Ilustrasi ekonomi hijau. (IDN Times/Arief Rahmat)
Sandiaga pun menilai konsep sustainability kini telah berubah dari sekadar biaya tambahan menjadi faktor penting yang menentukan daya saing perusahaan. Dulu sustainability sering dianggap sebagai biaya. Hari ini sustainability menjadi faktor yang menentukan akses pasar, akses pendanaan, dan daya saing perusahaan," ujar pria yang karib disapa Sandi tersebut.
Menurutnya, MUTU memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjalankan fungsi sertifikasi, tetapi juga membantu transformasi industri menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Berbagai layanan sertifikasi yang dimiliki MUTU, seperti ISO 14001, International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), hingga Sustainable Biomass Program (SBP), menempatkan perusahaan di pusat berbagai tren global terkait ESG, ekonomi karbon, rantai pasok berkelanjutan, dan transisi energi.
Sandi juga menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau karena didukung sektor-sektor strategis seperti kelapa sawit, biofuel, biomassa, dan manufaktur. Namun, seluruh sektor tersebut akan menghadapi tuntutan standar keberlanjutan yang semakin tinggi dari pasar global.
"Dalam konteks itu, verifikasi dan sertifikasi yang kredibel menjadi fondasi kepercayaan pasar. Di sinilah peran MUTU menjadi semakin penting," katanya.
Ke depan, Sandi berharap MUTU berkembang menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan memahami dan menerapkan praktik keberlanjutan dalam operasional bisnis mereka.
"Green investment bukan hanya investasi pada perusahaan yang ramah lingkungan, tetapi juga investasi pada perusahaan yang membantu menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
Sandi bahkan menyebut MUTU sebagai salah satu fondasi penting bagi pengembangan ekonomi hijau nasional.
"Saya tidak melihat MUTU hanya sebagai perusahaan sertifikasi. Saya melihat MUTU sebagai infrastruktur kepercayaan bagi ekonomi hijau Indonesia," tutur Sandi.