Rupiah Tembus Rp17.041, Efek Ancaman Trump dan Harga Minyak Dunia

- Rupiah ditutup di level Rp17.041 per dolar AS, melemah 0,23 persen akibat tekanan geopolitik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi global.
- Pernyataan keras Donald Trump terhadap Iran dan ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak Brent melonjak 59 persen serta WTI naik 58 persen sepanjang Maret 2026.
- Sejak awal tahun rupiah sudah melemah 2,16 persen dan diperkirakan masih fluktuatif dengan potensi pelemahan lanjutan di kisaran Rp17.040–Rp17.070 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026). Rupiah semakin tertekan oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi global.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda sore ini parkir di level Rp17.041 per dolar AS, mengalami pelemahan 39 poin atau 0,23 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.002 per dolar AS.
1. Gertakan Trump dan teka-teki perundingan dengan Iran
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti pernyataan keras Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan pembangkit energi serta sumur minyak Iran jika Teheran tetap menutup Selat Hormuz.
"Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai tidak realistis dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel," kata dia.
Meski suasananya panas, pihak Gedung Putih justru memberikan pernyataan yang cukup membingungkan. Mereka menyebutkan bahwa proses pembicaraan dengan Iran sebenarnya masih berlanjut dan berjalan baik.
Para pejabat AS mengeklaim terdapat perbedaan antara apa yang disampaikan Teheran di depan publik dengan pesan yang mereka sampaikan secara pribadi kepada pihak Washington.
2. Harga minyak dunia masih menjadi sentimen negatif
Efek penutupan Selat Hormuz yang dilalui seperlima pasokan minyak global itu memicu kenaikan harga minyak Brent hingga 59 persen sepanjang Maret 2026, menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah. Sementara itu, minyak jenis WTI juga melesat 58 persen di bulan ini, rekor tertinggi sejak Mei 2020.
Kekhawatiran pasar semakin menjadi-jadi setelah Kuwait Petroleum Corp melaporkan kapal tanker mereka, Al Salmi, dihantam serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai. Kapal yang membawa 2 juta barel minyak tersebut kini memicu peringatan akan adanya tumpahan minyak di area tersebut.
Tak hanya itu, aksi pasukan Houthi Yaman yang menyerang Israel dengan rudal juga menimbulkan ketakutan baru akan gangguan di Selat Bab el-Mandeb, rute kunci yang menghubungkan Asia dan Eropa.
"Pada hari Sabtu, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb," tuturnya.
3. Rupiah masih berpotensi melemah di perdagangan Rabu
Jika melihat pergerakan sejak awal tahun, rupiah kini tercatat melemah sebesar 2,16 persen. Sedangkan dalam kurun waktu setahun terakhir atau 52 minggu, nilai tukar mata uang kita telah bergerak di rentang Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Rabu (1/4/2026), rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah kembali di rentang antara Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS.


















