  • Who?
    Bank Indonesia, Destry Damayanti, Ibrahim Assuaibi, investor, dan Federal Reserve terlibat dalam perkembangan ini.
  • Where?
    Jakarta, dengan pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
  • When?
    Pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026).
  • Why?
    BI mempertahankan suku bunga untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga sasaran inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
  • How?
    BI Rate ditahan di 5,75 persen, Deposit Facility 4,75 persen, dan Lending Facility 6,50 persen dalam RDG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah jadi lebih kuat dan berada di Rp17.840 untuk satu dolar AS pada Rabu. Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75 persen. Destry Damayanti bilang keputusan itu untuk menjaga nilai rupiah dan sasaran inflasi. Investor juga menunggu risalah The Fed. Pada Kamis, Ibrahim memperkirakan rupiah bisa bergerak naik turun dan berpotensi melemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keputusan BI mempertahankan BI Rate, Deposit Facility, dan Lending Facility menunjukkan adanya fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah serta sasaran inflasi 2026 dan 2027. Di tengah perhatian pasar terhadap risalah The Fed dan agenda Jackson Hole, keputusan tersebut menjadi bagian dari kebijakan yang disebut mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026). Rupiah parkir di level Rp17.840 per dolar AS

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda menguat sebesar 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.862 per dolar AS. Rupiah dibuka di level Rp17.859 per dolar AS.

1. Rupiah menguat usai BI tahan suku bunga

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18-19 Agustus 2026. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 4,75 persen dan Lending Facility di angka 6,50 persen.

"Keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," kata Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (PGS BI) Destry Damayanti.

Kebijakan mempertahankan suku bunga juga dilakukan untuk menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen pada tahun 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

2. Investor nantikan risalah The Fed

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan para investor sedang menantikan risalah rapat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan rilis pada Rabu (19/8/2026) waktu setempat.

"Para investor menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan Juli yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu untuk mendapatkan petunjuk mengenai penilaian para pembuat kebijakan terhadap inflasi serta langkah yang tepat terkait suku bunga," paparnya.

Ibrahim menerangkan, perhatian pelaku pasar kemudian akan beralih pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Jackson Hole yang bakal digelar pada pekan depan.

3. Rupiah diprediksi melemah pada Kamis

Mengenai proyeksi perdagangan Kamis (20/8/2026), Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah pada kisaran rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Pergerakan kurs sepanjang hari ini berada dalam kisaran Rp17.829 hingga Rp17.874 per dolar AS. Sementara itu, rupiah telah melemah 6,95 persen sejak awal tahun, dengan rentang pergerakan 52 minggu di kisaran Rp16.237 hingga Rp18.209 per dolar AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article