Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pengamat Nilai Bank Asing Tarik Dana Tak Terkait Kondisi Ekonomi RI

Pengamat Nilai Bank Asing Tarik Dana Tak Terkait Kondisi Ekonomi RI
ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya Sih
  • Pengamat Doddy Ariefianto menilai belum ada bukti penarikan dana bank asing dipicu persepsi negatif terhadap kebijakan ekonomi Indonesia; pergerakan tersebut dinilai berupa repatriasi dividen atau strategi global.
  • Faktor global, seperti suku bunga tinggi AS dan ketegangan geopolitik, disebut lebih dominan memengaruhi arus dana dibanding faktor domestik, sementara fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat.
  • Dampak penyesuaian dana bank asing terhadap likuiditas nasional diperkirakan terbatas; BI dan OJK dinilai memiliki instrumen serta pengawasan memadai untuk menjaga stabilitas perbankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pengamat perbankan sekaligus dosen Binus University, Doddy Ariefianto, menilai belum ada bukti yang menunjukkan bank asing menarik dana dari Indonesia karena persepsi negatif terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Menurutnya, pergerakan dana yang terjadi lebih mencerminkan pola yang lazim dilakukan perbankan global, seperti repatriasi dividen maupun penyesuaian strategi perusahaan induk.

Belakangan ini, isu bank asing menarik dana dari Indonesia ramai diperbincangkan di media sosial (medsos). Namun, Doddy menilai keputusan tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan menurunnya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional.

"Belum ada bukti yang menunjukkan bank asing menarik dana dari Indonesia terutama karena persepsi negatif terhadap kebijakan ekonomi. Pergerakan dana yang terjadi adalah pola rutin (historis), repatriasi dividen atau strategi global bank induk," kata dia kepada IDN Times, Selasa (4/8/2026).

1. Faktor global masih lebih dominan

Ilustrasi kekuatan militer negara-negara besar dalam percaturan geopolitik global.
Ilustrasi politik kekuatan militer dalam percaturan geopolitik global, ketika rivalitas negara-negara besar membentuk dinamika dunia multipolar. Gambar dibuat menggunakan Open AI karena keterbatasan stok yang ada.

Doddy mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir faktor global memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan faktor domestik terhadap pergerakan dana.

Dia menjelaskan, tingginya suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara maju membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik bagi investor. Di sisi lain, ketegangan geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur di negara-negara berkembang (emerging markets).

"Meski faktor domestik seperti kepastian regulasi tetap penting, fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, inflasi yang terkendali, serta permodalan perbankan yang solid. Dengan demikian, dinamika global lebih berpengaruh dibanding faktor domestik," ujar dia.

2. Penarikan dana tak otomatis turunkan kepercayaan investor

ilustrasi investor, investasi, deal, jabat tangan
ilustrasi investor, investasi, deal, jabat tangan (magnific.com/freepik)

Doddy mengatakan, kepercayaan investor asing tidak hanya ditentukan oleh pergerakan dana dari satu atau beberapa bank. Investor, kata dia, umumnya mempertimbangkan berbagai indikator.

"Investor umumnya mempertimbangkan stabilitas makroekonomi, kepastian regulasi, prospek pertumbuhan ekonomi, kualitas institusi, dan stabilitas sistem keuangan," tuturnya.

Selama indikator-indikator tersebut tetap terjaga, penyesuaian bisnis yang dilakukan masing-masing bank asing tidak serta-merta mengurangi minat investor terhadap Indonesia.

"Oleh karena itu, penting membedakan keputusan bisnis suatu bank dengan persepsi terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan," kata dia.

3. Dampak terhadap likuiditas dinilai terbatas

ilustrasi likuiditas (pexels.com/Kaboompics.com)
ilustrasi likuiditas (pexels.com/Kaboompics.com)

Doddy memperkirakan dampak penyesuaian dana oleh sejumlah bank asing terhadap likuiditas perbankan nasional akan terbatas.

Dia menjelaskan, dana pihak ketiga (DPK) di Indonesia masih didominasi dana domestik. Selain itu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) maupun likuiditas industri perbankan masih berada jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Dengan kondisi tersebut, apabila ada penyesuaian pendanaan oleh beberapa bank asing, dampaknya diperkirakan lebih bersifat spesifik pada institusi yang bersangkutan, bukan terhadap industri perbankan secara keseluruhan.

"Apabila terjadi penyesuaian pendanaan oleh beberapa bank asing, pengaruhnya lebih bersifat spesifik pada institusi tertentu," paparnya.

4. Respons BI dan OJK dinilai sudah memadai

Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. (IDN Times/Hana Adi Perdana)
Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Doddy juga menilai langkah Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam merespons kondisi tersebut sudah memadai.

Menurutnya, BI memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar. Sementara itu, OJK terus memantau kondisi permodalan, kualitas aset, serta profil risiko perbankan melalui pengawasan berbasis risiko.

"Selain itu, koordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat respons kebijakan apabila tekanan meningkat. Selama koordinasi kebijakan tetap terjaga, stabilitas sektor perbankan Indonesia diperkirakan tetap kuat," ujar Doddy.

Ke depan, dia menilai pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan, meningkatkan kepastian regulasi, dan memperkuat koordinasi dengan BI maupun OJK agar iklim investasi tetap kondusif.

Selain itu, dia menyebut reformasi untuk memperdalam pasar keuangan, memperkuat tata kelola, mempercepat digitalisasi sektor keuangan, serta menjaga disiplin fiskal juga diperlukan untuk meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor.

"Yang tidak kalah penting adalah komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten, sehingga keputusan bisnis investor lebih didasarkan pada fundamental ekonomi daripada ketidakpastian informasi di pasar," kata Doddy.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More