Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gandeng Rusia-China, Ekonomi Korut Tumbuh 3,5 Persen di 2025

Gandeng Rusia-China, Ekonomi Korut Tumbuh 3,5 Persen di 2025
Potret suasana kehidupan di Korea Utara. (unsplash.com/Thomas Evans)
Intinya Sih
  • Ekonomi Korea Utara tumbuh 3,5 persen pada 2025, melanjutkan kenaikan 3,7 persen pada 2024 dan 3,1 persen pada 2023, menurut estimasi Bank Sentral Korea Selatan.
  • Penguatan kerja sama dengan Rusia, perdagangan dengan China, ekspor senjata, serta proyek konstruksi pemerintah mendorong manufaktur, pertambangan, jasa, pertanian, dan konstruksi Korut.
  • Perdagangan luar negeri Korut naik 16 persen menjadi 3,13 miliar dolar AS, tetapi PNB nominalnya hanya 48,5 triliun won atau 1,8 persen dari PNB Korea Selatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perekonomian Korea Utara (Korut) mencatatkan pertumbuhan lebih dari 3 persen untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2025. Menurut laporan Bank Sentral Korea Selatan (BOK) di Seoul, Produk Domestik Bruto (PDB) riil Korut diperkirakan meningkat sebesar 3,5 persen pada tahun lalu. Ini menyusul pertumbuhan 3,7 persen pada 2024 dan 3,1 persen pada 2023.

Menurut bank sentral tersebut, kinerja ekonomi ini didorong oleh semakin eratnya kerja sama dengan Rusia, peningkatan volume perdagangan dengan China, dan berbagai proyek konstruksi yang dipimpin pemerintah.

"Tingkat PDB riil Korut bahkan telah melampaui level tahun 2017, yakni periode sebelum sanksi ekonomi berskala besar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diberlakukan sepenuhnya," kata seorang pejabat BOK pada Jumat (31/7/2026), dikutip dari Korea JoongAng Daily.

1. Pertumbuhan ekonomi yang disebabkan menguatnya hubungan Pyongyang-Moskow

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) saat bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang pada 19 Juni 2024. (x.com/mfa_russia)
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) saat bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang pada 19 Juni 2024. (x.com/mfa_russia)

Lonjakan ekonomi ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, termasuk hubungan ekonomi Pyongyang-Moskow yang menguat sejak kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada Juni 2024. Setelah itu, Korut mengerahkan sekitar 15 ribu pasukan untuk mendukung Kremlin dalam perang di Ukraina.

BOK menyebut permintaan ekspor senjata ke Rusia memicu peningkatan produksi manufaktur, sementara pengiriman tenaga kerja dan pasukan ke luar negeri turut mendongkrak perolehan devisa negara secara signifikan.

Di sektor manufaktur dan pertambangan secara keseluruhan tumbuh 4,9 persen, dengan industri ringan mengalami pemulihan berkat kebijakan 20x10 yang fokus membangun pabrik-pabrik baru di berbagai wilayah provinsi. Selain itu, lonjakan jumlah wisatawan asal Rusia dan pembukaan jalur transportasi turut mendongkrak sektor jasa, penginapan, dan pariwisata.

2. Meningkatnya proyek pembangunan infrastruktur di Korut

Potret stasiun kereta di Pyongyang, Korea Utara. (unsplash.com/Thomas Evans)
Potret stasiun kereta di Pyongyang, Korea Utara. (unsplash.com/Thomas Evans)

Sektor konstruksi nasional juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 6,3 persen. Ini ditopang oleh proyek infrastruktur publik, seperti jalan raya, pembangkit listrik, serta program perumahan dan fasilitas kesehatan regional. Sektor jasa secara keseluruhan tumbuh 1,8 persen, laju tercepat sejak 1994. Sektor pertanian pun mengalami peningkatan sebesar 3,6 persen.

Dari sisi perdagangan luar negeri, volume perdagangan Korut melonjak 16 persen menjadi 3,13 miliar dolar AS (sekitar Rp56,3 triliun), tetapi jumlah tersebut diluar transaksi dengan Korsel. Ekspor tercatat naik 30 persen menjadi 470 juta dolar AS (Rp8,4 triliun) karena didorong produk seperti mainan, bulu, kapas, dan wig. Di sisi lain, impor naik 13,9 persen menjadi 2,66 miliar dolar AS (Rp47,8 triliun) berkat pakaian, lemak, serta minyak hewani dan nabati.

3. Skala ekonomi Korut yang masih jauh dibandingkan Korsel

Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)
Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)

Meskipun menunjukkan tren pemulihan yang konsisten, tetapi skala ekonomi Korut tetap tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan Korsel. Pendapatan nasional bruto (PNB) nominal Korut pada 2025 diperkirakan hanya mencapai 48,5 triliun won (Rp609,7 triliun). Angka tersebut setara dengan 1,8 persen dari total PNB Korsel.

Data ekonomi tahunan ini dirilis secara rutin oleh BOK sejak 1991. Sebab, Pyongyang tidak pernah mempublikasikan data statistik resmi. Estimasi tersebut disusun berdasarkan himpunan data intelijen, serta catatan perdagangan dari berbagai lembaga resmi di Korsel, Asahi Shimbun melaporkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More