Startup California JetZero Garap Pesawat Manta Ray Hemat Bahan Bakar

- JetZero mengembangkan Z4 berdesain blended wing body mirip pari manta, berkapasitas 250 penumpang dan menargetkan penghematan bahan bakar 30–50 persen.
- Z4 menghapus jendela samping, menggantinya dengan layar berkamera eksternal dan skylight; pesawat diperkirakan memiliki jangkauan 9.200 kilometer per pengisian bahan bakar.
- EXIM meninjau potensi pendanaan 3 miliar dolar AS untuk pabrik JetZero, sementara demonstrator Jet1 didukung Angkatan Udara AS dan dijadwalkan terbang perdana akhir 2027.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan rintisan kedirgantaraan asal California, JetZero, tengah melangkah maju dalam merealisasikan jet komersial revolusioner Z4 bernilai miliaran dolar. Pesawat berdesain mirip ikan pari manta ini dirancang untuk memangkas konsumsi bahan bakar sebesar 30 hingga 50 persen sekaligus membawa 250 penumpang.
Inovasi berkonsep blended wing body tersebut menarik perhatian industri penerbangan global karena mampu mengisi celah pasar antara jet koridor tunggal dan pesawat badan lebar. Pengembangan armada masa depan ini makin mendapat angin segar setelah U.S. Export-Import Bank menjajaki potensi pendanaan pabrik sebesar 3 miliar dolar AS di North Carolina. Selain itu, maskapai ternama seperti Japan Airlines resmi bergabung untuk menyokong kesiapan operasional penerbangan komersial tersebut.
1. Desain unik tanpa jendela samping untuk efisiensi aerodinamis

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Borja Lopez) Konstruksi pesawat Z4 membawa perubahan radikal dibanding model tube and wing konvensional yang digunakan penerbangan komersial saat ini. Bagian tengah badan pesawat dibuat melebar dan menyatu mulus dengan kedua sayapnya sehingga menciptakan permukaan angkat yang jauh lebih luas.
Pendekatan aerodinamis ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara secara signifikan, dengan target menghemat konsumsi avtur hingga separuh dibanding pesawat komersial saat ini. Kendati demikian, efisiensi ini masih berupa klaim target perusahaan yang baru akan dibuktikan saat uji terbang prototipenya kelak.
Kabin pesawat dirancang untuk menampung sekitar 250 penumpang yang terbagi dalam enam zona kabin yang nyaman. Uniknya, desain armada Z4 menghilangkan jendela samping tradisional yang biasa dilihat penumpang di pesawat komersial pada umumnya. Sebagai gantinya, pengembang memasang layar resolusi tinggi yang terhubung dengan kamera eksternal serta dua skylight di langit-langit bagian depan.
Penggunaan layar canggih ini tetap menyajikan pemandangan luar secara riil tanpa mengorbankan integritas struktur badan pesawat. Dilansir Times of India, Jarak tempuh pesawat ini diperkirakan mencapai 5.000 mil laut atau setara 9.200 kilometer dalam sekali pengisian bahan bakar. Jangkauan tersebut memungkinkannya melayani rute antarkelompok benua seperti São Paulo menuju Madrid secara efisien.
2. Dukungan pendanaan federal dan keterlibatan maskapai global

ilustrasi bandara (pexels.com/Keegan Checks) Langkah besar JetZero mendapat angin segar lewat pernyataan minat (Letter of Interest) potensi pendanaan hingga 3 miliar dolar AS dari U.S. Export-Import Bank (EXIM). Menurut laporan Startup Fortune, pendanaan yang masih dalam tahap tinjauan ini ditujukan untuk membangun kampus manufaktur seluas 8 juta kaki persegi di Greensboro, North Carolina, yang diproyeksikan menelan total investasi 4,7 miliar dolar AS serta menyerap 14.500 tenaga kerja.
Selain sokongan pendanaan, kemitraan dengan maskapai internasional turut memperkuat posisi proyek ini. Japan Airlines secara resmi bergabung untuk menyumbangkan pengalaman operasional, pemeliharaan, hingga penanganan darat. Sebagaimana dilansir Times of India, maskapai seperti United Airlines bahkan berencana membeli hingga 200 unit pesawat Z4, sementara Startup Fortune mencatat maskapai Gulf Air juga telah menandatangani komitmen minat untuk armada ini.
Executive Officer Corporate Strategy Japan Airlines, Takao Suzuki, menyambut baik kolaborasi strategis dengan JetZero demi masa depan penerbangan yang lebih bersih. Ia menyatakan bahwa kemitraan ini mendukung komitmen maskapainya terhadap "inovasi berkelanjutan dan emisi bersih nol pada tahun 2050". Kehadiran masukan langsung dari praktisi maskapai sangat vital agar pesawat dapat beroperasi di infrastruktur bandara yang sudah ada tanpa perlu merombak terminal.
3. Uji terbang demonstrator Jet1 dijadwalkan meluncur pada 2027

ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay) Konsep blended wing body sebenarnya bukan hal yang baru karena telah dipelajari selama bertahun-tahun oleh Boeing, NASA, dan Airbus. Namun, sebagian besar proyek terdahulu berhenti pada skala eksperimen atau demonstrator tanpa pernah diproduksi secara komersial. JetZero berusaha menembus batas tersebut dengan menghadirkan pesawat komersial utuh yang siap beroperasi secara massal.
Proyek ini juga mendapat sokongan dari Departemen Angkatan Udara AS melalui pendanaan prototipe senilai 235 juta dolar AS. Saat ini, pembuatan demonstrator bernama Jet1 sedang dikerjakan oleh anak perusahaan Northrop Grumman, yaitu Scaled Composites di Mojave. Jika seluruh proses perakitan berjalan sesuai rencana, penerbangan perdana prototipe ini dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2027. Pengujian nyata di udara menjadi pembuktian mutlak apakah klaim efisiensi bahan bakar dapat terwujud di lapangan.
CEO dan Co-founder JetZero, Tom O'Leary, optimistis bahwa target pengoperasian komersial pada awal 2030-an dapat tercapai sesuai jadwal. Ia menyebutkan bahwa dukungan pembiayaan awal dari pemerintah merupakan "langkah penting" menuju pembangunan kampus manufaktur penerbangan modern. Bila uji terbang berhasil, industri penerbangan global berpotensi memasuki era baru angkutan udara yang lebih efisien dan ramah lingkungan.





















