Stimulus dan Mudik Angkat Ekonomi, Perputarana Uaang Makin Kencang

Mudik Idul Fitri terbukti jadi penggerak ekonomi nasional dengan efek berganda, meningkatkan konsumsi rumah tangga hingga 20 persen dan pendapatan UMKM daerah sampai 70 persen.
Pemerintah menyiapkan stimulus lebih dari Rp12,8 triliun serta bansos Rp11,92 triliun untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 5,5–5,6 persen dan memperkuat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB.
Kebijakan WFA dan berbagai insentif transportasi menurunkan biaya perjalanan, memperpanjang masa tinggal pemudik di daerah, serta mempercepat perputaran uang selama periode Lebaran.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut momentum mudik Idul Fitri menjadi fenomena ekonomi strategis yang secara konsisten mendorong aktivitas ekonomi nasional. Karakternya yang massal, terjadwal, dan memiliki efek berganda (multiplier effect) menjadikan mudik sebagai penggerak berbagai sektor riil secara simultan.
Berdasarkan data historis, konsumsi rumah tangga meningkat 15 persen–20 persen dibandingkan bulan normal, seiring tingginya mobilitas masyarakat dan percepatan perputaran uang (velocity of money).
"Tingginya Marginal Propensity to Consume (MPC) masyarakat pada periode ini turut memperkuat konsumsi, termasuk mendongkrak pendapatan pelaku UMKM daerah hingga 50 persen–70 persen," ungkap Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Selasa (24/3/2026).
1 mudik Idulfitri jadi instrumen penguatan ekonomi

Ia menjelaskan, secara empiris, mudik Idul Fitri terbukti menjadi instrumen penguatan ekonomi yang konsisten dan terukur. Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (year on year/yoy).
Kontribusi ini terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat ekonomi ke daerah, sehingga memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan peredaran uang secara lebih merata.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang berdampak luas bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor transportasi. Peningkatan aktivitas ini juga mendorong pendapatan sektor perdagangan dan jasa,” ujar Haryo.
2. Kontribusi konsumsi rumah tangga capai 53 persen

Evaluasi Idul Fitri 2025 mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Tahun ini, mobilitas dan belanja masyarakat diharapkan meningkat untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 5,5 persen–5,6 persen (yoy).
Optimisme tersebut ditopang berbagai stimulus, antara lain alokasi fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi Rp911,16 miliar.
"Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sekitar 53 persen–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), stimulus ini diproyeksikan memberi dorongan signifikan pada ekonomi," ungkapnya.
3. Aktvitas ekonomi turut ditopang kebijakan WFA dan stimulus

Di sisi lain, pemerintah juga konsisten mendorong aktivitas ekonomi melalui kebijakan mudik, di antaranya diskon tiket transportasi, insentif fiskal, hingga penangguhan PPN 6 persen untuk tiket pesawat pada Lebaran 2025 yang menurunkan harga hingga 14 persen.
Selain itu, dilakukan penurunan biaya kebandaraan dan harga avtur di 37 bandara, program mudik gratis, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN sejak 2022–2025. Kebijakan WFA menjadi inovasi strategis yang tidak hanya mengurai kepadatan arus mudik, tetapi juga memperpanjang durasi tinggal pemudik di daerah.
"Dengan tetap bekerja dan menerima penghasilan, pemudik memiliki waktu lebih panjang untuk berbelanja, sehingga mendorong perputaran uang di daerah selama periode Lebaran," ujarnya.



















