Ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.)
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) sering menjadi penyebab utama investor mengambil risiko berlebihan. Banyak orang tergoda membeli aset yang sedang naik daun hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat. Padahal, keputusan investasi yang didasarkan pada tren sesaat biasanya tidak didukung analisis yang matang.
Akibatnya, investor berpotensi membeli aset di harga yang sudah terlalu tinggi dan menghadapi risiko penurunan yang besar. Jika sebagian besar keputusan investasimu didorong oleh rasa takut ketinggalan tren, bukan oleh strategi yang jelas, maka portofolio tersebut kemungkinan sudah terlalu agresif. Sebaiknya fokus pada tujuan keuangan jangka panjang daripada mengikuti euforia pasar.
Memiliki portofolio yang agresif bukan berarti selalu buruk, terutama jika kamu memiliki tujuan investasi jangka panjang dan toleransi risiko yang tinggi. Namun, ketika porsi aset berisiko terlalu besar, dana akan segera digunakan, kesehatan mental mulai terganggu, kurang diversifikasi, atau keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi FOMO, itu bisa menjadi tanda bahwa strategi yang digunakan perlu dievaluasi.
Melakukan penyesuaian secara berkala dan memastikan komposisi investasi sesuai dengan profil risiko dapat membantu menjaga keseimbangan antara potensi keuntungan dan keamanan aset. Dengan begitu, kamu tetap bisa mengejar pertumbuhan investasi tanpa harus menghadapi risiko yang berlebihan.