Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Terus Terperosok Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS

Rupiah Terus Terperosok Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp17.995 per dolar AS, mencerminkan tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah dinamika global.
  • Pasar menyoroti kemajuan pembicaraan AS-Iran terkait Selat Hormuz yang memengaruhi sentimen perdagangan dan stabilitas pasokan energi dunia.
  • Investor menunggu data tenaga kerja AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed, sementara rupiah diproyeksi masih fluktuatif menjelang akhir pekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah parkir di level Rp17.995 per dolar AS sore ini.

Posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda juga sempat melemah lebih dalam sebelum akhirnya ditutup di level tersebut.

1. Kemajuan pembicaraan AS-Iran jadi perhatian pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan hubungan AS dan Iran. Qatar menyampaikan kedua negara telah mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung dan berfokus pada isu Selat Hormuz.

Dia menjelaskan, sumber yang mengetahui perundingan tersebut menyebut negosiator AS dan Iran menghabiskan dua hari di Doha untuk membahas lalu lintas maritim di Selat Hormuz serta pencairan dana milik Iran.

"Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Iran terhadap kapal kargo," tuturnya.

Ibrahim menuturkan Iran tetap berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, bahkan jika harus menggunakan kekerasan. Teheran juga kembali menyatakan akan mulai mengenakan bea masuk terhadap pengiriman yang melintasi selat tersebut mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas bea berdasarkan perjanjian awal berakhir.

Di sisi lain, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai pulih. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan aliran minyak melalui jalur pelayaran strategis tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, meski tidak merinci angkanya.

2. Investor menanti data tenaga kerja AS

Pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang perubahan suku bunga pada pertemuan September mencapai 67 persen.

Tingkat suku bunga menjadi perhatian investor karena memengaruhi daya tarik berbagai instrumen investasi. Dalam kondisi suku bunga rendah, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas umumnya menjadi lebih menarik karena biaya untuk menyimpannya relatif lebih rendah.

Dari sisi data ekonomi, Ibrahim menyebut perubahan ketenagakerjaan ADP menunjukkan jumlah pekerja di sektor swasta AS bertambah 98 ribu pada Juni. Angka itu lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 113 ribu dan juga di bawah capaian Mei yang mencapai 122 ribu.

Sementara itu, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54,0 pada Mei. Angka tersebut juga berada di bawah perkiraan pasar sebesar 54,0.

"Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen," paparnya.

3. Rupiah diproyeksi masih melemah jelang akhir pekan

Ibrahim mengatakan pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 43 poin, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 50 poin, ke level Rp17.995 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.950 per dolar AS.

Untuk perdagangan Jumat (3/7/2026), dia memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More