Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sandiaga Uno Incar Saham MUTU, Siap Bangun Platform Green Indonesia
Sandiaga Uno berencana menanamkan investasi di PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU), perusahaan jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi (testing, inspection, and certification/TIC) yang kini fokus memperkuat bisnis di sektor ekonomi hijau (dok. MUTU)
  • Sandiaga Uno berencana menanamkan investasi di PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) untuk memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan ekosistem ekonomi hijau di Indonesia.
  • MUTU tengah melakukan transformasi bisnis menuju layanan berbasis keberlanjutan seperti sertifikasi lingkungan, ESG, dan halal, dengan tujuan membangun platform Green Indonesia bersama Sandiaga.
  • Sandiaga menilai MUTU berperan penting sebagai infrastruktur kepercayaan ekonomi hijau nasional karena menyediakan sertifikasi kredibel yang mendukung daya saing dan praktik bisnis berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno berencana menanamkan investasi di PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU), perusahaan jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi (testing, inspection, and certification/TIC) yang kini fokus memperkuat bisnis di sektor ekonomi hijau. Rencana investasi tersebut membuka peluang kolaborasi strategis untuk mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi hijau di Indonesia.

Manajemen MUTU menyambut positif rencana masuknya Sandiaga sebagai investor. Perseroan menilai kesamaan visi mengenai keberlanjutan menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama jangka panjang.

1. MUTU dan Sandiaga punya visi yang sama soal ekonomi hijau

ilustrasi ekonomi hijau (unsplash.com/Ashes Sitoula)

Presiden Direktur MUTU, Arifin Lambaga mengatakan, ekonomi hijau kini menjadi arah pembangunan yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, baik MUTU maupun Sandiaga memiliki kesamaan pandangan bahwa keberlanjutan harus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi.

"Kami punya satu platform pemikiran bahwa green menjadi salah satu tujuan dari semua kegiatan yang dilakukan," ujar Arifin dalam siaran tertulis, Jumat (5/6/2026).

Arifin menjelaskan ekonomi hijau dibangun di atas tiga pilar utama, yakni lingkungan (planet), kesejahteraan (prosperity), dan masyarakat (people). Oleh karena itu, kerja sama yang terjalin nantinya diharapkan tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas.

"Kami ingin lebih dari sekadar perusahaan TIC. Kami ingin menjadi green partner seperti yang disampaikan Pak Sandi," katanya.

2. MUTU ingin mempercepat transformasi bisnis berbasis keberlanjutan

ilustrasi ekonomi hijau (unsplash.com/Steven Weeks)

Saat ini MUTU tengah menjalankan transformasi bisnis untuk menjawab meningkatnya kebutuhan pasar terhadap layanan berbasis keberlanjutan. Layanan tersebut mencakup sertifikasi lingkungan, sertifikasi ESG (environmental, social, and governance), sertifikasi halal, hingga berbagai layanan yang mendukung transisi menuju ekonomi hijau.

Arifin menilai kehadiran investor yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan dapat mempercepat langkah transformasi tersebut.

"Kalau berjodoh, kami ingin bersama-sama membangun platform Green Indonesia yang menjadi salah satu potensi besar yang bisa dikembangkan," ujarnya.

Menurut Arifin, manfaat ekonomi hijau seharusnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil. Maka dari itu itu, pengalaman Sandiaga dalam mengembangkan program kewirausahaan OK OCE dinilai bisa menjadi nilai tambah.

"Kami ingin green itu juga bisa dinikmati oleh semua masyarakat. Kita ingin mengajak semua orang untuk ikut memanfaatkan potensi yang ada," kata dia.

3. Sandiaga sebut MUTU bisa jadi infrastruktur kepercayaan ekonomi hijau

Ilustrasi ekonomi hijau. (IDN Times/Arief Rahmat)

Sandiaga pun menilai konsep sustainability kini telah berubah dari sekadar biaya tambahan menjadi faktor penting yang menentukan daya saing perusahaan. Dulu sustainability sering dianggap sebagai biaya. Hari ini sustainability menjadi faktor yang menentukan akses pasar, akses pendanaan, dan daya saing perusahaan," ujar pria yang karib disapa Sandi tersebut.

Menurutnya, MUTU memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjalankan fungsi sertifikasi, tetapi juga membantu transformasi industri menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Berbagai layanan sertifikasi yang dimiliki MUTU, seperti ISO 14001, International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), hingga Sustainable Biomass Program (SBP), menempatkan perusahaan di pusat berbagai tren global terkait ESG, ekonomi karbon, rantai pasok berkelanjutan, dan transisi energi.

Sandi juga menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau karena didukung sektor-sektor strategis seperti kelapa sawit, biofuel, biomassa, dan manufaktur. Namun, seluruh sektor tersebut akan menghadapi tuntutan standar keberlanjutan yang semakin tinggi dari pasar global.

"Dalam konteks itu, verifikasi dan sertifikasi yang kredibel menjadi fondasi kepercayaan pasar. Di sinilah peran MUTU menjadi semakin penting," katanya.

Ke depan, Sandi berharap MUTU berkembang menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan memahami dan menerapkan praktik keberlanjutan dalam operasional bisnis mereka.

"Green investment bukan hanya investasi pada perusahaan yang ramah lingkungan, tetapi juga investasi pada perusahaan yang membantu menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

Sandi bahkan menyebut MUTU sebagai salah satu fondasi penting bagi pengembangan ekonomi hijau nasional.

"Saya tidak melihat MUTU hanya sebagai perusahaan sertifikasi. Saya melihat MUTU sebagai infrastruktur kepercayaan bagi ekonomi hijau Indonesia," tutur Sandi.

Editorial Team

Related Article