ilustrasi bubble tea (pixabay.com/Jennyrang)
Nah, ini yang sering terlupakan. Plastik itu sebenarnya dibuat dari olahan minyak mentah (nafta). Jadi, plastik bisa dibilang adalah "anak kandung" dari minyak bumi.
Saat harga minyak di Selat Hormuz bergejolak, harga biji plastik dunia langsung ikut "terbakar". Imbasnya mulai dari harga kantong kresek, mika makanan, botol minuman, sampai kemasan plastik lainnya bakal merangkak naik. Ini tentu jadi kabar berat buat para pelaku UMKM yang setiap harinya sangat bergantung pada kemasan plastik.
Selat Hormuz juga jalur penting bagi pengiriman bahan baku pupuk global. Kalau pasokan pupuk terhambat atau harganya naik gila-gilaan, biaya tanam petani kita bakal membengkak. Hasilnya? Harga sayur-mayur dan hasil panen di pasar lokal pun ikut terdorong naik.
Selat Hormuz bukan cuma soal berita perang di televisi. Selat ini adalah "nadi" yang menentukan seberapa mahal harga gorengan, plastik pembungkus, atau semangkuk mi instan yang kita nikmati sore ini.
Selama "gerbang utama" itu masih membara, kita memang harus bersiap dengan perubahan harga di meja makan dan pasar. Bukan karena stoknya nggak ada, tapi karena perjalanan barang-barang tersebut menuju dapur kita jadi jauh lebih mahal dan menantang.