Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tren Properti AS: Gen Z dan Milenial makin Tertinggal dari Boomers

Tren Properti AS: Gen Z dan Milenial makin Tertinggal dari Boomers
ilustrasi pintu depan rumah (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Tingkat kepemilikan rumah di AS didominasi baby boomer dengan 79,9 persen, sementara Gen Z dan milenial tertinggal jauh akibat harga tinggi dan akses pembiayaan yang makin sulit.
  • Kenaikan harga properti serta bunga KPR di atas 6 persen membuat generasi muda menunda membeli rumah karena beban cicilan dan uang muka yang semakin berat.
  • Milenial mulai memasuki fase potensial membeli rumah di usia sekitar 40 tahun, sedangkan Gen Z perlu lebih fleksibel memilih lokasi dan tipe hunian agar bisa masuk pasar properti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Punya rumah sendiri masih jadi salah satu target besar banyak anak muda, termasuk kamu mungkin juga begitu. Rumah sering dianggap sebagai simbol kestabilan finansial sekaligus investasi jangka panjang yang menjanjikan. Sayangnya, tren properti di Amerika Serikat menunjukkan bahwa generasi muda seperti Gen Z dan milenial justru makin tertinggal dibanding generasi baby boomer.

Jarak kepemilikan rumah antara generasi tua dan muda terlihat semakin lebar dari tahun ke tahun. Meski peluang tetap ada, jalan menuju rumah pertama terasa jauh lebih menantang dibanding zaman orangtua dulu. Kondisi ini membuat banyak anak muda harus memikirkan strategi baru agar tetap bisa punya hunian sendiri.

1. Baby boomer masih mendominasi kepemilikan rumah

ilustrasi lansia (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi lansia (pexels.com/MART PRODUCTION)

Data tahun 2025 menunjukkan bahwa baby boomer menjadi generasi dengan tingkat kepemilikan rumah paling tinggi di Amerika Serikat, yaitu mencapai 79,9 persen. Sementara itu, Gen X berada di angka 72,7 persen, milenial 55,4 persen, dan Gen Z dewasa hanya sekitar 27,2 persen. Angka ini memperlihatkan jarak yang cukup besar antara generasi muda dan generasi yang lebih tua.

Hal ini sebenarnya cukup masuk akal karena boomers sudah memiliki waktu jauh lebih panjang untuk menabung, membeli rumah, serta membangun aset. Mereka juga sempat menikmati masa ketika harga rumah masih jauh lebih terjangkau dibanding sekarang. Posisi itu membuat mereka lebih mudah menjaga stabilitas kekayaan melalui properti.

2. Harga rumah makin tinggi, akses makin sulit

ilustrasi perumahan
ilustrasi perumahan (pexels.com/Diego Ramirez)

Salah satu alasan terbesar Gen Z dan milenial sulit mengejar kepemilikan rumah adalah harga properti yang kini berada di titik sangat tinggi. Harga rumah terus naik, sementara pertumbuhan gaji gak selalu sejalan. Akibatnya, uang muka rumah terasa semakin berat untuk dikumpulkan.

Belum lagi suku bunga KPR yang sempat berada di bawah 3 persen pada 2020 kini umumnya bertahan di atas 6 persen sejak 2022. Kondisi ini membuat cicilan bulanan jadi jauh lebih mahal. Banyak calon pembeli akhirnya memilih menunda karena merasa belum cukup aman secara finansial.

3. Generasi muda membeli rumah lebih lambat dari orangtuanya

ilustrasi jual beli rumah (pexels.com/Kindel Media)
ilustrasi jual beli rumah (pexels.com/Kindel Media)

Menurut analisis dari Redfin, sekitar 57 persen orang berusia pertengahan 30-an saat ini sudah memiliki rumah. Angka itu masih lebih rendah dibanding orangtua mereka pada usia yang sama, yaitu sekitar 64 persen. Artinya, generasi sekarang memang membeli rumah lebih lambat dibanding generasi sebelumnya.

Bukan karena mereka gak mau punya rumah, tapi karena jalannya memang lebih rumit. Inflasi, ketidakpastian pekerjaan, tarif ekonomi, serta minimnya stok rumah baru ikut memperlambat keputusan membeli. Banyak orang akhirnya memilih fokus pada kestabilan karier dulu sebelum berani mengambil cicilan besar.

