Tom Lembong: Kondisi Fiskal RI Sekarang Lebih Buruk Ketimbang 1998

- Tom Lembong menilai kemajuan teknologi membuat kualitas hidup masyarakat meningkat, namun kondisi fiskal dan moneter Indonesia kini lebih rentan dibandingkan masa krisis 1997-1998.
- Ia menyebut utang pemerintah dan BUMN saat ini membengkak serta banyak digunakan untuk kegiatan yang kurang produktif, berbeda dengan era sebelumnya yang lebih hati-hati secara fiskal.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam Indonesia Summit 2026 oleh IDN Times, acara yang melibatkan generasi Milenial dan Gen Z untuk membahas masa depan ekonomi dan sosial Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Perdagangan (Mendag), Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong), menilai, kondisi fundamental ekonomi Indonesia sekarang berada dalam dua sisi yang berbeda.
Di satu sisi, kemajuan teknologi membuat kualitas hidup masyarakat jauh lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu. Namun di sisi lain, kondisi fiskal dan moneter dinilainya justru lebih rentan dibandingkan masa menjelang krisis ekonomi 1997-1998.
Menurut Tom, Indonesia saat ini sedang menikmati berbagai kemajuan teknologi, mulai dari berkembangnya akal imitasi (AI), kecepatan internet, hingga kemajuan smartphone sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk lebih produktif. Hal itu juga tercermin bahwa saat ini menjadi salah satu negara yang paling adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Tom Lembong menyampaikan hal tersebut dalam Indonesia Summit 2026 by IDN Times bertajuk The Price of Tomorrow: Gen Z, Cost of Living, And Tge Fight For Financial Security, di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
"Iya, fundamental kita lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu, ya, karena sekarang sudah ada smartphone, ada YouTube, ada 4G, bahkan ada Starlink, ada berbagai sarana kenikmatan hidup, ada Netflix, ada segala macam dan juga AI. Ada software dan alat-alat yang membuat kita lebih produktif ya," kata Tom Lembong.
Kendati demikian, Tom menilai, kemajuan teknologi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi makro Indonesia. Menurut dia, dari sisi fiskal dan moneter, situasi sekarang justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan masa-masa menjelang krisis 1997-1998.
"Cuman begini, kalau fundamental aspek lainnya seperti fiskal, moneter, hemat saya lebih buruk daripada tahun 1997, 1998," kata dia.
Tom menjelaskan, pada tahun 1997-1998 utang pemerintah lebih kecil dibandingkan sekarang, sebaliknya utang korporasi dan konglomerat dalam bentuk dollar jauh lebih besar. Menurut dia, para korporasi saat ini cenderung lebih memilih konservatif, justru sebaliknya utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) jauh lebih besar.
Ironisnya, dia menilai, utang pemerintah saat ini cenderung digunakan untuk kegiatan yang kurang produktif, kegiatan yang tidak secara langsung berdampak bagi perekonomian nasional, di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Ini bukan cuman masalah jumlah utang atau besar kecilnya defisit. Tapi uangnya dipakai untuk apa? Ya. Ee benar kalau orang bilang gak apa-apa ambil utang asal uangnya dipakai untuk hal-hal yang produktif," kata dia.
Pemerintah sempat mengklaim, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut masih jauh di bawah target defisit APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp589,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

















