Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SUN Energy mulai mengembangkan ekosistem pertambangan hijau atau green mining di Kalimantan Timur. (Dok/Istimewa).
  • SUN Energy mengembangkan ekosistem green mining di Kalimantan Timur, mengintegrasikan energi terbarukan, penyimpanan energi, pengisian daya, kendaraan listrik, dan pengelolaan armada tambang.
  • Proyek memanfaatkan PLTS apung di bekas galian tergenang, dengan target pembangkit hingga 80 MW, BESS 160 MWh, serta ekspansi lebih dari 1.000 kendaraan listrik.
  • Untuk mengatasi kebutuhan investasi awal, SUN menawarkan Electrification as a Service yang mencakup pembangunan, teknologi, pengelolaan, dan pemeliharaan tanpa belanja modal awal sesuai kerja sama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - SUN Energy mulai mengembangkan ekosistem pertambangan hijau atau green mining di Kalimantan Timur (Kaltim). Proyek ini mencakup pengembangan pembangkit listrik berkapasitas hingga 80 megawatt (MW).

Selain itu, sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 160 megawatt hour (MWh), serta ekspansi armada lebih dari 1.000 kendaraan listrik untuk mendukung operasional pertambangan.

1. Elektrifikasi jadi strategi baru industri pertambangan

SUN Energy mulai mengembangkan ekosistem pertambangan hijau atau green mining di Kalimantan Timur. (Dok/Istimewa).

Director of Mobility SUN Karina Darmawan mengatakan, elektrifikasi menjadi salah satu strategi bagi perusahaan tambang untuk menekan biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel. Menurut dia, penggunaan diesel selama ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi harga bahan bakar, kompleksitas distribusi ke lokasi tambang, hingga kepastian pasokan energi.

"Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada diesel menghadirkan tantangan biaya, distribusi, dan kepastian pasokan," ujar Karina dalam keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).

Pengembangan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek ekosistem elektrifikasi pertambangan. Melalui proyek ini, SUN mengintegrasikan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan energi, infrastruktur pengisian daya, kendaraan listrik, hingga layanan pengelolaan armada dalam satu ekosistem.

2. SUN akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung

Ilustrasi PLTS. IDN Times/Istimewa

Dalam pengembangan ekosistem tersebut, SUN akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung yang dibangun di area void atau bekas galian tambang yang tergenang air. Area tersebut akan dimanfaatkan untuk menghasilkan energi terbarukan.

Pasokan listrik dari PLTS apung nantinya akan didukung BESS untuk menyimpan dan mengelola energi sesuai kebutuhan operasional tambang. Pengembangan sistem energi ini diarahkan menuju kapasitas pembangkitan hingga 80 MW dan penyimpanan energi sebesar 160 MWh.

"Sisi mobilitas, SUN menargetkan ekspansi armada kendaraan listrik hingga lebih dari 1.000 unit. Armada tersebut mencakup kendaraan operasional ringan maupun kendaraan untuk mendukung aktivitas logistik pertambangan," ujarnya.

3. integrasi berbagai infrastruktur butuh pendanaan

SUN Energy mulai mengembangkan ekosistem pertambangan hijau atau green mining di Kalimantan Timur. (Dok/Istimewa).

Ekosistem elektrifikasi juga dilengkapi infrastruktur pengisian daya, fasilitas workshop, layanan pemeliharaan kendaraan, serta Fleet Management System untuk memantau dan mengelola penggunaan armada. Karina mengatakan, integrasi berbagai infrastruktur tersebut diperlukan agar elektrifikasi tidak hanya berfokus pada penggantian kendaraan berbahan bakar diesel menjadi kendaraan listrik.

"Kesiapan pasokan energi, fasilitas pengisian daya, hingga pemeliharaan kendaraan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasional tambang;" tuturnya.

Di sisi lain, kebutuhan investasi awal yang besar masih menjadi salah satu tantangan perusahaan tambang dalam mengadopsi elektrifikasi. Untuk mengatasi hal tersebut, SUN menawarkan model bisnis Electrification as a Service.

Melalui skema tersebut, perusahaan tambang dapat mengadopsi solusi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan belanja modal awal atau upfront capital expenditure (capex), sesuai cakupan layanan dan skema kerja sama yang disepakati.

SUN menyediakan layanan mulai dari perencanaan dan pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi, hingga pengelolaan dan pemeliharaan operasional. Dengan demikian, perusahaan tambang dapat lebih berfokus pada kegiatan bisnis utama, sementara kebutuhan elektrifikasi ditangani oleh SUN.

"Melalui model layanan tanpa investasi awal, kami ingin mempermudah pelanggan mengadopsi elektrifikasi sekaligus memberikan kepastian dukungan operasional. Implementasi ini menjadi langkah awal menuju pengembangan yang lebih besar, termasuk ekspansi lebih dari 1.000 kendaraan listrik," kata Karina.

SUN menilai, pengembangan ekosistem elektrifikasi tersebut dapat membuka peluang bagi perusahaan tambang untuk mengoptimalkan biaya energi, mengurangi ketergantungan terhadap distribusi bahan bakar diesel, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Karina menambahkan, elektrifikasi pertambangan tidak semata-mata menjadi tambahan biaya bagi perusahaan. Dengan pemilihan teknologi dan model bisnis yang tepat, elektrifikasi dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi sekaligus daya saing industri pertambangan di Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article