4. Perubahan fase hidup ikut memengaruhi keputusan membeli

ilustrasi proses melahirkan (pexels.com/Jonathan Borba)
ilustrasi proses melahirkan (pexels.com/Jonathan Borba)

Membeli rumah sering berkaitan dengan momen besar dalam hidup seperti menikah, punya anak, pindah karier, atau bahkan perceraian. Saat fase-fase ini datang lebih lambat, keputusan membeli rumah juga ikut tertunda. Inilah yang banyak terjadi pada Gen Z dan milenial saat ini.

Usia rata-rata pernikahan pertama kini mencapai 30,8 tahun untuk pria dan 28,4 tahun untuk perempuan, jauh lebih tinggi dibanding tahun 1980. Rata-rata perempuan juga memiliki anak pertama di usia 27,5 tahun, sementara pria menjadi ayah pertama di usia 31,5 tahun. Karena milestone hidup datang lebih lambat, usia pembeli rumah pertama juga ikut bergeser semakin tua.

5. Milenial masuk masa emas membeli rumah

ilustrasi beli rumah KPR (vecteezy.com/wichayada suwanachun)
ilustrasi beli rumah KPR (vecteezy.com/wichayada suwanachun)

Meski terlihat tertinggal, milenial sebenarnya sedang memasuki fase paling potensial untuk membeli rumah. Pada 2025, usia median pembeli rumah pertama bahkan mencapai rekor tertinggi, yaitu 40 tahun. Ini berarti banyak milenial yang kini mulai serius masuk pasar properti.

Rentang usia milenial pada 2026 berada di kisaran 30 sampai 45 tahun, fase ketika karier biasanya mulai lebih stabil dan pendapatan lebih kuat. Kesempatan membeli rumah pertama pun jadi lebih realistis. Tantangannya tetap besar, tapi peluang mereka masih lebih terbuka dibanding Gen Z yang masih berada di awal perjalanan finansial.

6. Gen Z harus lebih fleksibel soal pilihan rumah

ilustrasi rumah mungil (pexels.com/Melike Benli)
ilustrasi rumah mungil (pexels.com/Melike Benli)

Bagi Gen Z, membeli rumah kemungkinan besar akan membutuhkan lebih banyak kompromi. Mereka mungkin harus memilih rumah di pinggiran kota dibanding pusat kota, terutama jika bekerja secara remote. Pilihan rumah kecil atau rumah yang perlu renovasi juga menjadi opsi yang lebih masuk akal.

Strategi ini bukan berarti gagal, justru menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar. Banyak pembeli muda mulai sadar bahwa rumah pertama gak harus sempurna. Hal paling penting adalah bisa masuk ke pasar properti lebih dulu dan mulai membangun aset dari sana.

7. Transfer kekayaan besar bisa mengubah peta properti

ilustrasi orangtua (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi orangtua (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Fenomena besar lain yang sedang terjadi adalah Great Wealth Transfer, yaitu perpindahan aset dari generasi baby boomer ke generasi berikutnya hingga tahun 2048. Dalam proses ini, hampir 100 miliar dolar aset diperkirakan akan diwariskan kepada ahli waris, termasuk properti. Situasi ini bisa memberi peluang baru bagi generasi muda.

Banyak ahli waris kemungkinan akan menjual properti warisan lalu menggunakan hasilnya sebagai uang muka rumah pilihan mereka sendiri. Meski dampaknya terhadap pasar masih belum pasti, perubahan ini berpotensi menjadi salah satu pintu masuk baru menuju kepemilikan rumah. Situasi ini juga bisa membantu sebagian generasi muda yang selama ini kesulitan mengumpulkan dana awal pembelian properti.

Melihat tren properti di Amerika Serikat, jelas bahwa Gen Z dan milenial menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding baby boomer. Harga rumah yang tinggi, bunga KPR mahal, serta perubahan gaya hidup membuat perjalanan membeli rumah terasa lebih panjang. Meski begitu, bukan berarti mimpi punya rumah harus ditinggalkan.

Kuncinya ada pada strategi, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar. Kadang kamu memang harus menyesuaikan ekspektasi sebelum mencapai tujuan besar itu. Rumah pertama mungkin gak langsung ideal, tapi tetap bisa menjadi langkah awal menuju kestabilan finansial jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More